KALTIMPOST.ID- Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini membawa makna berbeda bagi generasi muda di Penajam Paser Utara (PPU). Di tengah laju pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sejumlah pemuda lokal menegaskan tekadnya untuk terlibat langsung dalam proses sejarah itu.
Salah satunya Abdul Rahman, aparatur di Otorita IKN, yang menyebut bahwa pemuda daerah harus menjadi aktor utama dalam perubahan, bukan sekadar penonton di tanah sendiri.
“Kita ingin, sebagai bagian dari pemuda dan putra daerah, ikut ambil bagian. IKN ini kan lahir di PPU, jadi sudah sepatutnya kami juga berperan aktif. Bukan sekadar melihat dari jauh, tapi ikut mencatat sejarah,” ujarnya, Senin (27/10).
Menurut Abdul Rahman, keterlibatan pemuda lokal dalam proses pembangunan IKN bukan hanya soal kebanggaan daerah, tetapi juga tanggung jawab moral. Dia menilai, generasi muda harus siap berkiprah dalam berbagai bidang, baik pemerintahan, keamanan, hingga lingkungan.
“Kalau bicara pendidikan, itu sudah hal mendasar di era modern. Tapi selain itu, kita juga perlu soft skill, kepribadian, dan wawasan kebangsaan. Apalagi IKN ini jadi simbol kemajuan dan keberlanjutan bangsa,” ungkapnya. Abdul Rahman sendiri telah bertugas di IKN sejak Oktober 2023.
Sebelumnya, dia menjabat sebagai pejabat struktural di Kabupaten PPU sebelum dimutasi menjadi fungsional di Otorita IKN. Kini, sehari-harinya dia menjalankan sebagai analis Kebijakan Ahli Muda pada Direktorat Ketentraman dan Ketertiban Umum Otorita IKN.
Bagi Abdul Rahman, momentum Peringatan Sumpah Pemuda i menjadi pengingat bahwa generasi muda, khususnya putra daerah PPU, tak boleh hanya jadi penonton dalam sejarah besar dan fundamental pembangunan ibu kota baru Indonesia. Dia menyebut, kehidupan ASN di kawasan IKN kini semakin tertata.
Hampir semua apartemen pegawai dilengkapi fasilitas olahraga, jogging track, dan lapangan tenis. Fasilitas itu, kata dia, bukan hanya tempat melepas penat, tetapi juga sarana mempererat hubungan antarpegawai.
“Situasinya nyaman dan kondusif. Kami betah bekerja di sini, dan terus ingin mengambil bagian untuk mendukung keberlanjutan pembangunan IKN,” tuturnya. Namun, di balik kemajuan pembangunan, Abdul Rahman juga menyoroti persoalan serius, aktivitas tambang ilegal di sekitar wilayah IKN.
Baca Juga: Truk Bermuatan Besi Rigging Terguling ke Jurang di Samarinda, Satu Pekerja Terjepit
Menurutnya, hal ini menjadi tantangan nyata dalam menjaga visi IKN sebagai kota hutan (forest city) dan simbol keberlanjutan lingkungan. “Kita tidak ingin konsep IKN sebagai kota hijau rusak karena tambang ilegal. Satgas penanggulangan aktivitas ilegal di wilayah IKN sudah dibentuk sekitar dua tahun lalu, dan kami rutin berkolaborasi dengan kepolisian, kejaksaan, dan kementerian terkait untuk menindak pelanggaran,” jelasnya.
Dirinya tak menampik, operasi semacam itu tak mudah. Sering kali ada pihak-pihak yang membekingi aktivitas ilegal tersebut. “Kita siapkan strategi dan personel yang punya kompetensi untuk menghadapi situasi itu. Kolaborasi kuncinya,” kata Abdul. Kini, geliat kehidupan di sekitar KIPP mulai terasa. Kafe, warung kopi, dan minimarket tumbuh di kawasan Sepaku.
Ekosistem ekonomi telah terbentuk, menandakan IKN hidup dan menjadi daya tarik ekonomis baik bagi pengusaha lokal maupun dari luar. “Ibarat gula, semut banyak berdatangan. Tapi yang penting, semua tumbuh dengan arah yang benar dan tetap menjaga nilai-nilai keberlanjutan,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki