Mengendarai mobil di Benua Amerika, tak cukup hanya bisa menginjak pedal gas dan mengarahkan lengkung kemudi saja. Lebih dari itu, ternyata perlu kejelian, keberanian dan pemikiran yang tak biasa. Melawan normalitas berkendara di Nusantara.
WIJI WINARKO, Washington DC
NEW York sudah menjelang tengah hari. Terlalu sibuk menata barang bawaan, mengurus administrasi keluar kamar, membuat kami harus terburu-buru. Karena seharusnya, bukan hanya check out.
Saya dan Direktur Kaltim Post Erwin Dede Nugroho harus menuju kantor cabang Avis, salah satu perusahaan penyedia rental kendaraan terbesar di Amerika dan Kanada untuk mengambil pesanan kendaraan, yang akan membawa kami meninggalkan New York menuju Washington DC. Dari New Yorker Hotel di Kawasan Manhattan itu, kami bergegas menuju 68 E 11th St.
“Jam berapa Anda akan berjanji mengambil kendaraan. Kalau jam 11 perlu keajaiban untuk bisa sampai di sana tepat waktu. Jam ini lalu lintas di New York sangat sibuk dan padat.
Sebaiknya, kita kontak lebih dulu untuk memberitahu soal keterlambatan Anda,” ungkap sopir taksi berkebangsaan Maroko, menawarkan bantuan.
Slot waktu pengambilan kendaraan, ternyata tak bisa sembarangan. Setelah memastikan aman dengan keterlambatan waktu tiba, perlahan kami menyusuri blok demi blok megapolitan Amerika itu.
Sesekali kami bercerita dengan sang sopir. Sambil memintanya menebak asal kami berdua hanya dengan melihat tampilan fisik atau dialek bahasa.
Saking asyiknya bercerita, sang sopir yang tak mengaktifkan peta online-nya itu tersadar, jalan 11 tempat yang kami tuju terlewat.
“Maaf saya kelewatan. Gang Anda seharusnya ada di belakang dan berada di sisi Seberang jalan. Tapi tak jauh setelah melewati gereja, belok kiri dan Anda akan menemukannya,” terangnya penuh maaf.
Setelah mengurus administrasi dan mengecek kelengkapan dokumen sesuai pesanan sewa, meminta fotokopi paspor dan SIM, serta menggesek kartu kredit, seorang karyawan perempuan menjelaskan beberapa aturan termasuk menjelaskan kontak darurat, jika di perjalanan kami menemukan kesulitan.
Sekaligus memastikan, mobil akan dikembalikan di Washington, tepatnya di Bandara Internasional Dulles.
Baca Juga: BK Porprov Panahan Kaltim 2026: 241 Atlet Bertarung di Samarinda, Pemanasan Menuju Kejurnas Bali
Niat saya menjadi sopir cadangan, akhirnya tak terwujud. SIM internasional yang saya urus secara online di Korlantas Polri tak bisa terpakai, lantaran saya tak membawa kartu kredit, yang jadi syarat utama penyewa kendaraan maupun sopir tambahan di Amerika.
“Cukuplah jadi navigator di sebelah saya. Kalaupun terpaksa, nanti di Maryland saja. Kalau perlu ke rute-rute dekat menyetirnya,” terang Erwin melihat raut kecewa saja.
Artinya, selama perjalanan hampir 360 kilometer dari New York menuju Maryland, atau sekitar 4 jam perjalanan itu kami hanya punya satu pengemudi, tanpa ada pengganti.
Ternyata, Ford Expedition Tremor, mobil keluaran 2025 dengan harga di atas Rp 1 miliar itu, mobil bongsor. Tak sekadar berpenampilan gahar, mobil itu seperti kapal darat bagi kami.
Pantaslah, karena dengan kami berenam dan banyak koper serta bawaan yang ada, hanya mobil berukuran seperti ini yang muat menampung.
“Bismillah, semoga lancar perjalanan kita,” tegas Erwin kepada saya saat mulai menginjak gas, meninggalkan Avis memulai petualangan darat kami.
Meski bukan kali ini saja menyetir di luar negeri, setelah sebelumnya berkendara di Eropa, Erwin mengaku sedikit gugup. Bukan karena posisi stir kendaraan di sebelah kiri, membawa mobil berukuran besar di Amerika perlu keberanian, kejelian, dan sedikit kenekatan.
“Saya kurang terbiasa dengan knob persneling yang diputar di sebelah kanan ini. Tangan kiri saya selalu mencari tongkat persneling. Bodi mobilnya juga terlalu besar. Bawa mobil ini serasa baru bisa nyetir,” katanya.
DARI MANHATTAN KE MARYLAND
Setelah menjemput empat anggota rombongan yang menunggu di hotel, kami bergegas meninggalkan New York.
Keluar dari Manhattan seperti memutar kunci lain, terowongan panjang, jembatan besar, lalu akhirnya tol panjang yang lempeng.
Mobil melaju dan kota mulai menjauh. Gedung-gedung pencakar langit mulai hilang, digantikan pepohonan musim panas.
Ford Expedition Tremor bukan mobil kecil. Mobil ini besar dan nyaman punya bagasi besar yang cukup menelan semua koper. Fitur-fiturnya canggih, navigasinya online, kamera pemantau di samping kiri dan kanan, depan belakang sampai 360 derajat.
“Satu yang kurang, mobil boleh gaya Amerika. Musiknya harus Indonesia,” ucap Wadir Kaltim Post Supriyono, sambil segera menyetel ponselnya, menghubungkan dengan mobil dan memutar musik kesukaannya. Irama koplo yang menghentak akhirnya memecah suasana.
Membaca penunjuk peta online, jarak dari New Yorker Hotel ke Cheverly, Maryland sekitar 221 mil. Perlu waktu 3 jam 56 menit untuk tiba di Cheverly jika kami langsung tak mampir.
“Tapi kita akan mampir di Philadelphia. Kita mau makan dulu di restoran Indonesia. Kangen sudah dengan makanan Nusantara,” jelas Erwin kepada kami semua, langsung disambut suka cita.
Menyusuri jalan lebar dengan rintik gerimis yang sesekali menderas, mobil kami pacu dengan kecepatan rata-rata 50 mil per jam.
Sambil jalan, kami mulai melihat panel penunjuk jalan. Tak akrab dengan satuan mil dan feet, kami mencoba menghitung konversinya menjadi kilometer dan meter.
“Supaya kita enak mengira-ngira jaraknya. Membaca peta dengan satuan mil dan feet ini bisa menyesatkan kalau tak terbiasa,” ungkap saya.
Kalimat itu akhirnya terbukti dan beberapa waktu perjalanan berikutnya. Lantaran salah mengira-ngira, kami kebablasan mengambil belokan, atau memilih perlintasan jalur ton maupun interstate selama berkendara.
“Tak cukup bisa naik mobil saja. Baca peta ternyata ada ilmunya ya. Karena jalurnya bukan cuma satu dua saja, bisa lebih dari 10 lajur dan ruwet. Tumpuk menumpuk dan bikin mumet,” ungkap Direktur Balikpapan Pos Ajid Kurniawan.
Melintasi jalan raya di Amerika membuat kami terpana. Karena sebagian jalur lebar-lebar itu ternyata bukan tol berbayar. “Ada jalur khusus untuk berbayar, ada yang gratis.
Padahal sebelahan saja. Bedanya apa ya. Coba di Indonesia seperti ini. Jalanan lebar-lebar tapi gak bayar,” ungkap Supriyono penuh tanya.
Asyik ngobrol, kami lupa saat melintas jalur tol berbayar. Karena tak tahu harus membayar pakai apa. “Pasti bisa pakai tunai juga,” jelas Erwin mencoba menenangkan kami.
Seingat saya, saat di kantor Avis si karyawan perempuan sempat menjelaskan, untuk pembayaran kartu tol otomatis tinggal menggerakan kotak di kaca dashboard kemudi.
Saya pun mencarinya. Ternyata menempel sebuah kotak semacam modul otomatis. Setelah mengutak-atik, ternyata cara kerjanya cukup mudah. Saya cukup menggeser kotak itu ke bawah, dan kotak terbuka.
Kotak pembayaran tol otomatis di mobil Amerika disebut sebagai transponder tol elektronik atau OBU (On-Board Unit). Umumnya menggunakan teknologi Radio Frequency Identification (RFID).
Di mobil kami ini. Menggunakan salah satu sistem yang paling terkenal adalah E-ZPass. Sistem itu digunakan di banyak jalan tol dan jembatan di wilayah timur laut Amerika Serikat.
Sistem ini secara otomatis mencatat penggunaan tol dan memproses pembayaran dari rekening pengguna.
“Belajar memang bisa di mana saja. Itu gunanya kita pilih darat dan sewa mobil. Bisa menambah ilmu,” terang Ajid lagi.
Rupanya hal sedetail itu sudah dipikirkan penyedia layanan sewa kendaraan. Itu sebabnya, setiap penyewa harus punya kartu kredit.
Penyewa juga tak banyak diminta syarat macam-macam. Yang penting ada kartu kredit. Sehingga semua risiko yang mucul saat menggunakan kendaraan, bisa diklaim lewat jaminan kartu kredit. (rd)
Editor : Romdani.