Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tinggal 62 Ekor! Pesut Mahakam di Ujung Tanduk, DKP Kaltim Ambil Langkah Tegas

Denny Saputra • Jumat, 10 Oktober 2025 | 16:09 WIB

MENYUSUT: Populasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar endemik Kaltim kondisi jumlahnya makin memprihatinkan.
MENYUSUT: Populasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar endemik Kaltim kondisi jumlahnya makin memprihatinkan.

SAMARINDA-Kondisi pesut Mahakam, satwa endemik Kalimantan Timur yang kini berstatus kritis, kembali menjadi perhatian serius Pemprov Kaltim. Berdasarkan data dari Yayasan Konservasi RASI, populasi pesut Mahakam kini tersisa hanya 62 ekor.

Menyikapi hal itu, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim menegaskan akan terus memperkuat pengawasan dan penegakan hukum demi menjaga keberlangsungan hidup mamalia air tawar tersebut.

Kepala DKP Kaltim Irhan Hukmaidy menjelaskan, upaya penyelamatan pesut Mahakam sejalan dengan salah satu dari lima pilar ekonomi biru, yakni pengawasan terhadap sumber daya kelautan dan perikanan. "Untuk poin ini kita tekankan pada sumberdaya perikanan, bagaimana mencegah ancaman terhadap habitat dan populasi pesut," ujarnya, Jumat (10/10).

Baca Juga: Populasi Pesut Mahakam Kian Menipis, Tinggal Puluhan Ekor di Sungai Mahakam, Ternyata Gara-Gara Ini Penyebabnya

Menurut Irhan, ancaman terbesar terhadap pesut Mahakam berasal dari praktik illegal fishing dan destructive fishing, terutama penggunaan jaring kelambu atau sawaran oleh nelayan di sekitar Danau Jempang. Aktivitas ini kerap menjadi penyebab utama kematian pesut. "Hampir 50 sampai 60 persen kematian pesut disebabkan oleh jaring kelambu. Kami sudah melakukan penindakan dan sosialisasi agar praktik itu tidak terulang," tegasnya.

Selain jaring nelayan, kualitas air Sungai Mahakam juga terus menurun akibat limbah tambang dan perkebunan, serta lalu lintas kapal ponton dan aktivitas bongkar muat di sungai. “Kami sudah menyampaikan kepada Ibu Sekda agar jalur lalu lintas sungai tidak melewati wilayah habitat pesut,” ungkapnya.

Ancaman lain datang dari erosi sempadan sungai, yang mengikis area alami tempat pesut mencari makan. Karena itu, Irhan menilai perlu adanya kolaborasi lintas sektor. Ia mencontohkan, Kementerian Perhubungan perlu mengatur jalur transportasi tongkang agar tidak mengganggu habitat, sementara Kementerian Pertanian diharapkan mengendalikan dampak dari perluasan perkebunan.

Baca Juga: Ikon Kota Samarinda yang Sangat Terancam Punah, Ini yang Harus Kamu Tahu tentang Pesut Mahakam

“Bahkan kegiatan pertambangan di darat juga harus memperhatikan dampaknya terhadap kualitas air. Silakan kembangkan ekonomi hijau, tapi jangan abaikan ekonomi biru,” tandasnya.
Irhan juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dan sektor pariwisata dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesut. Konservasi, katanya, tidak hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekowisata yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pesut Mahakam ini bukan sekadar ikon Kaltim, tapi simbol keseimbangan antara ekonomi, ekologi, dan sosial. Kalau kita kehilangan pesut, itu artinya kita gagal menjaga masa depan Sungai Mahakam,” pungkasnya. (*)

Editor : Muhammad Rizki
#pesut mahakam #kaltim