Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Harapan Baru Menyudahi Krisis Air Bersih di Batu Cermin, Samarinda Utara: Unmul Tentukan Titik Bor, Manfaatkan Sinyal Alami Bumi dan Atmosfer

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Jumat, 19 September 2025 | 10:20 WIB

 

1. Tim Geofisika Universitas Mulawarman bersama warga memperhatikan hasil pemetaan bawah tanah menggunakan alat Audio Domain Magnetotelluric (ADMT).
1. Tim Geofisika Universitas Mulawarman bersama warga memperhatikan hasil pemetaan bawah tanah menggunakan alat Audio Domain Magnetotelluric (ADMT).

KALTIMPOST.ID-Air bersih masih jadi persoalan utama warga Batu Cermin, Samarinda Utara. Jauh dari layanan PDAM dan sulit menggali sumur bor di tanah karst, warga bertahun-tahun mengandalkan air hujan dan membeli air mahal.

***

LANGKAH kaki mahasiswa dan dosen Geofisika Universitas Mulawarman (Unmul) terlihat sibuk di antara jalan berbatu dan semak belukar kawasan Batu Cermin, Kelurahan Sempaja Utara. Mereka menggelar kabel, menancapkan elektroda kecil ke tanah, lalu menatap layar alat berwarna oranye yang menampilkan data bawah permukaan.

Di sekitar mereka, warga berkerumun dengan penasaran. Bagi masyarakat setempat, apa yang tampak seperti rangkaian kabel dan angka-angka itu adalah harapan baru untuk keluar dari krisis air bersih yang sudah bertahun-tahun membelenggu.

Air bersih di Batu Cermin bukan sekadar kebutuhan, melainkan perjuangan sehari-hari. Jarak rumah yang berjauhan membuat saluran PDAM sulit menjangkau, sementara tanah dan bebatuan karst yang keras menjadikan sumur bor hampir mustahil dibangun.

Banyak keluarga hanya bisa mengandalkan air hujan yang ditampung saat musim hujan, atau membeli air dengan harga mahal ketika musim kemarau datang. “Kalau ada titik bor yang tepat, kami tidak perlu lagi mengandalkan air hujan atau membeli air dengan harga mahal,” ujar Yudi, Ketua Karang Taruna Sempaja Utara. Di balik permukaan yang kering, sebenarnya kawasan karst seperti Batu Cermin menyimpan potensi besar.

Air yang meresap cepat ke celah batu kapur berkumpul di rongga bawah tanah, membentuk cadangan alami yang jarang disadari. Potensi inilah yang coba dipetakan oleh tim dosen dan mahasiswa Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unmul melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemanfaatan Air Tanah Melalui Penentuan Titik Bor di Zona Air Tanah Kecamatan Samarinda Utara.”

Pemandangan perbukitan karst Batu Cermin, lokasi pengabdian masyarakat tim Geofisika Universitas Mulawarman dalam pemetaan potensi air tanah.
Pemandangan perbukitan karst Batu Cermin, lokasi pengabdian masyarakat tim Geofisika Universitas Mulawarman dalam pemetaan potensi air tanah.

Dipimpin Rahmiati Munir, Djayus, Wahidah, dan Rahmawati Munir, kegiatan ini didanai melalui hibah DPPM BIMA. Mereka membawa teknologi elektromagnetik Audio Domain Magneto telluric (ADMT), sebuah metode modern yang memanfaatkan sinyal alami bumi dan atmosfer untuk membaca struktur bawah tanah. ADMT mampu mendeteksi lapisan batuan dan zona yang berpotensi menyimpan air, dengan cara cepat, efisien, dan ramah lingkungan.

“Metode ADMT ini memungkinkan kami menemukan titik air tanah lebih efisien, sehingga warga tidak perlu mencoba-coba mengebor di banyak tempat yang berisiko gagal,” jelas Rahmiati Munir di sela kegiatan.

Tidak hanya dosen dan mahasiswa yang terlibat, pemuda Karang Taruna Sempaja Utara ikut turun tangan. Mereka membantu membentangkan kabel, menancapkan sensor, hingga ikut menyimak pemaparan hasil survei. Suasana kolaboratif itu memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Hasil survei ini akan menjadi dasar penentuan titik bor air tanah yang lebih pasti, sehingga upaya pengeboran bisa dilakukan dengan keyakinan lebih tinggi. Selain survei teknis, tim Unmul juga mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan dan pelestarian air tanah, agar cadangan yang ada tidak cepat habis.

Program ini diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi hadir langsung di tengah masyarakat, menghadirkan solusi atas persoalan yang selama ini belum terpecahkan. Kehadiran tim Unmul di Batu Cermin memberi secercah harapan.

Di tengah kesulitan panjang warga untuk mendapatkan air bersih, kegiatan ini menandai langkah penting. Dari sekadar menunggu hujan atau membeli air, menuju upaya sistematis berbasis ilmu pengetahuan. Dengan sinergi akademisi, mahasiswa, dan warga, persoalan klasik air bersih di kawasan karst Samarinda Utara kini mulai menemukan jalannya. (*)

 

Editor : Muhammad Rizki
#UNMUL #MIPA #sempaja #samarinda utara #Geofisika #PDAM Samarinda #krisis air bersih #Universitas Mulawarman #samarinda #air tanah #batu cermin