Berdasarkan data pelacakan penerbangan yang dikutip dari AFP dan Al Arabiya, pesawat Netanyahu menghindari sejumlah wilayah udara Eropa yang tergabung dalam Statuta Roma—perjanjian yang memungkinkan eksekusi surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Alih-alih menempuh jalur langsung, pesawat Netanyahu melintasi Yunani dan Italia sebelum membelok ke selatan melewati Selat Gibraltar, lalu menyeberangi Samudra Atlantik.
Rute berliku ini diyakini sebagai langkah antisipasi bila terjadi pendaratan darurat di negara penandatangan Statuta Roma.
Seorang diplomat Prancis menyebut negaranya sejatinya mengizinkan Israel melintas. Namun Netanyahu tetap memilih jalur aman, mengingat ICC telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya terkait tuduhan kejahatan perang di Gaza.
Beberapa hari terakhir, sejumlah negara Eropa—termasuk Inggris, Prancis, Portugal, dan Kanada—mengumumkan pengakuan resmi atas negara Palestina.
Netanyahu menolak keras langkah itu dan menilainya sebagai kesalahan besar.
Media Israel melaporkan keputusan untuk mengubah rute terbang tak hanya didorong faktor teknis, tapi juga sebagai simbol perlawanan Netanyahu terhadap upaya internasional yang kian menekan Israel di panggung diplomasi.
Editor : Uways Alqadrie