KALTIMPOST.ID, JAKARTA- Zetro Leonardo Purba, 40 tahun, Penata Kanselerai Muda di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Lima, Peru, meregang nyawa di jalanan Lince, salah satu distrik di ibu kota Peru.
Tiga peluru yang ditembakkan orang tak dikenal pada 1 September 2025 mengakhiri perjalanan karier diplomatiknya yang baru lima bulan dijalani di negeri Andes itu.
Zetro tewas saat bersepeda bersama istrinya, hanya beberapa meter dari rumah dinas. Sang istri selamat, tetapi Zetro tak tertolong meski sempat dilarikan ke Klinik Javier Prado. Keluarga memakamkan jenazahnya di TPU Sari Mulya, Tangerang Selatan, sepuluh hari kemudian.
Kepolisian Peru kini memastikan, lima orang ditangkap terkait kasus ini. Mereka diketahui bagian dari geng kriminal lintas negara, Los Maleantes del Cono.
Tiga di antaranya warga Venezuela, dua lainnya asal Kuba. Identitas dua pelaku sudah diumumkan: Wilson Jose Soto Lopez alias El Primo, pengendara motor, dan Jaiquer Antonio Echenaquzia Quijada alias Malaco, diduga eksekutor penembakan.
Polisi menyita sepeda motor dan revolver yang dipakai membunuh Zetro. Senjata itu, menurut hasil uji balistik, juga digunakan beberapa jam kemudian dalam serangan lain di San Juan de Miraflores.
Para tersangka ditangkap di sebuah hotel di kawasan San Martin de Porres.
Kematian Zetro mengguncang Kementerian Luar Negeri. Menteri Luar Negeri Sugiono memimpin upacara penghormatan terakhir di Gedung Pancasila, Jakarta. “Beliau adalah diplomat yang rendah hati, penuh dedikasi,” kata Sugiono.
Zetro, lulusan jalur diplomasi yang sudah 16 tahun mengabdi, sebelumnya ditempatkan di Konsulat Jenderal RI Melbourne, Australia. Bagi keluarganya, ia pribadi sederhana yang tak pernah lepas dari panggilan telepon harian dengan orang tua.
Tragedi ini menyoroti kerentanan para diplomat di negara dengan tingkat kriminalitas tinggi. Di balik duka keluarga, ada juga diplomasi yang diuji: bagaimana negara memastikan perlindungan bagi wakilnya di luar negeri.
Editor : Uways Alqadrie