NUSANTARA – Dalam hasil kajian yang baru-baru ini disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut ketersediaan air baku di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan wilayah sekitarnya sangat minim. Hingga, jika tidak dikelola dengan baik akan berpotensi munculnya krisis air bersih hingga dampak sosial dan lingkungan.
Menanggapi kajian BRIN tersebut, Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menyebut apa yang disampaikan peneliti BRIN hanya didasarkan pada data berbasis citra satelit dan diambil pada 2022 lalu. Sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat jika tidak disertai dengan penelitian langsung di lapangan.
“Saya enggak mau membantah BRIN ya. Namun kalau ambil data berbasis citra satelit, Jakarta itu melimpah air bakunya. Dari udara Jakarta punya 13 sungai. Itu air semua. Tapi kenyataannya apa? Jakarta justru air bakunya sebagian besar diambil dari Waduk Jatiluhur di Jawa Barat,” ungkap Basuki kepada awak media di IKN, Rabu (29/10/2025).
Kata Basuki, ini menunjukkan jika sungai-sungai di Jakarta, meski airnya melimpah menurut citra satelit, namun kenyataan di lapangan tidak bisa dimanfaatkan sebagai air baku karena sudah tercemar berat.
“Jadi kalau BRIN liat Jakarta, beuh, banyak airnya tapi apa? Sungai di sana banyak jadi septic tank. Ini bahayanya kalau kajian hanya dari citra satelit. Menurut saya isu ini harus dibenahi. Karena kejadian, waktu Pak Alimuddin (Deputi Bidang Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN) bikin Duta Pariwisata, banyak orangtua yang enggak bolehkan anaknya ke sini (IKN), takut anaknya enggak bisa mandi,” tutur Basuki.
IKN, lanjut Basuki, sudah memiliki penyelesaian dan perencanaan untuk pemenuhan air baku. Mulai dari pembangunan embung, kolam retensi hingga bendungan. Saat ini misalnya, untuk pemenuhan air bersih, IKN mengandalkan Intake Sepaku yang saat ini memproduksi 300 liter per detik air bersih.
“Dalam penyediaan air baku ini tentu kami punya perencanaan. Kami ada Bendungan Sepaku-Semoi. Selain itu kami punya Bendungan Batu Lepek. Belum lagi nanti ada dari Arsari Group yang bakal bangun bendungan,” ucap Basuki.
Ditambahkan Plt Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Otorita IKN Danis Hidayat Sumadilaga, saat ini IKN masih mengandalkan air baku dari sumber permukaan. Bukan air tanah. Dengan mengandalkan Bendungan Sepaku Semoi yang punya luasan areal hingga 900 hektare dengan kapasitas daya tampung 16 juta meter kubik. Mampu memproduksi air hingga 2.500 liter per detik.
“2.500 liter per detik itu nanti kami bagi. 1.500 untuk IKN, 1.000 untuk Balikpapan. Itu sudah cukup. Kami juga siapkan reservoir 12 ribu kubik. Air baku itu nanti diproses menjadi air bersih yang siap minum. Masalahnya memang, BRIN itu belum melihat kondisi lapangan. Dan ini sudah dijelaskan ketua tim peneliti BRIN,” ucap Danis.
Sebagai informasi, sebelumnya Peneliti Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Laras Toersilowati, menjelaskan berdasarkan analisis artificial neural network, berbasis citra satelit, air permukaan di IKN hanya 0,51 persen. Sedangkan air vegetasi 20,41 persen, dan area non-air mencapai 79,08 persen.
Untuk itu Laras merekomendasikan pembangunan hutan kota, embung, dan penerapan konsep sponge city untuk memperkuat cadangan air.
“Ketersediaan air di IKN menjadi isu penting. Jika tidak diantisipasi sejak awal, pembangunan besar-besaran di wilayah tersebut dapat berhadapan dengan risiko krisis air,” terang Laras seperti dikutip dari laman resmi BRIN.
Laras menjelaskan hasil penelitian terbaru BRIN tersebut dalam paparannya terkait pemanfaatan data satelit dalam menganalisis perubahan iklim perkotaan di Indonesia, dalam acara Ocean Indonesia and Atmosphere Training Workshop, Selasa (16/9/2025) lalu di BRIN Bandung. (*)
Editor : Muhammad Ridhuan