KALTIMPOST.ID-Jappa duduk manis di ujung bangunan kayu, tubuhnya bersandar di pagar yang mulai kusam dimakan waktu.
Tangannya sesekali memegangi kaki, gerakan kecil yang seperti menenangkan diri di bawah terik matahari dan lengang.
Laut jauh di seberang sana, birunya hanya terlihat samar. Sudah cukup lama dia tak lagi ke sana.
Pria kelahiran Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar) itu dulu hidup dari laut.
Dia pernah punya kapal sendiri, alat untuk mencari nafkah sekaligus kebanggaannya sebagai nelayan.
Sayangnya, kapal itu dijual belum lama ini. Bukan semata keinginan, tapi kebutuhan mendesak yang membuatnya tak ada pilihan lain.
“Susah di sini kalau enggak punya kapal,” ucapnya lirih. “Dijual untuk berobat. Saya sudah tua, enggak mungkin melaut terus-terusan,” sambungnya.
Hari-harinya kini lebih sering dihabiskan di rumah sederhana tak jauh dari SMP 6 Anggana. Dia sering memandangi anak-anak berseragam biru-putih melintas menuju sekolah. Bahkan satu di antaranya adalah anaknya sendiri.
“Anak saya seharusnya 10, tapi Allah SWT punya kuasa, yang tersisa lima. Salah satunya sekolah di SMP 6,” sebutnya. Suaranya terdengar datar, tapi matanya menyimpan rasa syukur mendalam.
Terkadang, jika kondisi tubuhnya memungkinkan, Jappa masih ikut melaut bersama tetangga. Mencari ikan dan kepiting.
Tapi bagi pria yang lahir pada 1964 itu, laut bukan lagi tempat utama menggantungkan harapan.
Dia menitipkan mimpinya pada anak-anaknya, agar mereka bisa menggapai dunia yang tak lagi diukur pasang surut air.
“Satu anak saya kerja di PHM (Pertamina Hulu Mahakam),” ucapnya sembari tersenyum tipis. “Dia ingin kuliah, tapi karena biaya belum cukup, kerja dulu. Saya ingin mereka sekolah setinggi mungkin. Jangan seperti saya,” jelasnya.
Dia bahkan ingat sekali, anaknya bercita-cita sebagai pengacara. Jappa yakin anaknya bisa meraih itu. Karena dia merasakan bagaimana satu anaknya bisa melanjutkan pendidikan berkat hadirnya PHM.
Semenjak program-program CSR PHM “menjamah” Desa Sepatin, perubahan begitu terasa. Anak-anak di daerah sini lebih dipermudah.
“Kalau orang-orang yang tinggal di dekat empang dulu memang harus diantar pakai perahu. Sekarang alhamdulillah sudah lebih baik,” tegasnya. (rd)
Editor : Romdani.