KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Perhatian pemerintah kepada posyandu perlu ditingkatkan lagi. Banyak kader tidak mendapatkan reward yang baik, hingga fasilitas tak terawat. Padahal kehadirannya cukup penting sebagai gara terdepan dalam melayani kesehatan masyarakat, utamanya anak-anak dan ibu.
Tiga tahun sudah bangunan Posyandu Sari Asih di RT 40, Gang Ar Rohman, Baru Ulu, Balikpapan Barat itu tak digunakan. Kondisi bangunan sudah lama rusak.
Atapnya bocor dan kondisi dalam bangunan juga sudah terlihat kumuh. Meski beberapa kali dilakukan pengajuan untuk perbaikan, hingga kini belum mendapat respons signifikan.
“Bangunan posyandu kami sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi sejak hampir tiga tahun yang lalu. Kami dengar tahun lalu sudah diajukan perbaikan, namun hingga sekarang belum ada kabar dari pihak terkait. Dulu juga mau ada upaya perbaikan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN (kuliah kerja nyata, Red) namun batal," ungkap Alif, seorang kader Posyandu Sari Asih kepada Kaltim Post.
Kegiatan utama Posyandu Sari Asih tetap berjalan meski dengan sarana terbatas. Kader Posyandu melakukan pemberian vitamin A, obat cacing serta penimbangan anak secara gratis di rumah Alif yang juga tak jauh dari lokasi posyandu. Namun, penimbangan untuk remaja belum dilaksanakan secara rutin, meskipun kadang ada pemberian vitamin penambah darah.
"Jika anak-anak tidak datang ke lokasi, vitamin itu kami yang antarkan ke rumah mereka," ujarnya. Dikatakan Alif, kegiatan Posyandu dilakukan setiap tanggal 10 tiap bulannya. Namun jadwal ini bisa berbeda tergantung ketersediaan tenaga kesehatan dari puskesmas.
"Kadang kami mendapatkan pendampingan dari bidan atau dokter, tapi nakes yang datang berbeda-beda setiap bulan karena kesibukan mereka, jadi tergantung dari nakesnya lagi,” ucap Alif.
Kader Posyandu Sari Asih berjumlah lima orang, namun hanya tiga yang aktif melakukan kegiatan penimbangan. Kondisi ini semakin diperberat dengan minimnya kesejahteraan kader. Mereka tidak mendapatkan gaji atau tunjangan rutin tiap bulan.
“Kami hanya mendapatkan insentif sekitar Rp 50.000 per bulan. Kalau kami buat laporan bulanan atau triwulan, bisa saja menerima Rp 100.000 sampai Rp 150.000. Dana untuk PMT (Pemberian Makanan Tambahan) biasanya diberikan oleh Pak RT, sekitar Rp 50.000 sampai Rp 100.000 tergantung menu yang disajikan," bebernya.
Alif sangat berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, maupun melalui corporate social responsibility (CSR), atau lembaga lain untuk membantu perbaikan bangunan Posyandu agar dapat digunakan kembali.
"Kami biasa dapat pesan melalui WhatsApp jika ada penimbangan atau imunisasi, bukan di Posyandu tapi di rumah kader. Dan tidak ada diminta bayar apapun. Dulu sempat pas anak pertama itu ke Posyandu, cuma kondisinya panas dan pengap juga mana atap bocor kan, kita takut juga kalau datang ke Posyandu bila kondisi bangunannya rusak gitu," kata Rohani, salah seorang warga RT 40. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo