Dalam hitungan menit, suasana berubah mencekam. Tamu hotel berhamburan keluar kamar, sebagian masih mengenakan pakaian seadanya. Sistem proteksi kebakaran yang seharusnya bekerja otomatis ternyata tak berfungsi sebagaimana mestinya. Hydrant di hotel itu tidak otomatis, dan sprinkler—yang seharusnya menyemburkan air saat terdeteksi panas—tidak aktif. Panik pun tak terelakkan.
Menurut laporan sementara Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Samarinda, api melahap dua kamar di lantai dua dengan luas sekitar 20 x 30 meter persegi. Sumber api sementara diduga berasal dari salah satu kamar di lantai tersebut. Penyebab pasti masih diselidiki pihak berwenang.
Di tengah kepulan asap, Devi, tamu asal Kutai Timur, menjadi saksi bagaimana detik-detik kepanikan itu terjadi. Ia sedang bersiap mengikuti pelatihan ketika suara teriakan anaknya memecah pagi. “Saya lagi pakai bedak, siap-siap mau pelatihan. Tiba-tiba anak saya teriak, ‘Ma, ada api kebakaran!’” kisahnya, dengan mata berkaca-kaca.
Anaknya yang berada di kamar 236 melihat kobaran api dari luar jendela kamar lain di lantai dua. Seketika ia meminta sang ibu segera keluar. “Dia (anak saya) yang kasih tahu. Kalau enggak, mungkin saya masih di kamar,” tutur Devi lirih.
Devi tak sempat membawa barang-barangnya. Lorong kamar sudah penuh asap, pandangan gelap, dan udara terasa panas. “Saya cuma bawa mukena yang masih dipakai habis salat Subuh. Saya juga sempat dengar suara ledakan,” ujarnya.
Dalam kondisi panik, ia berusaha mencari arah keluar. “Sempat bingung mau lari ke mana, tapi ada orang yang mengarahkan kami untuk keluar,” tambahnya. Meski api akhirnya berhasil dipadamkan, kejadian itu menyisakan banyak tanya soal kesiapan sistem keselamatan di gedung-gedung tinggi di Samarinda. (*/riz)