Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dari Batu Bara ke Cahaya Surya, Haidar dan Harapan Baru Kalimantan

Muhammad Rizki • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 10:19 WIB

RAMAH LINGKUNGAN: Hamparan panel surya yang dibangun di atas lahan sekitar 80 hektare. di  IKN. Pemprov Kaltim menjajaki  kerja sama di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai mesin PAD baru.
RAMAH LINGKUNGAN: Hamparan panel surya yang dibangun di atas lahan sekitar 80 hektare. di IKN. Pemprov Kaltim menjajaki kerja sama di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai mesin PAD baru.

Di hamparan tanah IKN, deretan panel surya berjejer rapi mengikuti lekuk perbukitan. Mengolah sinar matahari Kalimantan yang berlimpah, jadi sumber penerang. Tanpa harus mencemari lingkungan. Memanfaatkan kekayaan alam Bumi Etam yang terbarukan. Dimana alam dan modernitas berusaha berdampingan.

MUHAMMAD RIZKI, Balikpapan

DENGAN lokasi dan kondisi geografis, memang sangat realistis jika pembangkit EBT (energi baru terbarukan) yang dibangun adalah PLTS. IKN (Ibu Kota Nusantara) termasuk daerah yang dekat dengan khatulistiwa, sehingga mendapatkan paparan sinar matahari yang stabil sepanjang tahun,” ucap Haidar kepada Kaltim Post, Selasa (14/10). Sejak Desember 2024, pemilik nama lengkap Haidar Nabil Muflih, itu, menjadi bagian tim operasional PLTS IKN 50 MW (megawatt).

Kini, dia menetap di IKN bersama tenaga lokal lainnya. Berjarak sekitar 2 jam perjalanan darat dari Kota Balikpapan. Setelah tiga pekan memastikan sistem PLTS bekerja normal, masa liburnya selama sepekan dia habiskan dengan pulang ke rumah orang tua di Samarinda. “Sebenarnya posisi saya adalah site engineer, tetapi saya juga menjalankan tugas sebagai teknisi,” tutur pemuda 25 tahun itu. Inspeksi rutin, termasuk pengecekan visual, membersihkan panel surya yang mirip cermin raksasa sedang menatap langit, melaporkan gangguan, hingga memotong rumput, adalah tugas sehari-hari Haidar.

Baginya, pagi di PLTS selalu punya makna tersendiri. Saat matahari mulai muncul di balik hamparan pohon eucalyptus dan akasia, itulah detik pertama seluruh sistem hidup, dan energi mulai mengalir di jantung ibu kota baru. “Biasanya, suhu pagi dan sore sekitar 23-25 derajat Celcius. Kemudian siang, kalau cerah sekitar 26-32 derajat Celcius,” sebut alumnus SMA 2 Samarinda tahun 2018 itu.

Menurut anak ke-3 dari 5 bersaudara itu, bagian paling menantang sebagai teknisi PLTS IKN adalah, beradaptasi dengan teknologi yang digunakan. Meskipun cukup mengetahui dasar cara PLTS bekerja menghasilkan listrik, tetapi realitanya, banyak hal baru harus dipelajari yang tidak diajarkan selama kuliah. “Awalnya saya masih mencoba meraba-raba. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami pola dan cara mengatasi kendala-kendala tersebut,” kata lulusan D4 Teknologi Rekayasa Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2023 itu.

Pekerjaan Haidar tidak selalu berjalan mulus. Haidar masih ingat satu malam yang tak akan ia lupakan. Saat itu, salah satu komponen sistem PLTS mengalami gangguan parah. Ia dan tim harus bekerja lembur 9 jam. Dari pukul 19.00 hingga 03.00 Wita. Setelah perbaikan selesai, dia seperti melihat matahari terbit di tengah malam.

“Jadi memang perlu dilakukan preventive maintenance sebagai pencegahan komponen rusak. Karena kalau sudah komponennya rusak, biasanya perbaikannya butuh waktu lebih lama,” jelasnya. Ketika ada komponen yang mengalami gangguan, Haidar dan tim segera mungkin mencari tahu penyebab gangguannya apa. Setelah itu, menyiapkan penyelesaian masalah sampai bisa diatasi. Kemudian dibuat laporan. “Berupa berita acara berisi kronologi, tindak lanjut, dan tinjauan,” terangnya.

Energi yang Terus Mengalir

Bekerja di PLTS IKN bukan sekadar profesi bagi Haidar, tetapi kebanggaan. Dia percaya, PLTS IKN adalah salah satu langkah awal menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. “PLTS ini sejalan dengan konsep IKN sebagai smart city dan forest city. Energinya tinggal diambil dari matahari, jadi tidak perlu banyak biaya lain,” katanya, seraya menatap deretan panel surya yang berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN.

Dia menambahkan, energi bersih yang dihasilkan PLTS IKN diproyeksikan sebesar 93 GWh per tahun. Kemudian diharapkan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 104.000 ton per tahun, atau setara dengan 24.000 mobil. Setrum dari PLTS juga tidak merusak lingkungan karena tidak menghasilkan karbon. “Jadi tidak ada komplain dari masyarakat sekitar terkait operasional PLTS. Dampak lainnya ada beberapa masyarakat sekitar yang terbantu ekonominya dengan kehadiran PLTS ini, dan ada yang bekerja di PLTS ini,” sebutnya.

Bicara teknologi, Haidar menyatakan, PLTS IKN 50 MW adalah yang pertama di Indonesia yang mengintegrasikan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 14,2 MWh dengan jaringan on-grid PLN. Mekanismenya sederhana. Dijelaskan Haidar, ketika produksi setrum PLTS berlebih, BESS akan menyerap daya (charging), sedangkan ketika produksi PLTS menurun secara tiba-tiba, BESS akan mengeluarkan energi (discharging). Kehadiran BESS menjadi salah satu solusi mengatasi tantangan pembangkit energi terbarukan yang bersifat intermittent, seperti PLTS dan PLTB.

Lanjut dia, produksi PLTS dan PLTB bisa saja tidak stabil karena bergantung pada kondisi alam yang tidak dapat diprediksi secara pasti. Hal ini menjadi tantangan karena dapat memengaruhi kestabilan jaringan listrik. “Kehadiran BESS diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas grid sambil tetap mendukung suplai energi bersih dan terbarukan,” terangnya.

 

Diapit rimbunnya pohon eucalyptus dan akasia, PLTS IKN kapasitas 50 megawatt bekerja senyap menyinari kawasan IKN tanpa meninggalkan karbon yang mencemari lingkugan sekitar.
Diapit rimbunnya pohon eucalyptus dan akasia, PLTS IKN kapasitas 50 megawatt bekerja senyap menyinari kawasan IKN tanpa meninggalkan karbon yang mencemari lingkugan sekitar.

Semangat untuk Generasi Muda Kalimantan

Haidar lahir di Samarinda. Tumbuh dan besar di kota yang selama puluhan tahun hidup dari batu bara. Dengan beragam dampak yang ditimbulkan. Seperti banjir hingga deforestrasi. Kini, laki-laki kelahiran tahun 2000 itu, menjadi bagian dari generasi baru pekerja energi yang menyalakan masa depan lewat cahaya. Sebenarnya, orang tua menginginkan Haidar sebagai pegawai negeri sipil. Profesi yang mengakar di keluarga Haidar.

Haidar juga tak menampik jika kepincut bekerja di tambang batu bara. Alasannya sederhana. Pendapatan yang besar. Banyak perusahaan tambang di Samarinda dan sekitarnya. Namun dia kembali meratapi. Jika semuanya tidak melulu tentang uang, tetapi juga kepedulian terhadap alam.

“Saya melihat jika tambang dan migas tidak begitu sustain. Akan (ada) transisi menuju energi hijau yang lebih bersih dan sustainable,” ungkapnya.

Baginya, berkarier di sektor energi berkelanjutan, lebih dari sekadar memastikan energi selalu tersedia, tanpa perlu memikirkan kapan cadangan energi akan habis seperti tambang dan migas. Dengan penuh optimistis, pemuda yang hobi bermain gim daring Mobile Legend ini menyampaikan, transisi energi hijau akan memberikan kontribusi nyata bagi Kalimantan, dengan menciptakan lapangan pekerjaan, disusul pengembangan teknologi mutakhir.

“Teman-teman di Samarinda cukup senang saya bisa bekerja di sini. Beberapa malah sampai ada yang menanyakan info loker (lowongan kerja). Karena melihat EBT bakal menjadi industri yang bertumbuh pesat ke depannya,” jelasnya sembari tersenyum. Haidar berharap, generasi muda Kalimantan mempersiapkan diri menghadapi perubahan menuju energi hijau. Dia melihat banyak kesempatan untuk bisa berkontribusi maksimal. “Semoga PLTS IKN menjadi titik awal transisi energi terbarukan dan hijau di Kalimantan,” harapnya.

Awal Mula Transisi Energi

Kisah Haidar hanyalah satu dari ribuan cerita yang menyala seiring langkah besar Indonesia menjemput masa depan energinya. Hari itu, Kamis, 2 November 2023, Kaltim Post bersama puluhan awak media, merekam momen bersejarah dimulainya pembangunan atau groundbreaking PLTS IKN berkapasitas 50 MW yang dilakukan Presiden Joko Widodo.

“Awal-awal yang sering ditanyakan kepada saya tentang IKN itu sederhana. Anak saya nanti sekolah di mana? Kalau sakit, rumah sakitnya di mana? Dan sekarang sudah terjawab,” ucap Joko Widodo membuka sambutannya.  Lalu ia menambahkan dengan nada lebih tegas, “Pertanyaan berikutnya: listriknya ada tidak? Siap atau belum? Katanya green energy, di mana? Jawabannya, hari ini sudah ada.”

Hari berganti. Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 di IKN, menandai langkah besar pemerintah menuju transisi energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.  Setelah pembangunannya dimulai pada 2 November 2023, PLTS IKN akhirnya “menyetrum” kawasan ibu kota baru yang berdiri istana negara, istana presiden, hunian ASN, gedung perkantoran kementerian koordinator, hotel, hingga rumah sakit.

Di momen itu, PLN memasok 10 MW kebutuhan listrik pelaksanaan upacara di IKN dari PLTS. Seyogianya, tahap pertama pembangunan PLTS IKN berkapasitas 10 MW, sudah rampung awal 2024. Setelah PT PLN (Persero) melalui sub holding PLN Nusantara Power, berhasil mengalirkan daya PLTS IKN ke jaringan transmisi atau sinkronisasi tahap I sebesar 10 MW, dari total kapasitas 50 MW pada Kamis, 29 Februari 2024.

Dengan beroperasinya PLTS ini, maka kawasan IKN telah dialiri listrik yang bersumber sepenuhnya dari EBT yang ramah lingkungan. Pembangunan instalasi PLTS IKN dibagi dalam 2 tahap. Tahap pertama, kapasitas 10 MW dibangun dengan sinergi anak perusahaan PLN Nusantara Power. Sedangkan sisanya, 40 MW, dibangun PT Nusantara Sembcorp Solar Energi (NSSE), joint venture company antara PLN Nusantara Renewables dan SembCorp Utilities, perusahaan energi terbarukan yang berbasis di Singapura. Demi menjaga estetika lanskap IKN, seluruh kabel-kabel jaringan listrik ditanam di bawah tanah.

Bagi PLN, proyek ini bukan hanya deretan angka. Seperti diungkapkan Dirut PLN Darmawan Prasodjo, energi bersih menjadi daya hidup baru Nusantara. Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah menambahkan, PLTS IKN merupakan salah satu proyek energi PLN yang berperan dalam mengurangi emisi karbon, menghemat biaya energi, menciptakan peluang kerja lokal, sekaligus mendukung visi Indonesia menuju swasembada energi

 

INSPEKSI RUTIN: Memastikan jaringan listrik berjalan baik secara real time, Haidar (kanan) dan teknisi lainnya, rutin memantau produksi PLTS dan melaporkannya jika ada kendala.
INSPEKSI RUTIN: Memastikan jaringan listrik berjalan baik secara real time, Haidar (kanan) dan teknisi lainnya, rutin memantau produksi PLTS dan melaporkannya jika ada kendala.

Menyalakan Harapan, Mengurangi Emisi

Sementara Haidar bekerja menjaga aliran listrik di lapangan, dari Jakarta, arah besar energi hijau terus digulirkan pemerintah. Awal 2025, Presiden Prabowo Subianto meresmikan tahap II PLTS IKN berkapasitas penuh, 50 MW. Bukan sekadar pembangkit tenaga surya biasa, instalasi ini menggabungkan teknologi penyimpanan energi baterai (BESS) berkapasitas 14,2 MWh dengan jaringan listrik PLN.

Bagi para teknisi di lapangan, sistem ini ibarat “otak cadangan” yang menjaga aliran listrik tetap stabil. Saat matahari bersinar terik dan produksi listrik berlimpah, baterai bekerja menyimpan kelebihan energi. Lalu, ketika awan menutup langit atau malam tiba, baterai mengambil alih peran, menyalurkan kembali energi yang disimpannya. Sistem ini membuat pasokan listrik tetap menyala tanpa gangguan, sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi mampu menjembatani transisi menuju masa depan energi bersih.

Selain PLTS, PLN tengah mempersiapkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk memasok listrik berbasis energi bersih ke IKN. “PLTS kapasitas 50 megawatt sudah selesai dibangun. Nanti akan disesuaikan kebutuhannya. Yang dimanfaatkan sekarang baru 10 sampai 15 megawatt. Itu sudah jauh dari cukup mendukung kebutuhan listrik di KIPP (Kawasan Inti Pusat Pemerintahan),” ucap Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Otorita IKN Danis Hidayat Sumadilaga dalam wawancara terpisah.

Sejak Maret 2025, Danis bersama ratusan ASN telah tinggal di IKN. Ia menyaksikan sendiri perubahan cepat di wilayah yang dulu hutan belantara itu. Dari gemuruh genset berbahan bakar minyak dengan asap yang mengepul, ke sistem kelistrikan yang bersih dan senyap. Di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN, lampu jalan bertenaga surya kini menerangi.  Mengalir jauh ke hunian, perkantoran, rumah sakit yang sudah beroperasi dan melayani pasien, perhotelan yang menyelenggarakan banyak event, rumah makan dan kedai kopi, hingga geliat pembangunan infrastruktur, dengan jaringan listrik tata surya yang tertanam rapi di bawah tanah.

Sinergi Menuju Kota Berkelanjutan

PLTS di IKN hanyalah awal. Di balik panel-panel, tersusun rencana besar yang menghubungkan energi, teknologi, dan manusia, seperti Haidar. Setelah PLTS 50 MW, PLN bersama Otorita IKN, kini tengah mempercepat pembangunan infrastruktur kelistrikan hijau. Sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, estimasi kebutuhan listrik di IKN mencapai 465 MW hingga 2034.

Untuk memenuhinya, akan dibangun sejumlah pembangkit berbasis energi bersih di Kaltim dan Kaltara. Meliputi PLTS dan sistem penyimpanan energi baterai (battery energy storage system/BESS) berkapasitas 628 MW pada 2027, PLTA 1.251 MW pada 2031, serta PLT biomassa 10 MW. Seluruh pembangkit ini akan diperkuat dengan pengembangan jaringan transmisi sepanjang 861 kms, serta gardu induk berkapasitas 3.370 MVA. Akselerasi itu diharapkan membuat sistem kelistrikan IKN andal, rendah karbon, dan berkelanjutan.

Untuk memastikan rencana besar ini berjalan baik, PLN dan Otorita IKN sepakat membentuk tim yang bertugas memperbarui dan mengawal master plan kelistrikan IKN. Mulai dari penyambungan listrik ke kawasan pemerintahan, pembangunan jalur jaringan strategis, hingga integrasi energi surya dengan sistem penyimpanan baterai.

“Tim kerja bersama ini akan menjadi mesin utama untuk memastikan seluruh kawasan IKN terhubung dengan listrik andal, ramah lingkungan, dan terintegrasi digital pada 2028. PLN adalah mitra strategis terbaik dalam mewujudkan hal ini,” kata Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono. General Manager PLN UID Kaltimra, Muchamad Chaliq Fadli, menambahkan, langkah itu merupakan bukti keseriusan PLN menyiapkan fondasi energi masa depan IKN.

Hingga Agustus 2025, kebutuhan listrik di IKN telah mencapai 54 GWh yang ditopang oleh PLTS IKN 50 MW dan di-backup melalui sistem interkoneksi Kalimantan. Dia menegaskan, setiap pembangunan jaringan, gardu, maupun pembangkit yang dikerjakan PLN untuk kebutuhan jangka panjang. Langkah PLN di IKN menjadi gambaran nyata: bagaimana energi bersih tak lagi wacana, tapi fondasi bagi kota masa depan di jantung Kalimantan.

 

PERAWATAN: Mengantisipasi kotoran maupun objek lainnya menghalangi intensitas cahaya matahari, petugas membersihkan panel surya secara berkala agar produksi pembangkit tidak terganggu.
PERAWATAN: Mengantisipasi kotoran maupun objek lainnya menghalangi intensitas cahaya matahari, petugas membersihkan panel surya secara berkala agar produksi pembangkit tidak terganggu.

Target 100 Persen EBT pada 2033

Transformasi energi di IKN sejatinya hanyalah permulaan dari babak besar transisi energi nasional. Masih dari RUPTL 2025–2034, peta jalan sepuluh tahun ke depan yang menandai babak baru transisi energi nasional, kebutuhan listrik di IKN diperkirakan mencapai 1.000 MW pada 2045.

Di sini, bukan hanya gedung pemerintahan yang sedang dirancang megah di IKN, tetapi denyut kehidupan berupa aliran listrik yang tak sekadar terang, tapi juga hijau yang ramah lingkungan. Seluruh pasokan itu dirancang berasal dari pembangkit berbasis EBT.

Sistem kelistrikan IKN akan dibangun dengan konsep smart, green, resilient — menggabungkan efisiensi, ketahanan, dan keindahan.  Dari sisi hijau, seluruh listrik IKN akan bersumber dari pembangkit tanpa emisi, seperti PLTA, PLTB, dan PLTS yang terkoneksi melalui jaringan SUTET 500 kV dan SUTT 150 kV di Kalimantan. Sementara konsep smart diwujudkan lewat penerapan smart grid, smart meter, hingga sistem distribusi otomatis.

Semua jaringan listriknya tertanam di bawah tanah dalam multi-utility tunnel (MUT) berdesain futuristik. Dalam RUPTL PLN, hingga 2033 akan ada tambahan pembangkit EBT sebesar 1,7 gigawatt di sistem Kalseltengtimra. Jumlah itu cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan daya IKN. Setelahnya, potensi EBT Kalimantan yang mencapai 14 GW, masih bisa dikembangkan untuk menopang beban jangka panjang.

Potensi Energi Lokal, Kekuatan Baru Transisi Energi

Di tengah perubahan iklim yang kian terasa dan kebutuhan listrik yang terus meningkat, pemerintah mulai menata arah baru perjalanan energi Indonesia. Tidak lagi sekadar berbicara soal minyak, batu bara, dan gas, kini sorotan bergeser ke cahaya matahari, tiupan angin, dan aliran sungai yang terus bergerak. Arah baru itu tertuang dalam RUPTL 2025–2034

Di dalamnya, PLTS muncul sebagai bintang utama, dengan target kapasitas mencapai 17,1 gigawatt (GW). Jumlah itu menjadikan surya sebagai kontributor terbesar dalam bauran energi baru terbarukan. Tak berhenti di situ, pemerintah juga menyiapkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 11,7 GW, diikuti tenaga angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan tenaga nuklir 0,5 GW. Semua dirancang untuk satu tujuan: memperkuat ketahanan energi nasional dengan cara yang lebih bersih dan berkelanjutan.

“Indonesia punya potensi EBT besar, tersebar, dan beragam. Karena itu, pengembangannya harus sesuai potensi lokal di setiap wilayah,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, saat mengumumkan RUPTL 2025–2034 di Jakarta, Senin (26/5). Ia menegaskan, setiap wilayah akan memiliki perannya sendiri dalam transisi energi ini. Contohnya di Kalimantan. Pulau yang dikenal sebagai penghasil batu bara, kini disiapkan menjadi lumbung energi hijau dengan tambahan kapasitas 3,5 GW yang cukup untuk menerangi jutaan rumah tangga.

Rinciannya, PLTA/M sebesar 1.533 MW, PLTS 1.524 MW, PLTN 250 MW, bioenergi 80 MW, dan PLTB 70 MW. “Kalau dulu hasil RUPTL tidak menjelaskan lokasi dan waktu pembangunan, sekarang semuanya jelas—kabupaten mana, tahun berapa, sampai kapasitasnya,” kata Bahlil. Langkah pemerintah itu mendapat dukungan penuh dari PT PLN (Persero). “PLN siap menjalankan seluruh rencana dalam RUPTL ini sebagai langkah nyata transisi energi menuju Net Zero Emissions,” kata Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo.

Darmawan optimistis, perencanaan yang lebih rinci—dengan lokasi dan jadwal pembangunan yang sudah dipetakan, akan mempermudah realisasi proyek, serta memastikan keandalan pasokan listrik di masa depan.“Kita tidak hanya bicara energi bersih, tapi juga kemandirian energi di daerah. Energi lokal akan menjadi tulang punggung swasembada nasional,” tambahnya.

Regulasi dan Infrastruktur Jadi Tantangan

Dalam seminar “Teknologi Hijau & Energi Terbarukan: Pilar Masa Depan Industri 5.0”, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menegaskan pentingnya transisi menuju energi hijau. Untuk menjaga ketahanan energi nasional dan mencapai target bauran energi terbarukan.

“Indonesia punya potensi besar dari sumber daya alam seperti matahari, angin, air, hingga panas bumi,” ujarnya. Namun, ia mengakui bahwa pengembangan energi terbarukan masih menghadapi sejumlah tantangan. Antara lain, investasi awal dan biaya teknologi yang masih tinggi, keterbatasan infrastruktur seperti jaringan listrik, jalan, dan pelabuhan yang menghambat distribusi energi terbarukan, serta kurangnya tenaga ahli di bidang teknis energi baru.

Selain itu, regulasi yang belum konsisten dan sering berubah membuat investor ragu. Sementara kebijakan pemerintah belum sepenuhnya optimal dalam mendorong pemanfaatan energi hijau. Persepsi masyarakat yang masih negatif juga menjadi hambatan. Sehingga diperlukan edukasi dan sosialisasi yang lebih luas. Di sisi lain, ketergantungan pada energi fosil seperti batu bara dan minyak bumi masih tinggi, yang membuat transisi menuju energi bersih membutuhkan kolaborasi dan komitmen.

Cahaya yang Tak Pernah Padam

Jarum jam menunjukkan pukul 18.00 Wita. Sebelum meninggalkan hamparan inverter, Haidar menatap langit Nusantara yang mulai gelap. Dari kejauhan, gedung-gedung pemerintahan tampak berdiri kokoh di tengah hijaunya perbukitan. Dengan helm yang masih melekat, dia bersiap kembali ke hunian pekerja PLTS yang berada di kawasan IKN di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

“Melalui pekerjaan ini, saya ingin menunjukkan bahwa SDM asli yang ada di Kalimantan bisa berkontribusi langsung pada transisi energi menuju lebih bersih dan berkelanjutan. Semoga energi baru terbarukan ini, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan di Kalimantan, dan menciptakan generasi yang lebih baik,” harapnya. Haidar seakan ingin membuktikan jika generasi Z seperti dirinya, memiliki harapan bahwa masa depan Kalimantan tak lagi digali dari bumi, tetapi dipanen dari langit. (riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
#PLTS IKN 50 MW #PLN (Persero) #kaltim #energi baru dan terbarukan (EBT)