Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Upacara HGN di Sekolah Terpadu di Samarinda Tekankan Pemerataan dan Kesejahteraan Guru

Denny Saputra • Selasa, 25 November 2025 | 13:59 WIB
DUKUNGAN: Prof Biyanto didampingi Wiwik Setiawati (kanan) serta Kepala Disdikbud Samarinda Asli Nuryadin di sela upacara HGN di Sekolah Terpadu, Kecamatan Sungai Kunjang, Selasa (25/11).
DUKUNGAN: Prof Biyanto didampingi Wiwik Setiawati (kanan) serta Kepala Disdikbud Samarinda Asli Nuryadin di sela upacara HGN di Sekolah Terpadu, Kecamatan Sungai Kunjang, Selasa (25/11).

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Perayaan Hari Guru Nasional (HGN) berlangsung khidmat di kompleks Sekolah Terpadu SD 028, SMP 16, dan SMA Prestasi di Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Senin (25/11). Mengusung tema “Guru Hebat, Indonesia Hebat”, upacara tahun ini menyoroti isu besar mengenai peningkatan kesejahteraan pendidik demi tercapainya layanan pendidikan yang merata.

Di Samarinda, perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) RI, Prof Dr H Biyant, hadir sebagai pembina upacara. Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga tersebut membacakan amanat Menteri Dikdasmen, Abdul Mu’ti.

Dalam pidatonya, pemerintah menegaskan bahwa selama satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, berbagai langkah konkret telah ditempuh untuk memperkuat kualifikasi dan kompetensi guru. Pada 2025, misalnya, disiapkan beasiswa Rp 3 juta per semester bagi 12.500 guru yang belum bergelar S1 melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau.

Pelatihan juga digencarkan, mulai dari pendidikan profesi guru, peningkatan kompetensi konselor, deep learning, koding dan kecerdasan artifisial, hingga kepemimpinan sekolah. Pemerintah memberikan tunjangan sertifikasi sebesar Rp 2 juta per bulan bagi guru non-ASN dan satu kali gaji pokok bagi guru ASN, sementara guru honorer mendapatkan insentif Rp 300 ribu per bulan. Seluruhnya ditransfer langsung ke rekening penerima.

Namun pemerintah mengakui berbagai dukungan bagi guru belum sepenuhnya ideal. Karena itu, peningkatan akan dilanjutkan pada 2026. Kuota beasiswa diperluas menjadi 150 ribu guru. Insentif guru honorer naik menjadi Rp 400 ribu per bulan. Tugas administrasi dipangkas, kewajiban mengajar tidak lagi mutlak 24 jam per pekan, dan ditetapkan satu hari khusus belajar bagi guru.

“Kebijakan ini agar guru bisa lebih fokus pada tugas utamanya sebagai pendidik profesional,” kata Prof Biyanto.

Ia juga menekankan pentingnya pemerataan layanan pendidikan, semua anak bangsa harus punya peluang yang sama. Termasuk wilayah daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) yang sering kekurangan guru berkualitas. “Kata kuncinya ada pada penguatan tugas,” tegasnya.

Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Kaltim, Wiwik Setiawati menambahkan bahwa pihaknya terus memperkuat pemetaan kompetensi guru sebagai dasar penyusunan pelatihan. Bahkan telah memiliki peta kompetensi guru di Samarinda maupun Kaltim.

“Aspirasi guru juga kami tampung. Apa pelatihan yang mereka butuhkan, kami usahakan untuk dipenuhi,” ujarnya.

Wiwik menambahkan bahwa momentum HGN tahun ini menjadi pengingat pentingnya peningkatan kualitas guru. Ia berharap para pendidik terus berinovasi dan menjaga semangat mendidik agar tidak pernah padam dalam menginspirasi anak bangsa.

“Guru adalah ujung tombak pembangunan SDM. Tuntutan terhadap guru di tengah gempuran teknologi juga tidak mudah,” singkatnya.

Dia menekankan bahwa guru saat ini harus mengajar anak-anak yang hidup di era teknologi yang luar biasa cepat berubah. Karena itu, guru dituntut mampu beradaptasi. “Menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan siswa masa kini,” pungkasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
#Kesejahteraan Pendidik #hari guru nasional #Sekolah Terpadu Samarinda