KALTIMPOST.ID, SEMARANG — Misteri kematian dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Dwinanda Linchia Levi (35), kembali memantik tanda tanya. Hasil autopsi lisan yang diterima keluarga menyebutkan tidak ada tanda kekerasan.
Namun, dokter menyatakan jantung korban pecah akibat aktivitas berat sebelum meninggal di sebuah kostel di kawasan Telaga Bodas, Senin (17/11).
Keterangan itu justru membuat keluarga makin bingung. Dwinanda ditemukan dalam kondisi telanjang di lantai kamar, dengan bercak darah di beberapa bagian tubuh.
“Informasinya tidak ada kekerasan, tapi ada aktivitas berlebihan sampai jantung sobek. Itu yang harus diusut,” ujar Tiwi, kerabat korban, Rabu (19/11).
Kecurigaan keluarga menguat setelah mengetahui adanya seorang perwira polisi bernama Basuki berpangkat AKBP yang berada di lokasi kejadian sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Perwira itu disebut turut mengantar korban saat kondisinya menurun.
Menurut keluarga, Levi sebelumnya sudah mendapat peringatan medis karena tensi dan gula darahnya tinggi. Ia diminta menghindari aktivitas fisik berat. “Pertanyaannya, kenapa sampai melakukan aktivitas berlebihan? Kehadiran polisi itu juga harus dijelaskan,” kata Tiwi.
Dia menilai perwira tersebut memiliki akses terlalu mudah mengubah identitas Dwinanda hingga masuk ke kartu keluarga (KK) miliknya.
“Secara administrasi, Nanda masih tercatat di Purwokerto. Kok bisa tiba-tiba masuk KK polisi itu? Berarti ada permainan. Identitas dobel itu tidak boleh,” ujarnya.
Perwakilan mahasiswa Untag, Antonius Fransiskus Polu, juga mendapat penjelasan serupa terkait autopsi lisan. Menurutnya, dokter menyebut jantung korban pecah karena aktivitas ekstra, namun posisi tubuh korban yang tergeletak tanpa busana tetap mengundang tanda tanya.
Sementara itu, Kasatreskrim Polrestabes Semarang Andika Dharma Sena mengatakan hasil autopsi resmi belum keluar, sehingga belum bisa dipublikasikan. Hal senada diungkap Dirreskrimum Polda Jateng Kombes Pol Dwi Subagio.
Ia menegaskan pihaknya masih menunggu dokumen tertulis dari tim medis. “Kalau sudah kami terima, dokter akan dimintai keterangan sesuai hasil pemeriksaannya,” ucapnya.
Kapolsek Gajahmungkur AKP Nasoir menjelaskan, korban dua hari berturut-turut sempat berobat ke RS Tlogorejo sebelum ditemukan meninggal di sebuah kamar kos-hotel, Senin (17/11/2025) pagi.
“Dari rekam medis terakhir, tensinya mencapai 190 mmHg dan gula darahnya 600 mg/dL. Ia hanya dianjurkan rawat jalan,” kata Nasoir, Selasa (18/11).
Korban ditemukan sekitar pukul 05.30 WIB di salah satu kamar kostel di Jalan Telaga Bodas Raya Nomor 11, Karangrejo. Tempat itu diketahui sudah ditempati korban hampir dua tahun terakhir.
Sosok yang pertama kali mengetahui kondisi korban adalah seorang perwira polisi berpangkat AKBP Basuki. Polisi tersebut disebut sebagai orang dekat korban dan juga yang mengantar Dwinanda ke rumah sakit ketika kondisinya menurun.
Tim Inafis Polrestabes Semarang menyatakan tidak menemukan adanya tanda kekerasan. Kesimpulan sementara dari kepolisian mengarah pada kematian akibat sakit.
Editor : Uways Alqadrie