KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Keputusan berpisah bukan hal mudah bagi Andriana Julianty. Dia sempat berharap rumah tangganya bisa diperbaiki, terutama setelah berulang kali memaafkan. “Aku maafkan (meski sering dibohongi dan diselingkuhi) aku bahkan bawa dia umrah,” katanya mengenang masa-masa sebelum perpisahan.
Perjalanan umrah itu sempat menjadi harapan baru. Namun setibanya di tanah air, keadaan kembali sama. Ketidakhadiran dan jarak emosional tetap terasa.
“Enggak ada perubahan sikap yang kelihatan. Aku kan kerja pagi sampai sore, dia itu kalau pagi sampai sore tempat keluarganya. Aku pulang sore, dia ke majelis. Jadi kayak bukan suami-istri, jarang komunikasi," beber perempuan yang karib disapa Nana itu.
Dalam kebimbangan, dia mencari ketenangan lewat doa. “Aku istikharah, aku minta sama Allah,” tuturnya. Dari situ, dia merasa diberi petunjuk untuk mengambil langkah yang menenangkan hati. Apalagi, ada anak yang butuh sosok ayah, jika tidak mampu, menurutnya sebaiknya sudahi saja.
Nana tidak ingin memperpanjang kebimbangan hatinya. Dia memilih melepaskan tanpa banyak tuntutan. Keputusan berat apalagi saat itu anaknya masih kecil. Diakui jika peran suami dan ayah hampir tidak pernah dijalankan mantan suaminya itu.
Menurutnya, titik jenuh datang bukan karena marah, tapi karena lelah mempertahankan hubungan yang tak lagi sehat. Bahkan disaat dia memutuskan untuk memaafkan dengan lapang dada, tapi malah terus disia-siakan.
Pernikahan tiga tahun itu selesai, Nana fokus membangun suasana stabil untuk anak. Dia memastikan anaknya tetap mendapat kasih sayang dari keluarga besar, meski tanpa figur ayah kandung.
Selain itu, Nana berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran bagi perempuan lain. Dia berpesan agar melihat bagaimana calon pasangan memperlakukan ibunya sebelum menikah.
"Setidaknya kalau dia bisa menghargai ibunya, bisa menghargai istrinya juga. Jangan nilai juga dari apa yang kelihatan. Aku pikir agamanya baik, ternyata aku diselingkuhi," kata perempuan kelahiran 1995 itu.
Kini, dia menjalani hidup dengan lebih tenang. Tidak ada penyesalan, hanya rasa syukur karena akhirnya bisa berdiri di atas keputusan sendiri. Baginya, doa dan keteguhan hati menjadi kunci untuk melangkah.
“Dulu itu aku percaya sama dia karena teman kakakku juga di majelis. Aku pikir akhlaknya baik karena orang majelis, kan. Hanya sekadar kenal, ternyata dia mau serius. Aku dulu pernah pacaran 7 tahun dan trauma karena ternyata aku diselingkuhi juga," kenangnya.
Keputusan itu menutup satu bab dalam hidupnya, tapi juga membuka ruang baru untuk kedamaian. Dia menyebut, semua proses panjang itu mengajarkannya arti ikhlas, tentang melepaskan tanpa dendam, dan mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih bijak. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo