Nah, di Kaltim, atau Kalimantan pada umumnya, salah satu aturan sosial dan spiritual yang paling dikenal dan masih sangat hidup, bahkan di tengah kota besar, adalah kepercayaan yang disebut ‘kepuhunan’.
Sederhananya, ini adalah keyakinan bahwa tindakan yang dianggap kurang sopan atau melanggar adab bisa mendatangkan sial atau musibah. Bagi pendatang dari luar daerah mungkin terdengar aneh.
Misalnya kamu lagi main ke rumah teman atau kolega baru di Balikpapan, Samarinda, atau daerah lainnya, terus disuguhi secangkir teh dan beberapa potong kue. Karena mungkin lagi buru-buru atau sekadar sungkan, kamu menolaknya.
Anehnya, setelah pulang, kepala terasa berat dan badan jadi nggak enak. Nah, menurut kepercayaan lokal, bisa jadi kamu baru saja kena ‘kepuhunan’.
Jadi, Apa Sih Sebenarnya Kepuhunan Itu?
Singkatnya, kepuhunan itu seperti kena sial, apes, atau musibah karena tindakan kita dianggap kurang sopan atau melanggar adab. Ini adalah kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat Dayak dan Banjar.
Penyebabnya bisa sangat sederhana, misalnya:
Menolak makanan atau minuman yang ditawarkan saat bertamu.
Mengambil sesuatu (misalnya bunga) dari taman kota atau tempat yang punya nilai sejarah tanpa “permisi”.
Berucap tidak pantas saat melewati area tertentu, seperti pemakaman tua di tengah kota.
Intinya, tindakan kita dianggap tidak menghargai niat baik orang lain atau “penunggu” di suatu tempat.
Kalau Kena Kepuhunan, Emangnya Kenapa?
Efeknya beragam, mulai dari yang ringan sampai yang lebih mengganggu. Biasanya orang yang kena kepuhunan bisa mengalami:
Sakit mendadak (pusing, mual, demam) yang sulit dijelaskan alasannya.
Merasa bingung, cemas, atau linglung secara tiba-tiba.
Yang lebih jarang, ada cerita orang yang merasa “diikuti” atau mengalami mimpi buruk.
Bukan Cuma Mitos, Ini Pelajaran Penting di Baliknya
Jangan anggap ini cuma takhayul. Di balik kepercayaan kepuhunan, ada nilai-nilai sosial yang sangat relevan:
Menjaga Hubungan Baik: Menerima suguhan adalah cara simpel untuk menghargai tuan rumah. Ini adalah lem perekat sosial yang membuat hubungan lebih hangat.
Menghormati Ruang Publik: Larangan berbuat sembarangan di tempat tertentu mengajarkan kita untuk selalu menjaga adab dan menghormati lingkungan sekitar, di mana pun kita berada.
Terlanjur Kena? Begini Cara ‘Obatinnya’
Kalau kamu merasa kena kepuhunan, solusinya unik. Biasanya, kamu harus kembali ke orang yang memberimu tawaran.
Cukup dengan mencicipi sedikit saja makanan atau minuman yang tadi kamu tolak (atau meminta air putih dari rumahnya), biasanya gejala aneh yang kamu rasakan akan mereda.
Ini adalah simbol “memperbaiki” adab yang sempat keliru. Jika tidak memungkinkan, meminta bantuan orang tua atau tokoh yang dituakan juga bisa menjadi solusi.
Penjelasan dari Sisi Psikologis
Nah, ini bagian yang menarik. Banyak orang, mungkin termasuk kamu, pernah mengalami gejala ringan yang kemudian hilang begitu saja tanpa melakukan ritual apa pun. Ternyata, ada penjelasan logis dari sisi psikologi modern yang justru memperkuat kearifan di balik kepuhunan.
Fenomena ini disebut gejala psikosomatis.
Saat kita merasa bersalah, cemas, atau ‘tidak enak’ karena menolak tawaran, pikiran kita mengalami stres ringan.
Stres ini bisa “berbicara” ke tubuh, lalu memunculkan gejala fisik nyata seperti pusing, mual, atau badan lemas. Ini bukan pura-pura sakit, gejalanya benar-benar terasa.
Ketika kamu menjauh dari situasi itu, sumber stres sosialnya hilang. Pikiran jadi tenang, dan tubuh pun ikut pulih. Makanya gejalanya bisa “sembuh sendiri”.
Jadi, kepuhunan adalah sistem adat yang secara tidak langsung “memaksa” kita untuk menghindari stres sosial yang tidak perlu, yang ternyata memang bisa berdampak pada fisik kita.
Pentingnya Jaga Adab dan Saling Hargai
Pada dasarnya, kepuhunan adalah pengingat agar kita selalu menjaga sopan santun dan menghargai orang lain serta lingkungan kita. Ini bukan soal mistis semata, tapi soal kecerdasan sosial.
Jadi, saat berada di Kalimantan, baik di kota metropolitan maupun di pelosok, ingatlah prinsip sederhana ini. Selamat bergaul dan menikmati keramahan Kalimantan!
Editor : Uways Alqadrie