KALTIMPOST.ID, JAKARTA-Pihak Kepolisian memastikan bahwa terduga pelaku insiden ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta telah siuman. Ia saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyatakan bahwa prioritas utama tim medis dan kepolisian saat ini adalah memulihkan kondisi fisik dan mental terduga pelaku, yang diketahui masih berstatus anak.
“Masih dalam perawatan dan kondisinya sudah sadar,” kata Budi, Sabtu (8/11). Budi merinci, terduga pelaku mengalami cedera di bagian kepala dan telah menjalani operasi. Meskipun kesadaran telah pulih, proses pemulihan harus dilakukan secara bertahap.
"Luka di bagian kepala dan ada luka goresan. Iya menjalani operasi, pada bagian kepala, ya. Sudah sadar, tapi kan harus pelan-pelan karena kan bentuk perlukaan juga masih berat jadi kita harus sama-sama perhatikan dulu pemulihan fisik medis, termasuk psikis yang bersangkutan," tambahnya, membenarkan bahwa pelaku ditempatkan di ruang perawatan intensif (ICU).
Di tempat terpisah, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan peninjauan langsung terhadap para korban ledakan yang dirawat di berbagai rumah sakit. Dari total 96 korban yang tercatat, sebanyak 29 orang masih menjalani perawatan intensif, sementara 67 korban lainnya telah diizinkan pulang karena kondisi membaik.
Kapolri menegaskan bahwa prioritas utama Polri saat ini adalah pemulihan kesehatan seluruh korban. "Kita saat ini adalah fokus dulu terhadap pemulihan... prioritas pertama adalah perawatan intensif kepada para korban dulu," ucap Listyo Sigit.
Untuk mendukung pemulihan menyeluruh, Polri bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menurunkan tim trauma healing. Tim ini bertugas memulihkan kondisi psikologis siswa dan pihak sekolah. Kapolri berharap, dengan adanya penanganan medis dan psikologis yang beriringan, kegiatan belajar mengajar dapat segera normal kembali.
Kesaksian Korban: Ledakan Terjadi Dua Kali
Seorang siswa SMAN 72 Jakarta berinisial A menceritakan kembali momen mencekam saat ledakan terjadi. A mengaku berada di tengah masjid ketika insiden tersebut berlangsung dan ia kembali ke sekolah didampingi orang tuanya untuk mengambil barang-barang.
"Saya di tengah masjid. Ledakan di sebelah kanan, 5 sampai 3 meter," cerita A kepada wartawan di lokasi, Sabtu (8/11).
Menurut kesaksian A, ledakan terjadi dua kali secara berurutan. Ledakan pertama terjadi menjelang dimulainya salat Jumat, dan ledakan kedua terjadi 10 hingga 15 menit kemudian, setelah masjid mulai kosong.
Saat ledakan pertama, A segera keluar bersama siswa lainnya. Ia sendiri mengalami luka gores di kepala dekat telinga, yang masih dibalut perban. A menduga isi dari bom tersebut adalah paku, karena beberapa temannya juga terluka akibat serpihan paku.(*)
Editor : Thomas Priyandoko