BALIKPAPAN - Sejak berjalan Februari 2025, Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan turut mendampingi dan mengawasi program makan bergizi gratis (MBG). Ada lima poin evaluasi MBG dari sisi kesehatan.
Pertama beberapa satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) belum mempunyai standar operasional prosedur (SOP) penanganan limbah makanan sisa MBG. Sehingga perlu kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup.
“Limbah ini tidak boleh dibuang begitu saja. Khawatir masyarakat memungut makanan itu lagi,” kata Kepala DKK Balikpapan Alwiati. Padahal limbah ini tentu sudah tidak layak konsumsi.
Kedua, pihaknya menemukan SPPG tidak menjalankan SOP sesuai ketentuan. Ketiga kondisi workshop memiliki alur tidak sesuai. Keempat SPPG belum mempunyai sertifikat laik higiene dan sanitasi (SLHS).
Baca Juga: Baru 17 Persen Siswa di Balikpapan Nikmati MBG: Pemkot Berharap Pelaku Usaha Tertarik Bangun SPPG
Saat pemeriksaan, pihaknya hanya menemukan satu SPPG yang mempunyai SLHS. “Itu karena dia sebelumnya berasal dari catering,” tuturnya. Pihaknya sudah melakukan percepatan penerbitan SLHS.
“Sekarang ada 7 SPPG yang sudah memiliki standar dan mendapatkan sertifikat,” ucapnya. Kini tersisa tiga SPPG yang belum memiliki standar. Alwi mengimbau agar dilakukan perbaikan SOP.
“Bagaimana persyaratan yang sudah kita berikan pada saat latihan,” tuturnya. Terakhir poin evaluasi yakni belum ada tenaga sanitasi lingkungan di SPPG untuk mengawasi kondisi kesehatan lingkungannya.
Baca Juga: Kebutuhan Pangan MBG di Balikpapan Bergantung Impor Lokal: Satu SPPG Perlu 212 Kg Telur Per Hari
Selain lima poin ini, DKK Balikpapan memperhatikan penyediaan air baku untuk pencucian piring. Sebaiknya kalau menggunakan air tanah melalui pompa harus dilakukan pemeriksaan.
“Karena air tanah itu paling parah mengandung bakteri escherichia coli (E.coli),” tuturnya. Apalagi kalau di lingkungan padat penduduk, air ini bisa terkontaminasi oleh septic tank yang ada di lingkungan sekitar.
Dia menyarankan untuk pencucian bahan pangan juga menggunakan air isi ulang atau air galon yang sudah memiliki SLHS. Opsi lainnya yang sudah dilakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin. “Hasil temuan kita masih ada yang mengandung bakteri-bakteri,” imbuhnya. Dinas Kesehatan berkomitmen selalu melaporkan percepatan, penertiban, dan pengawasan SPPG. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki