Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Di Tangan Warga, Telok Bangko Jadi Sumber Hidup Baru

Bayu Rolles • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 16:27 WIB

 

Telok Bangko kini menjadi eduwisata mangrove.
Telok Bangko kini menjadi eduwisata mangrove.

 

KALTIMPOST.ID, Ekosistem mangrove di Telok Bangko, Kelurahan Lok Tuan, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang tak terbentang begitu saja.

Barisan bakau dan api-api itu lahir dari bulir keringat Hadi Wiyoto, yang berkelesah tentang laut yang kehilangan warna, tentang daratan yang terus mundur terdorong air laut, hingga hamparan sampah yang terserak lengkungan kecil utara Bontang.

Tinggal di sana sejak 1997 silam. Tambak ikan jadi mata pencaharian warga Telok Bangko. Tapi airnya keruh, udaranya lembab karena residu rumah tangga yang dibuang serampangan. "Dulu kumuh, airnya tercemar," kata Hadi, Sabtu, 18 Oktober 2025.

 Baca Juga: 4 Kali Kalah, Tetap Berdiri! Ini Cara Prabowo Hadapi Gagal yang Tak Banyak Diketahui

Beberapa tahun berselang, sekitar 2008-2009, Hadi akhirnya berniat membeli lahan seluas enam hektare di Pesisir Bontang itu.

Harga awal yang dipatok pemilik berkisar Rp2 miliar. Dan akhirnya dilepas seharga Rp1,5 miliar selepas negosiasi panjang.

"Sebenarnya saya keluar uang lebih dari itu. Kan ada biaya pembersihan dan lainnya," akunya.

Status kepemilikan sudah di tangan, tebersit rencana di kepala Hadi. Menjadikan lahan itu sebagai area eduwisata mangrove.

"Saya masih kerja. Masih punya penghasilan. Makanya terlintas itu," lanjutnya.

 Baca Juga: Tengok Fasilitas Baru di Bamboe Wanadesa, Ingin Jadi Wisata Alam dan Edukasi bagi Pengunjung

Lalu pada 2019, beredar kabar jika Pupuk Kaltim (PKT) tengah mencari lahan untuk membangun penyemaian bakau dan api-api.

Tak pikir panjang, dia menawarkan lahan miliknya untuk menjadi penyemaian yang bisa melibatkan masyarakat sekitar. "Kalau untuk mangrove saya silakan. Gratis," katanya.

Sejak saat itu, dibentuklah Kelompok Telok Bangko yang beranggotakan 15 warga sekitar, yang nantinya bertugas  membidani kelahiran tunas-tunas baru untuk ekosistem pesisir.

PKT, sebut dia, jadi pelanggan setia yang membeli bibit mangrove dengan kuota puluhan ribu per tahunnya.

"Sejak kerja sama itu, PKT selalu beli puluhan ribu. Tahun ini, ada 25 ribu bibit," terangnya.

 Baca Juga: IKN Jadi Sorotan Dunia, Delegasi Internasional Belajar Transisi Energi Berkeadilan di Nusantara

Ada beberapa jenis bibit mangrove yang disemai Kelompok Teluk Bangko. Ada bakau kurap (Rhizophora mucronata) dan bakau minyak (Rhizophora apiculata).

Kedua tumbuhan bergenus Rhizophora itu bisa hidup di tanah berlumpur, tergenang, hingga pasir berlempung.

Dua jenis bakau itu biasanya berdampingan dengan perepat atau pidada putih (Sonneratia alba) di substrat terdepan ekosistem mangrove.

Lalu ada Api-api Hitam (avicennia alba), Kendeka (Bruguiera gymnorrhiza), dan Nyiri Abang (Xylocarpus granatum).

"Umumnya Tanaman berakar jangkang di barisan depan. Yang Akar napas di belakang," terangnya.

Semakin dekat dengan daratan, pohon-pohon dalam ekosistem mangrove punya manfaat yang bisa dimaksimalkan  warga.

Buah Xylocarpus granatum, misalnya, digunakan sebagai bahan kosmetik. Buah dari Bruguiera gymnorrhiza untuk bahan tepung dan Sonneratia alba yang buahnya dimanfaatkan jadi dodol dan sirup.

Dari penyemaian. Anggota Kelompok Telok Bangko, Rada, menerangkan. Pembibitan umumnya berbekal tunas atau biji buah dari setiap pohon dalam ekosistem mangrove.

Bibit yang siap ditanam langsung biasanya berumur lebih dari tiga bulan dengan ketinggian sekitar satu meter.

Namun, bibit itu baru bisa dikatakan benar-benar dewasa setelah berusia 3-4 tahun.

"Di umur segitu juga biasanya bisa dimanfaatkan buahnya," aku Rada. Per tahun, dia mendapat Rp17 juta dari penyemaian yang dipanen tiap 3-4 bulan sekali.

Kembali ke Hadi Wiyoto. Mimpinya menjadikan lahan miliknya itu jadi destinasi eduwisata memang berhasil diwujudkannya.

Tapi ulah pengunjung yang serampangan membuang sampah membuatnya kesal.

Sampah, lalu kapal pencari kepiting kerap jadi ancaman utama yang bikin bakau atau api-api muda mati sebelum dewasa.

"Pada 2023 sempat saya tutup. pertengahan 2024 saya buka lagi setelah diminta Pemkot," katanya.

Tentunya ada yang berubah. Sejak dibuka kembali, Hadi menetapkan retribusi dengan nominal yang masih ramah di kantong.

"Anak-anak Rp2 ribu, dewasa Rp3 ribu. Biar anak-anak bisa tetap ke sini. Kan tujuannya untuk belajar tentang alam," jelasnya.

Di sisi lain, Uchin Mahazaki, Asisten Vice President Pupuk Kaltim Departemen Pembangunan Sosial dan Lingkungan mengatakan, kolaborasi dengan Kelompok Telok Bangko ini muncul atas dasar tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) anak perusahaan PT Pupuk Indonesia tersebut.

"Pupuk Kaltim mencoba menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah kerja kami," katanya.

 Baca Juga: Dari Batu Bara ke Cahaya Surya, Haidar dan Harapan Baru Kalimantan

Langkah ini juga  kontribusi mereka dalam menurunkan emisi gas rumah kaca. Terlebih secara global dekarbonisasi mulai masif digaungkan sejak 2018 akhir.

Lewat pendampingan, Pupuk Kaltim, sebut Uchin, juga mendukung diversifikasi olahan mangrove yang bisa bernilai ekonomis untuk warga sekitar.

"Sarana dan prasarana di Telok Bangko salah satu bentuk dukungan kami," terangnya.

Lewat semua upaya itu. Dari niat baik Hadi Wiyoto, hingga kebijakan dekarbonisasi PT Pupuk Kaltim.

Telok Bangko kini jadi contoh bagaimana gayengnya masyarakat dan korporasi, bergandengan untuk menghadirkan hidup yang lebih layak. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#rehabilitasi mangrove #Telok Bangko #TJSL Pupuk Kaltim