KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Posyandu tidak hanya sekadar tempat menimbang bayi dan balita. Di Posyandu Bunda Bakti, Kelurahan Bantuas, Palaran, kegiatan bulanan juga diisi dengan pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal. Variasi menu itu sekaligus menjadi sarana edukasi gizi untuk para orang tua.
Ketua Kader Posyandu Bunda Bakti, Kameliya, mengatakan bahwa setiap bulan pihaknya berupaya menghadirkan PMT dengan menu berbeda. “Iya setiap bulan. Variasi, kan sekarang untuk PMT itu lebih ditekankan ke panganan lokal ya. Enggak boleh lagi ngasih yang kayak makanan kemasan. Sekarang ini harus yang diolah,” ujarnya.
Menurutnya, pemilihan menu bukan sekadar memberi makanan gratis, tapi ada tujuan lain yang lebih penting. “Jadi kalau makanan olahan itu kan untuk mengedukasi ibu balitanya. Maksudnya itu nanti si ibu ini bisa meniru. Oh, seperti ini loh yang harus aku buat untuk anakku,” tutur perempuan yang biasa dipanggil Kamel itu.
Menu yang biasa disajikan pun beragam, mulai dari makanan berat hingga camilan sehat. “Biasanya kan bubur kacang hijau, nanti kadang nasi kuning, kadang bubur ayam. Nanti bulan depannya misalnya kita mau bikin yang snack, misalnya kayak puding, buah," tambahnya.
Buah menjadi salah satu sajian wajib karena mudah diperoleh dan bernilai gizi tinggi. PMT rutin juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Orang tua yang membawa anak ke posyandu tak hanya pulang dengan informasi kesehatan, tapi juga mendapat inspirasi menu sehat yang bisa dipraktikkan di rumah.
Selain untuk gizi, variasi PMT terbukti membuat kegiatan posyandu lebih hidup. Anak-anak senang dengan makanan yang disajikan, sementara ibu-ibu merasa mendapat manfaat nyata dari kehadiran posyandu.
Program itu juga berjalan berkat dukungan dana corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan sekitar serta alokasi Pro Bebaya. Dana tersebut dialokasikan untuk membeli bahan makanan, perlengkapan, hingga kebutuhan mendesak dalam pelaksanaan kegiatan.
Kamel mengakui, pengelolaan dana harus kreatif karena jumlahnya terbatas. Namun, keterbatasan itu justru memacu kader untuk tetap berinovasi. “Ya muter aja dananya. Kadang kalau dari CSR itu kan enggak langsung dapat. Jadi ada dana talangan dulu dari Pro Bebaya. Nanti setelah laporan, baru cair lagi,” ungkapnya.
Dengan semangat gotong royong dan variasi menu lokal, Posyandu Bunda Bakti membuktikan bahwa edukasi gizi bisa dilakukan dengan cara sederhana, menyenangkan, dan bermanfaat langsung bagi keluarga balita. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo