KALTIMPOST.ID, Nepal baru saja mencatat sejarah politik yang tak biasa. Di tengah gelombang protes besar menentang korupsi, ribuan anak muda memilih Discord sebagai arena politik baru mereka.
Dari platform digital itu, lahirlah keputusan mengejutkan, Sushila Karki (73), mantan Ketua Mahkamah Agung, terpilih sebagai perdana menteri interim.
Karki kini resmi menjadi perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah negeri Himalaya tersebut.
Ia akan memimpin pemerintahan sementara usai tumbangnya kabinet KP Sharma Oli, yang lengser setelah gelombang unjuk rasa berdarah.
Baca Juga: Apa Isi Deklarasi New York? 142 Negara Sepakat, Israel dan AS Tetap Tolak
Discord Jadi Alat Politik
Dalam pertemuan daring yang diikuti lebih dari 5.000 anggota komunitas muda "We Nepali Group", suara bulat mendukung Karki.
Pemungutan suara kilat itu kemudian viral, disebut sebagai simbol perlawanan generasi muda terhadap sistem lama yang sarat korupsi dan nepotisme.
Seorang anggota komunitas menulis di Discord:
“Kami ingin pemimpin yang bersih, berani, dan mewakili masa depan Nepal. Nama Sushila Karki muncul tanpa ragu-ragu.”
Baca Juga: Prompt AI Pemain Bola: Cara Bikin Foto Jadi Pemain MU di Old Trafford dengan Google Gemini
Sosok Hakim yang Berani
Karki bukanlah wajah baru di Nepal. Pada 2016, ia sempat mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat Ketua Mahkamah Agung.
Kariernya penuh dengan keputusan berani, termasuk menjatuhkan vonis terhadap Jay Prakash Gupta, Menteri Teknologi Informasi kala itu, yang menjadi menteri aktif pertama di Nepal yang dipenjara karena korupsi.
Meski sering berseberangan dengan eksekutif, Karki tidak gentar. Pada 2017, ia bahkan sempat menghadapi mosi pemakzulan dari parlemen karena dianggap terlalu ikut campur.
Kepada Himalayan Times, ia pernah berkata, “Takdir saya memang menjadi hakim. Saya percaya keadilan harus berjalan, meski harus berhadapan dengan siapa pun.”
Baca Juga: Prompt AI Gundam RX-78-2, Tren Foto Viral yang Bikin Kamu Serasa Pilot Mecha Legendaris
Simbol Reformasi
Pelantikan Karki kini dilihat sebagai simbol perlawanan sekaligus harapan. Generasi muda Nepal, terutama Gen Z, menganggap kehadirannya sebagai titik balik politik.
Dari sisi akademik, Karki juga memiliki rekam jejak panjang. Ia menempuh gelar masternya di Banaras Hindu University (BHU), India, pada 1975.
Tentang pengalaman itu, ia pernah bercerita:
“BHU memberi saya fondasi akademik dan kesempatan belajar di luar kelas. Saya pernah ditawari menempuh PhD di sana, tapi hidup menuntun saya ke jalur hakim.”
Nepal sendiri dijadwalkan menggelar pemilu definitif pada 5 Maret 2026. Hingga saat itu, Karki dipercaya mengendalikan negara. ***
Editor : Dwi Puspitarini