Situasi ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan pada hari Jumat, 3 Oktober 2025, bahwa Hamas telah menerima usulan gencatan senjata di Gaza.
Dari luar, Netanyahu menghadapi desakan langsung dari Trump untuk segera menghentikan operasi militer Israel. Namun, di dalam negeri, ia terancam kehilangan dukungan vital dari partai-partai sayap kanan yang merupakan bagian dari koalisi pemerintahannya.
Kelompok-kelompok ini dengan tegas menentang keras segala bentuk penghentian konflik.
Portal berita Axios melaporkan bahwa pengumuman mendadak dari Trump tersebut mengejutkan dan membuat Netanyahu terkejut. Pihak Israel rupanya mengharapkan adanya koordinasi bersama Washington sebelum merespons penerimaan proposal dari Hamas.
Akan tetapi, Trump mendahului mereka dengan merilis pernyataan publik melalui media sosial Truth Social dan kemudian melalui video resmi dari Gedung Putih.
Dalam pernyataannya, Trump menyambut baik keputusan Hamas, mendesak Israel untuk menghentikan serangan dan pengeboman, serta menekankan pentingnya pertukaran tahanan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada negara-negara Arab atas peran mereka dalam memfasilitasi kesepakatan tersebut. Manuver diplomatik sepihak Trump ini secara efektif merebut kendali Netanyahu atas arah narasi perang dan proses diplomasi.
Sumber pejabat Israel mengungkapkan bahwa Netanyahu sebenarnya ingin menunda respons resmi agar dapat melakukan pembahasan dan koordinasi terlebih dahulu dengan kabinet dan pejabat keamanan.
Komplikasi utama bagi Netanyahu datang dari dinamika politik domestik. Partai-partai sayap kanan di koalisinya---yang sangat mendukung penuh kelanjutan operasi militer di Gaza---mengancam untuk menarik dukungan jika perang dihentikan.
Kehilangan dukungan ini dapat menyebabkan runtuhnya pemerintahan Netanyahu dan membuka jalan bagi oposisi untuk membentuk kabinet baru.
Di sisi lain, para tokoh oposisi Israel mulai menggalang dukungan untuk membentuk pemerintahan persatuan nasional sebagai solusi darurat untuk menyelesaikan konflik yang berlarut-larut.
Baca Juga: Fermin Aldeguer Menang di MotoGP Mandalika 2025, Acosta dan Alex Marquez Lengkapi Podium
Kondisi ini menempatkan Netanyahu dalam posisi paling sulit sepanjang karier politiknya. Ia harus memilih antara tunduk pada tekanan dari sekutu utama seperti Amerika Serikat atau mempertahankan dukungan dari basis blok kanan yang menjadi fondasi kekuasaannya.
Editor : Uways Alqadrie