KALTIMPOST.ID-Berkeliling di SMP 6 Anggana, awak media ini tak tak memerlukan waktu lama. Ruang kelasnya terbatas. Bahkan tak memiliki lapangan olahraga.
Berjalan-jalan di area sekolah, mata media ini tertuju pada anak yang duduk melantai di depan perpustakaan.
Anak yang ternyata juga bertalenta dan punya ambisi tinggi serta prestasi. Umi panggilannya. Nama lengkapnya Umi Kalsum. Dia pelajar SMP 6 Sepatin.
Umi bercerita, setiap pagi, sekitar pukul 06.50 Wita, dia sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
Sengaja lebih cepat turun untuk menyiapkan diri dan menambah waktu belajar. Dengan buku didekapnya, dan tas disandang di punggungnya. Langkahnya mantap ke sekolah.
Umi duduk di bangku kelas VIII di SMP 6 Anggana. Jarak sekolah dengan rumahnya tak begitu jauh. Dia putri asli Desa Sepatin.
Dara kelahiran 18 November 2011 itu punya mimpi besar bagi tanah kelahirannya. Ingin membangun Sepatin lebih maju.
Satu pelajaran yang sangat digemarinya adalah matematika. “Bukan berarti pelajaran lain enggak suka, kalau matematika itu spesial,” ungkapnya.
Semula dia bahkan tak terlalu suka. Terlebih melihat angka-angka. Namun, apa yang tak disuka justru membuatnya semakin jatuh cinta.
“Awalnya itu susah banget, dan enggak langsung bisa. Tapi pelan-pelan diikuti prosesnya, sambil konsisten, eh makin tertarik. Matematika di kepala saya itu jadi seperti punya magnet. Seperti membuat saya semangat menguliknya,” ujarnya sembari tersenyum.
Belajar, bagi Umi, bukan sekadar menuntaskan kewajiban. Dia menjadikan selayaknya bernapas, dari rumah ke sekolah, di dalam kelas, pun dari sekolah kembali ke rumah.
“Matematika itu kalau diikuti dengan sabar, lama-lama akan tahu polanya, kak,” ungkapnya dengan nada penuh keyakinan.
Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Umi dinobatkan sebagai juara Puskanas bidang matematika hingga ke level provinsi.
Raihan manis yang didapat bukan dari kemewahan fasilitas, melainkan ketulusan belajar di tengah segala keterbatasan.
“Lomba itu online, pakai chromebook. Internet di sini tergantung cuaca, kalau panas bagus, kalau mendung agak susah. Karena di sini (Desa Sepatin) kan listrik belum 24 jam,” imbuhnya.
Umi bukan selalu ditemani orangtuanya. Di usianya yang baru menginjak remaja, Umi lebih sering sendiri.
Ayah dan ibunya bekerja di Anggana, jauh dari Desa Sepatin, mencari rezeki untuk masa depan yang lebih baik. Hanya sesekali mereka pulang, membawa cerita dan pelukan yang sangat dirindukan Umi.
Pada hari-hari biasa, dia lebih sering sendiri. Terkadang saudara dari ibunya datang setelah pulang dari empang. Tinggal beberapa hari lalu kembali ke empang. Selebihnya, Umi ditemani buku-buku.
Dia belajar sendirian, menyelesaikan tugas, menghitung angka, dan terus berusaha menggapai mimpi.
“Ya terkadang main juga sama teman-teman. Tapi intensitas belajar lebih banyak, kan inginnya biar orangtua bangga,” sebutnya.
Dari sekolah yang sederhana, Chromebook jadi “jendela” anak-anak SMP 6 Anggana membuka dunia.
Mereka belajar soal-soal yang lebih sulit. Memahami pelajaran tidak sekadar lewat penjelasan guru, tapi juga menonton video pelajaran untuk menambah ilmu baru.
Umi punya harapan, setelah lulus dari SMP, tekadnya sudah bulat melanjutkan pendidikan ke SMA. “Pastinya ke kota, karena di sini (Sepatin) tidak ada SMA. Paling dekat ya di Anggana,” sebutnya.
Namun, ada tujuan daerah lain. Dia ingin lebih jauh merantau. Ke Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Bukan tanpa alasan. Umi melihat sepupunya di sana juga memiliki sederet prestasi.
“Dia (sepupu) juga pintar, makanya ingin belajar juga ke sana. Selain ada keluarga di sana, ingin tahu rasanya tantangan seperti apa,” tegasnya.
Dia tak pernah merasa tertinggal meski sekolahnya saat ini berada jauh dari kota. “Karena saya merasa juga bisa. Jadi buat apa malu sama teman yang ada di kota. Teman-teman di sini juga sebetulnya banyak yang juara, seperti lomba OSN, menggambar, dan masih banyak lagi,” tambahnya. (rd)
Editor : Romdani.