KALTIMPOST.ID, KUTAI KARTANEGARA – Upaya menurunkan angka stunting di Desa Loa Duri Ilir, Kutai Kartanegara terus digenjot. Salah satu bentuk nyata adalah pemberian makanan tambahan berupa telur bagi balita dan ibu hamil. Program itu berjalan rutin setiap bulan di tujuh posyandu desa.
Pendanaan program itu sebagian besar bersumber dari Dana Desa (DD) yang memang diatur penggunaannya untuk intervensi stunting.
“Kalau pendanaannya itu pakai dana desa (DD). Kadang kita kalau misalnya kekurangan uang untuk operasional atau segala macam, kita juga ada pihak ketiga. Ada dana dari CSR juga,” jelas Sunarti, Kader Pembangunan Manusia (KPM) Loa Duri Ilir.
“Cuma kalau untuk dana desa sendiri itu memang untuk penanganan stunting, kalau saya tidak lupa sekitar 20 atau 30 persen memang dana desa itu untuk penanganan stunting,” sambungnya.
Sebagai KPM, perempuan yang karib disapa Narti itu memiliki tugas pokok melakukan pendataan, edukasi, serta memastikan penanganan stunting berjalan sesuai prosedur.
Bisa dibilang garda terdepan desa dalam urusan pencegahan stunting. Merupakan warga desa yang dipercaya untuk mendampingi masyarakat sekaligus menghubungkan layanan kesehatan, pemerintah, dan keluarga.
Tugasnya bukan hanya mendata, tapi juga memastikan program penting seperti 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) benar-benar sampai ke sasaran.
“Bisa dibilang setiap jadwalnya posyandu saya itu ikut turun. Kalau misalnya ternyata nih ada anak yang terindikasi stunting, kita nanti koordinasi sama puskesmas. Apa yang harus kita lakukan? Lihat kebutuhannya,” ungkapnya.
Menurutnya, pemberian telur dipilih karena lebih tahan lama dan memberi manfaat gizi yang lebih baik dibandingkan kue atau sekadar bubur.
“Awalnya itu kita sempat juga ngasih semacam kue kayak gitu. Tapi kita lihat di lapangan itu anak-anak ini kue kadang dia makan dan kadang enggak dimakan. Kalau telur ini, saya juga sudah nanya-nanya ke orangtua bisa untuk beberapa hari anak itu dapat protein,” jelasnya.
Rutin setiap bulan, setiap anak yang datang ke posyandu akan mendapat jatah telur. Satu anak menerima hingga 10 butir telur mentah untuk diolah di rumah. Program juga menyasar ibu hamil yang datang memeriksakan kandungan.
Desa Loa Duri Ilir bahkan sempat meraih prestasi nasional. “Sekadar informasi kalau desa kami ini kan pernah menang juara tiga nasional untuk ketahanan pangan. Jadi memang unggulannya di produksi telur. Ada telur omega, juga ada telur biasa," tutur Narti.
Meski begitu, pelaksanaan di lapangan tidak selalu mudah. Tidak semua posyandu menerima jatah 10 butir telur per anak. “Kadang kami variasi nanti bulan ini ayam, bulan depan telur. Ayamnya mentah juga. Jadi bisa diolah sesuai selera keluarga. Jadi ada posyandu yang orangtuanya request ayam, ada yang telur. Kita sediakan,” tambahnya.
Narti menegaskan, keberhasilan program itu adalah bentuk sinergi antara desa, puskesmas, dan kader posyandu. “Kita fokus ke pendanaannya saja. Kalau untuk takarannya nanti apa saja yang mau dikasih, itu rekomendasi dari puskesmas misal untuk yang terindikasi stunting. Misal rekomendasi dokter spesialis butuh susu, disediakan. Butuhnya berapa hari untuk pemberian makan tambahan (PMT),” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo