Kota Sibolga menjadi salah satu lokasi pertama yang diterjang air bah. Sejumlah kelurahan di empat kecamatan ikut terendam. Luapan air menghantam rumah warga dan menyeret kendaraan hingga ke badan jalan.
Material lumpur dan batu memenuhi beberapa ruas sehingga mobilitas warga lumpuh untuk sementara. Satu orang dilaporkan mengalami luka.
Sementara itu, dua jembatan di Tapanuli Utara putus tersapu arus deras. Puluhan rumah rusak. Pemerintah daerah mengalihkan arus lalu lintas melalui jalur Pangaribuan–Silantom sebagai rute sementara sambil menunggu perbaikan. Petugas masih melakukan pendataan lanjutan.
Kondisi serupa terjadi di Tapanuli Tengah. Sebanyak 1.900 lebih rumah tergenang di sembilan kecamatan. Pos pengungsian dan dapur umum telah didirikan. Distribusi bantuan logistik terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Di Tapanuli Selatan, dampaknya jauh lebih besar. Banjir dan longsor yang datang beruntun mengakibatkan delapan orang meninggal dan puluhan lainnya terluka. Lebih dari dua ribu warga terpaksa meninggalkan rumah.
Sebelas kecamatan masuk dalam zona terdampak, dari Sipirok hingga Angkola Muaratais. Alat berat dikerahkan untuk membuka kembali jalan yang tertutup endapan longsor, sementara tim gabungan masih melakukan penyisiran.
Hingga Rabu pagi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut mencatat 10 orang ditemukan meninggal, sementara 6 lainnya masih hilang.
“Data sementara menunjukkan 10 korban jiwa. Proses pencarian masih berlangsung,” ujar Sri Wahyuni Pancasilawati, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumut, saat dihubungi Rabu siang. Menurut dia, komunikasi dengan tim lapangan sempat terputus lantaran jaringan telekomunikasi di daerah terdampak ikut rusak.
BPBD melaporkan sedikitnya 37 warga mengalami luka sedang hingga berat. Ribuan orang terdampak, dengan sekitar 330 rumah rusak akibat sapuan banjir dan material longsor.
Laporan Pusdalops BPBD Sumut menyebut tujuh kabupaten/kota dihantam bencana hidrometeorologi menyusul hujan intensitas tinggi.
Di Tapanuli Selatan, banjir bandang melanda Kecamatan Angkola Sangkunur, Angkola Barat, dan Sipirok.
Longsor yang menutup badan jalan juga membuat akses penghubung Tapanuli Selatan–Mandailing Natal lumpuh total. Tim gabungan bersama alat berat telah dikerahkan untuk membuka jalur dan mengevakuasi warga.
“Dua tim sudah tiba di Tapsel, dan satu tim bergerak ke Mandailing Natal. Personel lain menuju Tapanuli Tengah dan Sibolga, tetapi terhambat karena jalan masih tertutup tanah longsor,” kata Sri Wahyuni.
Dampak Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera Utara:
1. Korban Jiwa dan Korban Luka
10 orang meninggal dunia.
37 orang luka-luka.
6 warga masih dalam pencarian.
2. Warga Terdampak dan Pengungsian
2.393 kepala keluarga (KK) terdampak bencana.
445 warga mengungsi ke lokasi aman.
3. Kerusakan Infrastruktur
Sejumlah akses jalan utama tertutup material longsor dan genangan banjir.
Arus banjir membawa material lumpur, batang kayu, puing bangunan, dan sampah, merusak rumah serta fasilitas umum.
330 rumah terdampak rusak
4. Wilayah Terdampak
Enam kabupaten/kota mengalami dampak banjir dan longsor:
Tapanuli Tengah
Mandailing Natal
Tapanuli Selatan: Kecamatan Angkola Sangkunur, Angkola Barat, dan Sipirok
Tapanuli Utara
Kota Sibolga
Nias
5. Jenis Kejadian Bencana
Total 20 kejadian bencana, meliputi:
12 tanah longsor
7 banjir
1 pohon tumbang
6. Gangguan Aktivitas Masyarakat
Mobilisasi warga terganggu akibat jalan tertutup.
Penyumbatan jalur logistik dan evakuasi.
Sebagian wilayah mengalami gangguan listrik dan komunikasi akibat cuaca ekstrem.
Editor : Uways Alqadrie