KALTIMPOST.ID, KUTAI KARTANEGARA – Angka stunting di Desa Loa Duri Ilir berangsur terdeteksi lebih banyak. Namun menurut Kader Pembangunan Manusia (KPM), hal itu bukan berarti program gagal. Sebaliknya, semakin banyak kasus teridentifikasi menandakan jangkauan posyandu semakin luas.
“Loh, kok jumlah stuntingnya masih agak banyak? Padahal sebetulnya jumlah stuntingnya banyak ini bukan karena yang kemarin itu enggak berhasil kita tangani, tapi karena kita berhasil menjangkau. Jadi yang enggak biasa ke posyandu itu keluar semua setelah diedukasi, mulai kelihatan,” jelas Sunarti, KPM Loa Duri Ilir.
KPM sendiri bertugas menjadi ujung tombak desa dalam penanganan stunting. Mulai dari mendata anak, melakukan sosialisasi ke orang tua, hingga berkoordinasi dengan posyandu dan puskesmas untuk penanganan medis serta gizi.
"Kita enggak fokus ke banyak atau tidaknya jumlah stunting, kita fokus ke penanganan. Karena kalau stunting terdeteksi misalnya anaknya sudah umur 2 tahun, itu memang agak susah. Makanya utamakan di ibu hamil. Intervensi di situ. Berusaha jangkau semua,” katanya.
Tantangan terbesar, menurutnya ada pada pola pikir orang tua. “Selama ini stunting itu kadang-kadang bukan karena anak itu enggak mampu beli makanan atau anak itu dari keluarga tidak mampu, enggak. Karena sejauh ini yang kami lihat itu pola pikir orang tua,” ujarnya.
Dia mencontohkan masih ada orang tua yang menganggap enteng kesehatan anak. Bahkan diakui, ada beberapa anggapan orangtua bahwa tidak masalah pertumbuhan anak tidak di garis hijau asal tetap aktif. Padahal, itu pola pikir yang salah. Itu yang menurutnya harus diperbaiki.
Untuk itu, pihak desa rutin melakukan sosialisasi. “Kita adakan sosialisasi, kita kumpulkan di desa dan setelah sosialisasi juga kami kasih ya telur itu tadi,” tutur perempuan yang dipanggil Narti itu.
Selain edukasi, KPM juga membuat inovasi agar masyarakat tertarik datang ke posyandu. “Inovasi-inovasi sudah sering. Kita pernah adakan doorprize gitu. Tapi ternyata peningkatannya enggak terlalu banyak. Justru ketika program pemberian telur 10 butir atau ayam setengah ekor ke anak rutin tiap bulan itu yang berhasil,” jelasnya.
Menurut dia, kesadaran orang tua tetap kunci keberhasilan. “Harapan saya masyarakat itu lebih banyak lagi yang antusias. Karena kita ini ya sebagai KPM sebagai pemerintah desa kan sudah berupaya semaksimal mungkin. Kalau tambah banyak yang sadar, kita merasa kerja keras kita ini dihargai,” ujarnya.
Dia menambahkan, selama ini dukungan pendanaan tidak pernah menjadi kendala. “Kalau masalah pendanaan atau pemerintah desa itu aman semua. Jadi tinggal bagaimana orang tua sadar pentingnya memeriksakan tumbuh kembang bayi-balita,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo