Mereka sempat dirawat di rumah sakit setelah mengalami gejala muntah bersama sejumlah siswa lain di sekolah yang sama.
“Masih dirawat sampai kemarin saya di Yogyakarta. Mudah-mudahan hari ini sudah membaik,” kata Mahfud, Rabu, 1 Oktober 2025.
Mahfud kemudian menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kasus keracunan MBG hanya 0,00017 persen dari total penerima program.
Menurutnya, persoalan yang menyangkut nyawa tak bisa dianggap remeh, berapa pun angka yang disebutkan.
“Sekecil apa pun, kalau sudah soal nyawa, itu harus menjadi perhatian serius,” tegas Mahfud.
Ia mengakui program MBG digagas dengan tujuan mulia, yakni menyediakan gizi bagi anak-anak, terutama dari keluarga kurang mampu.
Namun, Mahfud menilai tata kelolanya perlu diperbaiki agar tidak lagi memunculkan tragedi berulang.
“Program bagus kalau dijalankan dengan manajemen yang benar. Kalau tidak, justru menimbulkan masalah baru,” ujar dia.
Kritik Mahfud ini menambah panjang daftar sorotan terhadap implementasi MBG yang sejak September lalu tercatat menyebabkan ribuan anak di sejumlah daerah mengalami gejala serupa, mulai mual, pusing, hingga kejang.
Pemerintah diminta tidak hanya fokus pada distribusi, tetapi juga memperkuat pengawasan mutu makanan di lapangan.
Editor : Uways Alqadrie