KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Upaya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur (Kutim) menekan penyebaran penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS, kini menghadapi tantangan besar. Pasalnya, keberadaan pekerja seks komersial (PSK) semakin sulit dipantau karena banyak beroperasi di lokasi tersembunyi.
Plt Kepala Dinkes Kutim, Sumarno mengatakan, setelah tempat-tempat hiburan malam resmi ditutup, aktivitas PSK justru berpindah ke lokasi yang tidak terpantau.
“Kutim ini sekarang tersebar, agak susah dipantau. Karena yang legal kan ditutup. Akhirnya pindah di remang-remang, di hotel. Seperti itu yang kadang-kadang kita kesusahan,” ujarnya, Rabu (22/10).
Perubahan pola tersebut membuat petugas kesulitan melakukan pemantauan dan pemeriksaan rutin terhadap populasi berisiko. Padahal, Dinkes bersama puskesmas dan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) secara berkala melakukan pemeriksaan dan penyuluhan di seluruh kecamatan.
Menurut Sumarno, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran meningkatnya penularan HIV. Ia menyebut, penyebaran HIV di kalangan PSK bisa meluas apabila tidak dilakukan pengawasan ketat.
Untuk meminimalkan risiko, Dinkes Kutim tetap menggelar pemeriksaan sukarela dengan pendekatan persuasif. Petugas mendatangi lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat praktik PSK dan memberikan penyuluhan sebelum pemeriksaan dilakukan.
“Dari kesadaran mereka kalau mau periksa. Tapi dikasi penyuluhan dulu, kemudian dilakukan pendampingan kalau misalnya positif,” ujarnya.
Hingga Oktober tahun ini, lebih dari seratus PSK terdeteksi positif penyakit menular seksual, baik kasus lama maupun temuan baru. Sebagian di antaranya juga menjalani pendampingan karena positif HIV.
Sumarno berharap masyarakat tidak memberi stigma negatif terhadap para penderita HIV, melainkan memberi dukungan agar mereka mau berobat rutin.
“Orang dengan HIV bisa hidup sehat asal minum obat secara teratur. Banyak juga di antara mereka yang sekarang ikut membantu kami jadi penyuluh,” pungkasnya.
Berdasarkan data KPAD Kutim per Agustus 2025, kasus infeksi HIV masih didominasi oleh laki-laki dengan persentase 65 persen, sedangkan perempuan menyumbang 35 persen.
Jika dilihat dari kelompoknya, pasangan berisiko tinggi menempati porsi terbesar yaitu 47 persen, disusul lelaki seks dengan lelaki (LSL) 24 persen, pelanggan wanita pekerja seks langsung (WPSL) 16 persen, serta wanita pekerja seks langsung 5 persen.
Adapun wanita pekerja seks tidak langsung (WPSTL) dan pelanggan WPSTL masing-masing tercatat 2 persen, waria 1 persen, dan tipe lainnya 3 persen. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo