KALTIMPOST.ID, MAKASSAR-Konflik dan bentrokan antarwarga di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, terus memanas hingga Selasa (18/11) malam.
Setelah tujuh rumah hangus terbakar pada siang hari, sejumlah hunian lainnya kembali menjadi sasaran pembakaran dalam aksi kekerasan susulan tersebut.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi telah mengambil langkah cepat guna meredam konflik berkepanjangan yang terjadi di wilayah utara Makassar tersebut.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah meminta Polda Sulsel untuk segera melakukan tindakan tegas dan terukur.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Polda Sulsel agar segera mengambil tindakan terukur. Kami mengimbau warga untuk menahan diri dan tidak mudah terprovokasi,” ujar Sudirman, Selasa (18/11) malam.
Gubernur menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk mencegah konflik meluas dan menghindari kerusakan yang lebih parah.
Ia juga meminta aparat keamanan untuk mempertebal patroli serta memberikan perlindungan penuh kepada masyarakat yang terdampak.
“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Pemerintah akan hadir untuk memastikan kondisi kembali stabil, dan kami tidak ingin ada korban lebih lanjut,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (akrab disapa Appi), turut merespons serius eskalasi bentrokan ini.
Ia mengaku telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian dan TNI, untuk penanganan cepat di lokasi.
“Saya sudah melakukan koordinasi terbatas dengan pihak kepolisian, termasuk Dansat Brimob dan TNI, untuk memastikan para pelaku yang terlibat segera ditindak,” kata Munafri.
Menurut Munafri, tindakan kriminal yang mengakibatkan kerugian dan korban jiwa tidak boleh diabaikan. Ia menyebut telah berkomunikasi langsung dengan aparat untuk mempercepat proses identifikasi dan penangkapan pelaku.
“Karena tindakan tersebut sudah dikategorikan sebagai kejahatan, maka harus segera diproses secara hukum. Situasi ini harus diatasi dengan cepat dan serius,” jelasnya.
Konflik yang berulang di Kecamatan Tallo ini melibatkan kelompok-kelompok dari kawasan Sapiria, Borta, Jalan Lembo, Jalan Layang, hingga Lorong 148 Jalan Tinumbu—wilayah yang memang memiliki sejarah panjang perselisihan.
Pihak Kepolisian menduga bahwa bentrokan ini bersumber dari dendam lama yang tidak terselesaikan sejak tahun 1989. Selain itu, terdapat indikasi kuat adanya aktor intelektual yang sengaja memicu bentrokan terjadi.
Dugaan polisi ini selaras dengan kecurigaan warga terkait keberadaan kartel narkoba yang diduga sengaja ingin wilayah utara Makassar tidak kondusif agar mereka dapat dengan leluasa mendistribusikan narkoba dalam jumlah besar.
Kronologi Eskalasi Konflik Berulang
September 2025: Bentrokan kembali pecah setelah sempat mereda, melibatkan saling serang menggunakan batu dan busur panah.
Baca Juga: Bentrok di Samarinda Seberang, Diduga Karena Persaingan Bisnis Ilegal, Satu Ditahan
Oktober 2025: Konflik kembali terjadi di sekitar Jalan Layang dan Jalan Lembo. Mediasi melalui Ngopi Kamtibmas dilakukan.
Aksi pembakaran motor dibalas dengan pembakaran 5 unit rumah keesokan harinya. Posko keamanan gabungan sempat didirikan dan berhasil menurunkan intensitas.
Awal November 2025: Situasi kembali memanas setelah penjagaan mengendur. Terjadi saling serang menggunakan batu, petasan, bom molotov, busur panah, hingga senapan angin. Video bentrokan tak terkendali beredar luas di media sosial.
Pertengahan November 2025: Ketegangan meningkat. Pembubaran massa menghadapi hambatan karena ada warga yang diduga menghalangi penangkapan pelaku.
Seorang warga, Nur Syam alias Civas, mengalami luka tembak senapan angin dan meninggal dunia setelah sempat dirawat.
Tanggal 18 November 2025: Setelah pemakaman Civas, bentrokan kembali pecah, bahkan di sekitar TPU Beroangin, yang berujung pada terbakarnya tujuh rumah warga.
Polisi segera mengevakuasi warga dan memperketat penjagaan di titik-titik rawan untuk mencegah insiden lanjutan.(*)
Editor : Almasrifah