“Kami mohon maaf karena pasti masih banyak kekurangan. Bismillah, kami akan terus memperbaiki. Semoga Allah SWT melindungi dan memberkahi Indonesia. Jangan pernah lelah mencintai negeri ini,” tulisnya.
Sri Mulyani juga berterima kasih atas doa, dukungan, dan simpati masyarakat di tengah musibah tersebut. Menurutnya, risiko seperti ini memang melekat pada jabatan sebagai pejabat negara, apalagi ketika kebijakan yang diambil tidak sepenuhnya disetujui publik.
Ia menegaskan pembangunan bangsa adalah perjuangan yang tidak ringan. Semua kebijakan dibuat melalui proses panjang, melibatkan pemerintah, DPR, DPD, hingga masyarakat.
Jika ada yang keberatan, ia mengingatkan jalur hukum tersedia, mulai dari judicial review di Mahkamah Konstitusi hingga pengadilan.
“Demokrasi Indonesia memungkinkan kritik, gugatan, bahkan perbedaan pandangan. Namun semua itu harus ditempuh dengan cara beradab, bukan dengan intimidasi, anarki, atau kekerasan,” tegasnya.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu memastikan dirinya berkomitmen menjalankan amanah dengan jujur, profesional, transparan, dan menjauhi praktik korupsi. Semua masukan dari publik, baik kritik maupun sindiran, akan dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kinerja, khususnya di Kementerian Keuangan.
Di akhir pernyataannya, Sri Mulyani mengajak masyarakat tetap bergandengan tangan membangun Indonesia. Demonstrasi diperbolehkan, namun tidak boleh berubah menjadi aksi menjarah, membakar, atau melukai.
“Mari kita rawat Indonesia dengan cara-cara yang bermartabat, bukan dengan kebencian dan perpecahan,” tutupnya.
Editor : Uways Alqadrie