Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

SD 015 Marang Kayu Resmikan Perpustakaan Ramah Anak, Dorong Minat Baca Siswa di Pesisir Kukar

Romdani. • Rabu, 12 November 2025 | 06:05 WIB
Andi Kartini bersama murid saat proses belajar mengajar di SD 015 Marang Kayu.(FOTO TANOTO FOUNDATION)
Andi Kartini bersama murid saat proses belajar mengajar di SD 015 Marang Kayu.(FOTO TANOTO FOUNDATION)

KALTIMPOST.ID-Sebuah ruangan sederhana di SD 015 Marang Kayu, Kutai Kartanegara (Kukar) yang dulu dipenuhi debu, dinding retak, dan atap bocor, kini berubah menjadi perpustakaan ramah anak.

Ruang baca tersebut resmi dibuka pada 25 Maret 2025 dan menjadi fasilitas baru yang membanggakan bagi sekolah dasar di wilayah pesisir tersebut.

SD 015 Marang Kayu menjadi salah satu dari sedikit sekolah di Kukar yang memiliki perpustakaan dengan konsep ramah anak untuk mendukung peningkatan literasi.

Kepala SD 015 Marang Kayu Ratna menyebut transformasi itu tidak terjadi dalam waktu singkat.

Proses renovasi berlangsung selama tiga bulan dan melibatkan guru, orangtua, dan masyarakat sekitar.

Awalnya, ruangan yang kini menjadi perpustakaan hanya ruang kosong dengan kondisi tidak layak pakai.

“Dinding bolong dan atapnya bocor, tapi kami gotong royong memperbaikinya dengan apa yang ada,” kata Ratna.

Selain merenovasi fisik ruangan, pihak sekolah juga mengikuti pelatihan pengelolaan perpustakaan.

Pelatihan itu bertujuan agar guru mampu mendampingi murid, khususnya kelas bawah yang masih kesulitan beradaptasi dengan buku bacaan.

Para murid SD 015 Marang Kayu kini lebih antusias belajar di perpustakaan. (FOTO TANOTO FOUNDATION)
Para murid SD 015 Marang Kayu kini lebih antusias belajar di perpustakaan. (FOTO TANOTO FOUNDATION)

Ratna dibantu oleh dua guru pendamping, salah satunya Andi Kartini, guru kelas IV yang ditugaskan secara resmi sebagai pemandu perpustakaan melalui surat keputusan kepala sekolah.

Kartini menjelaskan, perpustakaan tersebut tidak sekadar ruang untuk meminjam buku, tetapi juga tempat belajar interaktif. Setiap kelas memiliki jadwal kunjungan rutin dua jam per pekan.

Di dalamnya, murid mengikuti kegiatan membaca nyaring, membaca bersama, hingga diskusi ringan. Dalam sesi membaca nyaring, guru membacakan cerita kemudian mengajak murid menebak jalannya cerita atau memprediksi akhir kisah.

“Kami ingin anak-anak merasa betah di sini, sekaligus belajar mencintai buku,” ucap Ratna.

Agar pembelajaran lebih inklusif, murid kelas atas juga dilibatkan sebagai relawan pendamping.

Pendekatan itu membantu murid kelas I dan II yang masih terbatas kemampuan literasinya, namun antusias mengenal buku baru.

Hasilnya mulai terlihat. Minat baca murid meningkat meski sebagian masih mengenal buku melalui gambar.

“Dulu banyak yang takut pegang buku, sekarang mereka antusias, meski kadang cuma lihat gambar,” ujar Kartini.

Ratna juga mengakui perubahan itu menjadi motivasi besar bagi guru untuk terus mendorong budaya literasi. “Melihat anak-anak mulai suka membaca adalah hadiah terbesar bagi kami,” ungkapnya.

Kehadiran perpustakaan ramah anak di SD 015 Marang Kayu menambah akses literasi bagi anak-anak di wilayah yang jauh dari pusat kota.

Sekolah berharap fasilitas ini berkembang menjadi ruang kreativitas dan tempat belajar yang menyenangkan.

Selain sebagai sumber pengetahuan, pihak sekolah melihat perpustakaan sebagai tempat membangun imajinasi dan membuka wawasan baru bagi siswa.

Perpustakaan itu menunjukkan bagaimana kolaborasi guru, orangtua, dan masyarakat dapat mendorong perubahan nyata di sekolah. Dengan fasilitas yang sederhana, program literasi tetap dapat berjalan efektif.

Menurut pihak sekolah, langkah tersebut juga dapat menjadi contoh bagi sekolah lain di daerah terpencil yang memiliki keterbatasan fasilitas.

Kini, ruangan yang dulu nyaris tidak terpakai itu menjadi ruang belajar baru bagi murid. Anak-anak duduk lesehan, membuka buku cerita, atau mendengarkan guru membacakan kisah.

Melalui perpustakaan ramah anak, SD 015 Marang Kayu berupaya menanamkan kecintaan membaca sejak dini.

Dengan suasana yang nyaman dan menyenangkan, sekolah berharap minat baca tumbuh bersama rasa percaya diri murid saat berinteraksi dengan buku.

Perpustakaan itu menjadi bukti bahwa pendidikan dapat bertransformasi lewat kerja sama dan komitmen bersama. (adv/rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #ibu kota nusantara #kutai kartanegara #tanoto foundation #Kutai Barat