Bagi Zulkifli, guru SMP 6 Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar) perjalanan mengajar di Sepatin ibarat menulis ulang makna pengabdian. Dua tahun lalu, ketika dirinya dipindahkan dari pusat kota ke wilayah pesisir ini, perasaan kecewa sempat menyelimuti.
TIDAK pernah terpikir, Zulkifli harus menerima berita mutasi ke daerah terpencil, jauh dari gemerlap perkotaan.
“Awalnya saya benar-benar kaget. Air, listrik, dan internet nyaris tidak ada. Saya berpikir, bagaimana saya bisa mengajar dengan kondisi begini?” kenangnya. Tapi waktu mengubah segalanya.
Satu hingga dua bulan setelah tiba, Zulkifli melihat perubahan besar. Program Sekolah Negeri Terapung Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang sejak 2021 hadir di Delta Mahakam membawa perubahan signifikan.
“Awalnya memang saya hanya mendengar ada bantuan PHM disini. Cuma tetap pikiran saya, itu daerah terpencil. Menuju kesana saja harus melewati sungai selama dua jam. Namun, ketika saya sudah mulai tinggal di sana, saya tidak menyangka perkembangannya secepat itu. Ada panel surya, jaringan internet lewat Starlink. Plusnya, bagi guru, saya mendapat pelatihan yang mungkin saya tidak dapat jika hanya mengajar di Kukar, pusat kotanya. Saya yang tadinya introvert, kini bisa berkomunikasi dan mengajar dengan lebih baik,” ujarnya sambil tersenyum.
Pelatihan demi pelatihan diberikan, mulai keterampilan berbicara, metode pembelajaran kreatif seperti menggunakan game Kahoot, hingga penggunaan perangkat digital, Chromebook. Kini, murid-murid di SMP 6 Sepatin bahkan sudah terbiasa belajar menggunakan Chromebook.
“Kalau dilihat, anak-anak di sini justru lebih cepat adaptasi dengan teknologi. Mereka lebih update cara belajar digital dibanding ekspektasi kami sebelumnya,” ujar Zulkifli.
Saat ini, total pengajar di SMP 6 dan SD 016 Sepatin berjumlah lima guru PNS dan tiga orang PPPK, serta dua orang dari Indonesia Mengajar. Untuk murid SMP 6 sendiri saat ini berjumlah 54 orang.
Berjalannya waktu, program PHM tak hanya menghadirkan infrastruktur, tapi juga membangun kapasitas sumber daya manusia.
Tiga di antaranya menjadi guru penggerak, dan dua guru terpilih mewakili Indonesia dalam ajang pendidikan internasional.
Zulkifli mengakui, perubahan paling terasa justru pada semangat murid-muridnya. “Mereka sekarang punya kepercayaan diri tinggi. Kalau sore diminta ikut pelajaran tambahan, semuanya datang. Mereka cinta sekolah. Bahkan, banyak yang mulai bercita-cita jadi guru atau perawat,” ungkapnya.
Namun, di balik semangat anak-anak itu, masih ada tantangan besar. Menurut Naila Faza Kamila, guru penggerak dari program Indonesia Mengajar, literasi pendidikan masyarakat di Desa Sepatin masih rendah.
“Sebagian besar orangtua hanya tamatan SD atau SMP, bahkan ada yang tidak tamat. Mereka berpikir lebih baik anak ikut membantu kerja menjadi nelayan daripada melanjutkan sekolah,” jelas Naila, yang sudah dua tahun mendampingi sekolah di bawah binaan PHM.
Dulu, sebelum program itu berjalan, hanya sekitar 40-50 persen siswa SMP yang melanjutkan ke SMA. Selain karena jarak, alasan finansial menjadi kendala utama.
“SMA terdekat ada di Kecamatan Anggana, harus naik kapal sekitar dua jam. Anak-anak harus kos di sana, dan orang tua khawatir soal biaya dan keamanan,” ujarnya.
Solusinya, dia bersama guru di sekolah, melakukan home visit, mengunjungi rumah-rumah warga untuk memberikan pemahaman langsung kepada orangtua.
Mereka menjelaskan pentingnya pendidikan lanjutan dan menautkan informasi bantuan biaya pendidikan.
“Kasihan, kalau anaknya sudah semangat sekolah, tapi orang tuanya enggan mendukung,” bebernya.
“Alhamdulillah, dari PHM lalu kami bantu menghubungkan ke Dinas Pendidikan Kukar dan Kaltim, ada linkage beasiswa serta bantuan yang didapat. Tahun ini, sudah banyak anak yang melanjutkan SMA berkat arahan itu. Alhamdulillah, pemda juga melirik daerah ini karena apa yang telah ditanamkan PHM di sini,” tambah Naila.
Perubahan itu dirasakan langsung oleh Edho dan Diah, warga Desa Sepatin yang memiliki lima anak.
Tiga anak pertama mereka hanya tamat SMP. Namun berkat pendampingan para guru dan program PHM, dua anak bungsunya kini bisa lebih baik, bahkan sudah melanjutkan tingkat SMA.
“Sebelum ada program ini atau PHM hadir, saya tidak tahu bagaimana caranya anak lanjut sekolah. Ya tahunya yang penting sekolah. Tapi, sejak program ibu aktif, dari guru-gurunya sering datang ke rumah, kasih semangat, membantu mengarahkan. Anak saya yang awalnya enggan melanjutkan sekolah, sekarang jadi semangat,” ujar Edho.
Ia menambahkan, anaknya yang menempuh pendidikan SMA, kini tinggal di Kecamatan Anggana di rumah kos. Ia tetap rutin berkomunikasi dengan guru SMP-nya lewat video call.
“Guru-gurunya luar biasa. Mereka bukan cuma mengajar, tapi juga jadi keluarga bagi anak-anak kami,” ucapnya haru.
Diah, sang istri, menambahkan, anak keempat dan kelima beda sekali dengan anak pertama hingga ketiga.
“Mereka punya cita-cita, lebih percaya diri. Semua karena adanya program ini,” ungkapnya.
Sebagai informasi, kerja sama yang dijalin antara PHM dan sekolah-sekolah di Delta Mahakam terbukti membuahkan hasil signifikan.
Dalam kurun tiga tahun terakhir, dari 2022 hingga 2024, berbagai capaian membanggakan berhasil diraih.
Tercatat 62 penghargaan diperoleh guru dan siswa, mulai tingkat kecamatan hingga ajang internasional.
SMP 6 Anggana bahkan menorehkan prestasi sebagai penerima penghargaan Adiwiyata Kabupaten sekaligus ditetapkan sebagai Sekolah Rujukan Google.
Dari sisi individu, seorang siswa bernama Idul menorehkan kebanggaan dengan memenangkan lomba menggambar tingkat internasional di Amerika Serikat.
Sementara, dua guru berhasil lolos kompetisi seni tingkat Asia Tenggara, dan satu guru lainnya memperoleh kesempatan beasiswa ke Amerika Serikat.
Tak hanya di bidang akademik dan seni, kerja sama itu juga berdampak pada peningkatan akses pendidikan.
Sebanyak 101 siswa pesisir berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui program beasiswa KIP maupun jalur prestasi.
Selain itu, penerapan energi surya (PLTS) di empat sekolah turut mendukung efisiensi energi dengan penghematan biaya hingga Rp 38,8 juta per tahun serta penurunan emisi karbon sebesar 7,6 ton CO₂ setiap tahunnya.
Bagi PHM, pencapaian itu membuktikan bahwa pendidikan bisa menjadi jembatan perubahan sosial dan lingkungan.
“Kami ingin anak-anak pesisir tidak hanya cerdas akademik, tapi juga berkarakter dan mencintai lingkungan. Dari sekolah, lahir agen perubahan,” ujar Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto.
Ke depan, PHM menargetkan replikasi program Sekolah Negeri Terapung ke wilayah pesisir lainnya di Kaltim.
Fokusnya adalah melahirkan guru asli daerah dengan kapasitas mumpuni, serta mengembangkan kurikulum muatan lokal yang relevan dengan karakter masyarakat pesisir.
Bagi Zulkifli, semua ini adalah perjalanan spiritual. “Saya datang ke sini dengan kecewa, tapi malah menemukan panggilan hidup. Di sini saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar mengajar, tapi tentang menyalakan harapan,” ujarnya.
Ia menutup dengan sebuah refleksi yang sederhana tapi dalam, kalau nasi sudah jadi bubur, bukan berarti tidak bisa enak.
Tinggal bagaimana kita mengolahnya. “Begitu juga pendidikan meski dari tempat kecil seperti Desa Sepatin, hasilnya bisa luar biasa,” bebernya.
Di atas air Sungai Mahakam, sekolah sederhana itu berdiri tegak, dengan cahaya panel surya menerangi ruang kelas, dan tawa anak-anak pesisir bersama semangat baru.
Dari Delta Mahakam, perubahan itu terus berlayar, menuju masa depan yang lebih terang. (aji/rd)
Editor : Romdani.