KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ada perbedaan kemandirian setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyasar sekolah swasta. Selain itu, aneka lauk juga menjadi pembeda paling mencolok.
Kaltim Post berusaha mengonfirmasi salah satu sekolah yang membuat skema makan siang lebih dulu sebelum MBG dijalankan. Sekolah ini mematok harga per siswa. Skema itu diterapkan Sekolah Dasar (SD) Integral Lukman Al Hakim.
Sekolah yang sudah meluluskan 12 angkatan itu berada di Jalan Perjuangan, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara. Mereka menerapkan sistem full day school. "Kami terapkan sistem full day untuk di jenjang SD. Untuk yang pesantren, boarding school. Jadi setiap jenjang berbeda," ujar Kepala SD Lukman Al-Hakim, Muhammad Nara Ola, Senin (6/10).
Tepat sekitar pukul 10.39 Wita, mobil box bertuliskam Badan Gizi Nasional membawa ratusan porsi menu MBG. Secara perlahan, Nara Ola memerhatikan setiap porsi yang hendak dibagikan kepada peserta didiknya.
Beberapa menit kemudian barulah Nara Ola menerima reporter Kaltim Post untuk wawancara di ruangan khusus. Pertanyaan yang paling mendasar adalah, apakah sebelum MBG berjalan, sekolah ini sudah menerapkan skema makan siang? Nora membenarkan.
"Sebelum ada MBG, kita menerapkan itu (makan siang di sekolah). Skemanya pada pukul 09.00 Wita, anak-anak disuguhkan snack. Lalu siangnya, sekira 11.30 Wita, makan siang," ujarnya.
Dengan adanya skema itu, Nora memastikan bahwa para siswa tak perlu membawa uang saku. Lantaran snack dan makan siang sudah disediakan sekolah. Namun, Nora menggarisbawahi, sekolah meminta dana konsumsi kepada siswa. Nilainya Rp 10 ribu per siswa per hari. Dibayarkan sebulan sekali. Totalnya Rp 300 ribu per siswa.
"Itu sudah dapat snack pagi dan makan siang. Namun setelah ada MBG ini, kita tidak lagi menarik dana konsumsi, kecuali dana snack pagi," jelas Nora.
Snack pagi itu jika dihitung-hitung, setiap siswa membayar Rp 100 ribu untuk satu bulan. Namun Nora belum bisa merincikan apa saja isi snack itu. Yang pasti, kata dia, isinya beragam dan disukai anak-anak.
Untuk menu makan siang, Nora merincikan, setiap Senin hingga Rabu, aneka lauk seperti ayam, udang, hingga cumi-cumi, menjadi lauk andalan. Diolah dengan cara berbeda, digoreng, dibuat asam-manis, dan lainnya. Kamis, menu makan beralih ke sop. Dan Jumat ada bihun, nasi goreng, hingga nasi kuning.
"Termasuk setiap harinya, kecuali Jumat, ada sayur. Tapi sayur yang disuguhkan berkuah, tidak kering. Kalau MBG ‘kan kering. Mungkin faktor tempatnya, ya," imbuhnya.
Selain macam-macam menu, sekolah ini juga memiliki skema berbeda dalam penyaluran makanan. Program MBG disalurkan dalam keadaan siap makan bersama tempatnya dan seluruh siswa mendapat porsi yang sama.
"Jadi misalnya masakan sudah siap untuk dimakan, nanti dibuatkan semacam tempat prasmanan. Anak-anak dituntun untuk mengambil makanannya dan didampingi gurunya, itu perbedaannya," ucap Nora.
Setelah siswa mengambil makanan dengan porsi masing-masing, barulah mereka melingkar dan berdoa bersama. Uniknya, sekolah itu mengisyaratkan makanan yang diambil harus dihabiskan, alias tak bersisa.
"Harus habis. Karena mereka memakan sesuai porsinya. Setelah selesai makan, ada semacam bak di depan kelas, dan nanti anak-anak menaruh tempat makannya di bak tersebut," ungkapnya.
Jika sudah selesai semua, lanjut dia, barulah petugas kebersihan mengambil bak berisi piring kotor itu untuk dicuci. "Kalau MBG sudah ditakar dan langsung makan. Jadi kemandirian mereka juga berkurang, lebih manja. Karena sudah disiapkan semua," sentil Nora.
Fakta lain mengungkapkan bahwa SD Integral Lukman Al Hakim dulu pernah mengajukan dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dibuka di sekolah. Namun, Nora mengaku bahwa persyaratan yang berbelit membuat dirinya menarik kembali usulan itu. "Karena harus mengurus di pusat lagi. Jadi kami ikuti yang ada saja," tuturnya.
Disinggung soal keluhan lantaran maraknya kasus keracunan pada program MBG, Nora menjelaskan, sejumlah orangtua siswa memang ada yang menaruh kekhawatiran hal itu.
"Namun, kami berusaha untuk meyakinkan kalau MBG ini baik. Kekhawatiran orangtua murid antara lain soal halal atau tidaknya makanan dan tempat makannya. Kami berusaha meyakinkan mereka. Karena seminggu sekali ada pertemuan, dan ada yang menyampaikan," kata Nora.
Untuk lebih meyakinkan, Nora ikut mencicipi makanan yang diantar oleh SPPG. Sebab, jika ada hal-hal yang tidak diinginkan dampaknya tidak langsung sampai kepada siswa.
"Kami coba dulu, dan kami cek juga. Setelah dipastikan aman, baru dibagikan untuk di konsumsi. Kalau tidak ada saya di sekolah, nanti wakil kepala sekolah yang mencicipi," imbuhnya.
Hingga kini, Nora menegaskan belum ada orangtua siswa yang menyampaikan penolakan atas program MBG yang masuk ke sekolah. Namun, dirinya menggarisbawahi jika sesuatu hal terjadi dan berdampak kepada peserta didik, pihak sekolah akan mengambil keputusan.
"Kekhawatiran dan keluhan orangtua siswa sejatinya kita respons dan kita yakinkan. Namun jika nanti ada temuan, dan orangtua meminta untuk dikembalikan semula, maka tidak menutup kemungkinan kita akan kembalikan seperti semula (makan siang dibuat sekolah)," pungkasnya. (*)
Editor : Duito Susanto