KALTIMPOST.ID, Turap beton berdiri di tepi Mahakam, menggantikan deretan tepian lama yang mulai rapuh. Di sekitarnya, ruang publik baru, kios kuliner, dan penataan sungai disiapkan pemerintah untuk wajah baru Tenggarong.
Tepat 28 September 2025, usia Tenggarong genap 243 tahun. Kota yang berawal dari sebuah kampung bernama Tepian Pandan di tepi Sungai Mahakam itu, kini berdiri sebagai ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Perjalanan panjangnya tidak hanya menandai usia, tetapi juga identitas: dari kota raja pada masa Kesultanan Kutai, menjadi kota budaya di Kalimantan Timur, hingga kini bersiap menghadapi modernisasi dengan wajah baru.
Sejarawan publik Muhammad Sarip menjelaskan, pemindahan ibu kota Kutai oleh Sultan Aji Imbut pada 1782 menjadi titik balik lahirnya Tenggarong. Sebelumnya, pusat kerajaan berada di Kutai Lama lalu Jembayan, namun dua lokasi itu dinilai rawan dari sisi pertahanan.
“Tepian Pandan dipilih karena aman dari serangan, jauh dari muara, dan bebas dari ancaman banjir pasang yang kerap melanda Samarinda,” kata Sarip. Dari keputusan itulah lahir nama Tegaron, yang kemudian berevolusi menjadi Tenggarong.
Identitas sebagai kota raja membekas lama. Dari istana Sultan Aji Imbut, pemerintahan Kutai berlangsung hingga era Sultan Adji Mohamad Parikesit pada 1960. Setelah itu, sistem kesultanan berakhir, dan Tenggarong bertransformasi menjadi ibu kota kabupaten.
Bekas istana kemudian dijadikan Museum Mulawarman, tempat menyimpan koleksi budaya Kutai yang menjadi magnet wisata hingga kini. “Museum ini bukan sekadar bangunan, tetapi episentrum memori sejarah dan budaya Kutai,” ujar Sarip.
Visi Baru dari Perencanaan
Kini, dua setengah abad setelah dipilih sebagai kota raja, Tenggarong menghadapi arus pembangunan baru. Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Daerah Bappeda Kukar, Saiful Bahri, menuturkan bahwa arah pembangunan wilayah dibagi ke dalam tiga zona tematik.
Zona utara yang meliputi Kota Bangun, Muara Muntai, Muara Wis, Muara Kaman, hingga Tabang, diarahkan sebagai pusat pangan dan pariwisata berbasis ekowisata. “Lahan masih luas, potensi besar. Kami siapkan sebagai pusat produksi pangan sekaligus wisata berbasis alam,” katanya.
Zona timur, yakni Tenggarong Seberang, Sebulu, Muara Badak, Marangkayu, Anggana, dan Sanga-Sanga, diposisikan sebagai pusat industri hijau. Kedekatan dengan Samarinda membuat wilayah ini disiapkan mendukung superhub ekonomi di kawasan timur Indonesia.
“Industri hijau akan jadi andalan, bahan bakunya ditopang dari kawasan sekitar,” tambah Saiful. Zona selatan, terutama Loa Janan dan Loa Kulu, dirancang sebagai pusat-pusat perkotaan baru. Pertumbuhan ekonomi dari Samarinda, Balikpapan, dan IKN diperkirakan menekan wilayah ini. “Kami menyiapkan Jonggon, Jongkang, dan Wacana Hulu sebagai simpul perkotaan baru untuk perdagangan dan permukiman,” jelasnya.
Adapun Tenggarong diarahkan sebagai compact city dengan branding waterfront city. Saiful menjelaskan, Sungai Mahakam adalah kekuatan utama yang akan menjadi wajah kota. “Penataan turap, koridor sungai, dan kawasan kuliner akan diarahkan agar sungai menjadi pusat kehidupan kembali, bukan sekadar latar,” katanya.
Menjaga Identitas Budaya
Di tengah agenda modernisasi, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menegaskan perlunya menjaga akar sejarah. Ia mencontohkan posisi Erau yang pernah diperluas ke ranah internasional, namun pada 2022 dikembalikan ke kesakralannya.
“Tema tahun ini, menjaga marwah peradaban Nusantara, menandakan Erau bukan sekadar festival lokal, tetapi benteng identitas bangsa,” ujarnya. Ia menambahkan, warisan budaya tidak hanya berdimensi simbolis, tetapi juga ekonomi. “Kami berharap Erau dan warisan budaya Kutai mendorong perputaran ekonomi serta meningkatkan pendapatan UMKM di daerah,” ucapnya.
Saiful menekankan hal serupa dari sudut kebijakan. Identitas budaya, katanya, diperkuat lewat berbagai jalur: muatan lokal di sekolah, penguatan kelompok seni, hingga optimalisasi Gedung Ekraf. “Anak muda harus berkreasi, tetapi tetap berakar pada identitas lokal. Itulah yang kami dorong,” ujarnya.
Namun, Saiful juga mengakui peran Kesultanan perlu diperluas. Selama ini aktivitas kesultanan cenderung terpusat pada Erau. “Kami berharap ada aktivitas berkesinambungan sepanjang tahun agar kesultanan tidak hanya muncul saat seremoni,” ungkapnya. (*)
Editor : Muhammad Rizki