KALTIMPOST.ID-Awan gelap tengah menaungi langit ekonomi Kaltim. Di tengah geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan optimisme pemulihan ekonomi nasional, sektor batu bara yang menjadi penopang utama perekonomian Benua Etam kembali terguncang.
Harga batu bara acuan (HBA) untuk periode pertama November 2025 turun ke level USD 103,75 per ton. Turun signifikan dari posisi Oktober yang masih bertengger di USD 109,74 per ton.
Di permukaan, angka itu tampak seperti koreksi kecil. Namun bagi daerah yang menggantungkan lebih dari sepertiga produk domestik regional bruto (PDRB)-nya dari tambang, penurunan harga menjadi sinyal kuat bahwa masa-masa sulit bisa kembali datang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tak menutup mata. Dalam pernyataannya, Jumat (14/11), ia mengungkapkan pemerintah sedang mengkaji langkah besar. Yakni mengurangi produksi batu bara nasional pada 2026.
Kebijakan itu diiringi dengan rencana peningkatan porsi pasokan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) di atas 25 persen, khusus untuk sektor prioritas seperti listrik, pupuk, dan semen. Harga DMO sendiri akan dijaga tetap di level USD 70 per ton.
Menurut Bahlil, lonjakan produksi selama dua tahun terakhir justru menciptakan ketidakseimbangan. Tahun 2024, Indonesia memproduksi 836 juta ton batu bara, jauh di atas target pemerintah.
Sekitar 600 juta ton di antaranya dikirim ke pasar global, setara hampir separuh kebutuhan batu bara dunia. “Supply dan demand-nya tidak seimbang. Akibatnya, harga batu bara turun jauh,” ujarnya.
Pemerintah kini tengah mengevaluasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) setiap perusahaan.
Terutama dalam hal volume produksi. Fokusnya, menjaga stabilitas harga global, sekaligus menjamin pasokan domestik tetap aman.
Kaltim yang selama ini menjadi episentrum tambang batu bara nasional, merasakan dampak paling nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan bahwa meski volume ekspor batu bara meningkat signifikan pada 2024 hingga mencapai 212,16 juta ton, nilai ekspornya justru terjun bebas.
“Kaltim merupakan salah satu kontributor utama ekspor batu bara nasional. Namun, penurunan harga akibat melemahnya permintaan, terutama dari Tiongkok dan India, membuat nilai ekspornya menurun,” jelas Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Rilis BPS per 3 November 2025 mencatat, secara kumulatif nilai ekspor nonmigas Kaltim ke 12 negara tujuan utama turun 15,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan terbesar berasal dari Tiongkok, yang anjlok 14,12 persen atau senilai USD 90,48 juta. Disusul Filipina turun 20,16 persen (USD 25,39 juta) dan Jepang 13,85 persen (USD 18,54 juta).
Meski demikian, Tiongkok masih menjadi pelanggan utama batu bara Kaltim. Dalam periode Januari–September 2025, nilai ekspor ke Negeri Tirai Bambu mencapai USD 4,44 miliar, atau 32,23 persen dari total ekspor nonmigas Kaltim.
India menempati posisi kedua dengan USD 2,33 miliar (16,98 persen), diikuti Filipina sebesar USD 1,19 miliar (8,67 persen).
Angka-angka itu mengungkap satu kenyataan pahit. Struktur ekonomi Kaltim masih sangat bergantung pada sumber daya alam, khususnya tambang batu bara.
Dari sisi komoditas, bahan bakar mineral menyumbang 77,21 persen terhadap total ekspor nonmigas.
Sementara sepuluh golongan barang terbesar mencakup 99,26 persen dari total ekspor nonmigas daerah ini.
Dampaknya terlihat pada indikator ekonomi makro. Dalam triwulan III 2025 (year on year), lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 0,22 persen.
Bahkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat negatif, minus 0,10 persen.
Namun, BPS menilai struktur ekonomi Kaltim masih relatif stabil. Sektor pertambangan dan penggalian tetap menjadi penopang utama dengan peranan 33,19 persen.
Stabil, tetapi sekaligus rapuh, karena setiap kali harga batu bara berfluktuasi, nadi ekonomi daerah ikut terdampak.
Bagi Kaltim, tantangan itu sejatinya bukan hal baru. Setiap siklus harga batu bara yang menurun selalu memunculkan kembali pertanyaan lama, bagaimana memperkuat diversifikasi ekonomi daerah?
Di tengah transisi energi global, tekanan terhadap industri batu bara kian meningkat. Negara-negara besar seperti Tiongkok dan Uni Eropa semakin agresif menurunkan ketergantungan terhadap energi fosil. Permintaan menurun, sementara produksi Indonesia terus meningkat.
Kondisi itu menjadi paradoks. Di satu sisi, batu bara masih menjadi penyumbang terbesar devisa dan pendapatan daerah.
Di sisi lain, ketergantungan berlebihan terhadapnya membuat ekonomi Kaltim sangat rentan.
Langkah pemerintah untuk memperkuat DMO bisa menjadi solusi jangka pendek dalam menjaga stabilitas industri.
Namun dalam jangka panjang, Kaltim perlu mempercepat transformasi ekonomi berbasis nilai tambah dan energi bersih.
Di Samarinda, Balikpapan, hingga Sangatta, cerita para pekerja tambang masih berulang.
Setiap kali harga batu bara turun, bayang-bayang PHK dan pengurangan aktivitas tambang kembali menghantui.
Namun di sisi lain, muncul harapan baru. Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) membuka peluang diversifikasi ekonomi, terutama pada sektor konstruksi, jasa, dan energi terbarukan.
Pemerintah daerah kini didorong untuk memperkuat ekosistem industri pengolahan serta pengembangan ekonomi hijau.
Seperti yang sering diungkap para ekonom daerah, masa depan Kaltim tak boleh terus bergantung pada emas hitam itu. “Kita harus berani keluar dari zona nyaman tambang,” ujar Yusniar.
Harga boleh turun, pasar bisa berubah. Tapi bagi Kaltim, momentum itu adalah pengingat keras bahwa ketahanan ekonomi sejati tak hanya ditentukan oleh seberapa besar sumber daya yang dimiliki, melainkan seberapa cepat daerah ini mampu beradaptasi dan berinovasi. (rd)
Editor : Romdani.