KALTIMPOST.ID, Karlinah Djaja Atmadja bukan nama yang sering muncul di catatan publik besar.
Selama hidupnya, ia tidak sekadar berdampingan dengan tokoh kenegaraan, melainkan juga aktif di bidang pendidikan dan sosial.
Kini, saat ia berpulang di usia 95 tahun, rasanya saat yang tepat untuk menggali kembali cerita hidup Karlinah, agar generasi mendatang tahu bahwa di balik jabatan ada manusia dengan kisah panjang.
Latar Belakang & Keluarga
Karlinah Djaja Atmadja lahir di Bandung, 30 Juli 1930. Ayahnya, Raden Djajaatmadja, bekerja sebagai teknisi persenjataan di Pangkalan Udara Andir (yang sekarang menjadi Bandara Husein Sastranegara). Ibundanya bernama Nani.
Karlinah adalah anak ke lima dari beberapa saudara yang dilahirkan oleh orang tua mereka.
Dia menikah dengan Umar Wirahadikusumah pada 2 Februari 1957, setelah perkenalan yang relatif singkat.
Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua putri, yaitu Nila Shanti dan Rina Ariani.
Pendidikan, Karier, Aktivisme
Sejak muda, Karlinah tertarik pada dunia pendidikan dan budaya. Ia menempuh pendidikan di Voorbereidend Hogere Onderwijs (VHO) di Bandung.
Selain itu, ia juga belajar bahasa Prancis lewat Alliance Française sebagai bentuk kegemarannya terhadap budaya asing.
Sebelum berfokus untuk mendampingi suami, Karlinah bekerja di Kantor Pusat Perbendaharaan Bandung.
Ia juga menjadi guru untuk tingkatan SMP dan SMA pada era 1950-an.
Baca Juga: Aplikasi Sosial Berbasis AI Pertama dari OpenAI, Apa yang Bikin Beda dari TikTok?
Di dunia sosial, Karlinah dikenal aktif di beberapa organisasi. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Persatuan Istri Tentara (Persit) Kartika Chandra Kirana selama sekitar 3 tahun (1970–1973).
Ia juga terlibat dalam lembaga-lembaga sosial seperti Yayasan Kanker Indonesia dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia.
Atas pengabdiannya, Karlinah menerima Satyalancana Kebaktian Sosial (1982) dan Bintang Mahaputera Adipradana (1987) dari pemerintah RI. ***
Editor : Dwi Puspitarini