Tubuhnya terjepit beton, ia hanya bisa berbaring, namun tak melupakan kewajiban.
“Ayo salat, ayo salat,” kata Haikal, menirukan ajakannya, saat ditemui di RSUD Notopuro, Kamis, 2 Oktober 2025. Ia selamat setelah dua hari terjebak di bawah puing bangunan pesantren.
Haikal menuturkan, ia mendengar suara seseorang mengimami salat, meski tak tahu siapa. Temannya yang juga tertimbun masih menyahuti ajakan itu.
Namun saat Subuh tiba, sahutan tersebut lenyap. Haikal sadar, sahabat di sampingnya telah meninggal dunia.
Ibunda Haikal, Dwi Ajeng, mengulang kisah anaknya dengan mata berkaca. “Salat Isya masih sempat ngajak temannya. Dia memukul-mukul temannya agar bangun. Katanya ada yang mengimami, tapi tidak tahu siapa. Subuhnya, temannya sudah tidak menjawab lagi,” ucapnya.
Cerita Haikal mengemuka ketika ia dijenguk senator DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Sang senator mendengarkan langsung bagaimana seorang anak belia menjaga ibadah, bahkan dalam situasi genting yang merenggut banyak korban.
Haikal kini dirawat intensif di rumah sakit. Kisahnya menjadi pengingat: iman dan keteguhan bisa tetap hidup, bahkan di bawah timbunan puing.
Editor : Uways Alqadrie