KALTIMPOST.ID-Cahaya lilin menyala di Teras Samarinda, Minggu (31/8) malam. Ratusan pengemudi ojek online (ojol) berkumpul, berdoa, dan merenung.
Malam itu, mereka mengenang rekan seprofesi yang menjadi korban tragedi kericuhan aksi di Jakarta dan Makassar.
Ketua Bubuhan Driver Gojek Samarinda (Budgos) Ivan Jaya berdiri di depan kerumunan. Dia menyebut nama Affan Kurniawan.
Driver ojol yang hanya mencari nafkah itu meregang nyawa setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
“Dia tidak ikut aksi. Sama seperti kita, hanya bekerja. Nyawanya tidak tertolong meski sempat dirawat di RS Cipto Mangunkusumo,” ucap Ivan.
Duka tak berhenti di situ. Nama Umar Amirudin juga disebut. Driver ojol itu jadi korban pengeroyokan, diduga dilakukan aparat saat kericuhan di Pejompongan, Kamis (28/8).
Umar sempat dirawat intensif di RS Pelni, Jakarta Barat. Kini ia sudah sadar, meski masih menahan sakit.
“Secara pribadi kita tidak kenal. Tapi kita satu profesi, satu nasib. Itu yang membuat kita berkumpul malam ini,” lanjut Ivan.
Para ojol kian terpukul setelah mendengar kabar ada rekan lain yang terkena tembakan peluru karet tepat di dahi saat kericuhan di Jakarta.
Sementara di Makassar, seorang driver meregang nyawa karena diduga dipukuli lantaran dikira intel pada Jumat (29/8).
“Dua meninggal, dua kritis, dan entah berapa banyak lagi di daerah lain. Kita tidak tahu pasti,” kata Ivan.
Malam itu, tak ada orasi keras. Tak ada bendera organisasi. Hanya doa dan seruan bersama: “Jangan lindas kami lagi," tegasnya.
Ivan mengatakan, aksi ini lahir dari rasa solidaritas. Tidak ada yang mengomando, semua bergerak dengan gotong royong.
“Itu penghormatan terakhir untuk saudara-saudara kita. Mereka pahlawan ojol Indonesia. Semoga jadi pengingat untuk semua dan tidak ada korban lagi,” tutupnya. (rd)
EKO PRALISTIO
pralistioeko@gmail.com
Editor : Romdani.