Upacara Jumenengan Dalem Nata Binayangkare digelar di dalam kompleks Kedhaton, dimulai dari Dalem Ageng Prabasuyasa—ruang paling sakral di Keraton.
Dari sana, Purbaya keluar melalui Kori Kamandungan Ler sekitar pukul 11.00 mengikuti tata upacara yang diwariskan para pendahulu.
Purbaya tampil mengenakan ageman takwa berwarna fuchsia dipadukan jarik parang barong sogan khas Surakarta. Didampingi prajurit Keraton, ia berjalan menuju Siti Hinggil dan berdiri di Bangsal Manguntur Tangkil untuk mengucapkan sumpah sebagai raja.
Di hadapan para sesepuh dan abdi dalem, Purbaya menyatakan dirinya menggantikan almarhum ayahnya, Pakubuwana XIII, yang berpulang pada 2 November lalu.
Ia sebenarnya telah naik takhta sehari sebelum jenazah sang ayah diberangkatkan ke Pajimatan Imogiri pada 5 November, namun penobatan resmi baru digelar hari ini.
Begitu sumpah selesai dibacakan, Purbaya duduk di dampar. Gamelan Monggang mengalun menandai peralihan kekuasaan di lingkungan Keraton Surakarta. Prosesi ditutup dengan kirab Jumenengan, saat sang raja menaiki kereta Kyai Grudha Kencana mengelilingi kawasan keraton.
Ketua Panitia Jumenengan, GKR Timoer Rumbai, menyebut momen ini sebagai titik balik Keraton Surakarta.
“Sabda Dalem di Watu Gilang bukan hanya ikrar seorang raja, tetapi juga peneguhan kembali martabat Mataram,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Namun penobatan itu berlangsung di tengah kisruh suksesi. Kakak Purbaya, KGPH Hangabehi atau Mangkubumi, juga mengklaim sebagai pewaris takhta dan menyebut dirinya dengan gelar yang sama: SISKS Pakubuwana XIV.
Dualisme ini pernah terjadi di masa lalu dan kembali mencuat setelah wafatnya Pakubuwana XIII.
Editor : Uways Alqadrie