Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Bukan Whoosh, Inilah "Kilat Pajajaran", Kereta Cepat Konvensional yang Memangkas Waktu Jakarta–Bandung

Ari Arief • Sabtu, 29 November 2025 | 07:23 WIB

 

Ilustrasi kereta api
Ilustrasi kereta api
KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Rencana untuk menghadirkan layanan kereta api cepat pada jalur Jakarta–Bandung, namun menggunakan teknologi konvensional, telah memasuki fase implementasi yang lebih serius.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengonfirmasi bahwa konsep KA Kilat Pajajaran, sebuah kereta jarak jauh yang diproyeksikan memangkas waktu tempuh Gambir–Bandung hanya dalam 90 menit (1,5 jam), semakin mendekati kenyataan.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, memverifikasi kesiapan proyek ini saat melakukan kunjungan kerja dan peninjauan jalur di Jawa Barat bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM). Mereka mengevaluasi kesiapan lintasan kereta api dan rencana konektivitas baru yang akan menghubungkan Jakarta, Bandung, hingga Banjar.

Menurut KDM, dengan adanya peningkatan jalur ini, relasi penuh Gambir–Bandung–Banjar diperkirakan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 3,5 jam. Perinciannya adalah 1,5 jam untuk rute Jakarta–Bandung dan 2 jam untuk segmen Bandung–Banjar. Selain Banjar, pengembangan jalur ini juga direncanakan meluas hingga ke Garut dan Tasikmalaya.

Baca Juga: Mahfud MD Minta Dugaan Korupsi Whoosh Diusut Tuntas, Purbaya Didorong Bersih-Bersih Ditjen Pajak dan Bea Cukai

“Layanan KA Kilat Pajajaran ini diharapkan dapat terintegrasi hingga ke Garut, Tasikmalaya, dan Banjar. Total waktu perjalanan dari Bandung ke wilayah-wilayah tersebut diperkirakan hanya sekitar dua jam,” kata KDM, sebagaimana dikutip Jumat (28/11).

Pelengkap Whoosh dan Persaingan Moda

KA Kilat Pajajaran diposisikan sebagai kereta api konvensional tercepat setelah Whoosh, yang saat ini memegang rekor waktu tempuh Jakarta–Bandung sekitar 46 menit. Perbedaan mendasarnya adalah Kilat Pajajaran memanfaatkan dan meningkatkan jalur rel konvensional yang sudah ada, bukan menggunakan jaringan high speed rail (kereta cepat).

Rencana kehadiran Kilat Pajajaran ini menjadi bagian dari serangkaian proyek infrastruktur besar yang bertujuan mengurangi durasi perjalanan Jakarta–Bandung. Di sektor darat, Pemerintah juga sedang mempercepat pembangunan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (Japeksel), yang diklaim akan memangkas waktu perjalanan darat menjadi kurang dari satu jam.

Tol Japeksel merupakan jalur penghubung vital yang akan menyambungkan JORR Jatiasih dengan Tol Purbaleunyi di Sadang, Purwakarta. Proyek sepanjang 62 km ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan berada di bawah pengawasan Kementerian PUPR dan BPJT.

Ruas ini ditargetkan sudah dapat beroperasi secara fungsional pada periode arus mudik Lebaran 2026. Setelah rampung, pengguna jalan menuju Bandung akan memiliki tiga opsi: Tol Jakarta–Cikampek eksisting, Tol MBZ (layang), dan Tol Japeksel.

Baca Juga: Harga Digelembungkan 10 Kali Lipat, KPK Bidik Korupsi Pembebasan Lahan Whoosh

Kombinasi antara peningkatan pilihan tol dan kehadiran kereta konvensional cepat ini menimbulkan spekulasi bahwa layanan-layanan baru tersebut berpotensi menjadi kompetitor utama bagi Whoosh, yang saat ini merupakan moda tercepat menuju Bandung.

Linimasa dan Pembiayaan Proyek

Gubernur KDM menyatakan bahwa kajian teknis untuk KA Kilat Pajajaran dijadwalkan dimulai pada tahun 2026, konstruksi akan dimulai pada 2027, dan operasional perdana ditargetkan pada 2030.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana mengalokasikan pendanaan proyek ini melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dengan estimasi sekitar Rp2 triliun per tahun selama empat tahun. KDM juga membuka peluang kerja sama investasi dari pemerintah daerah yang dilewati lintasan agar setiap wilayah bisa mendapatkan titik pemberhentian.

Baca Juga: Prabowo Ambil Alih Tanggung Jawab Whoosh: Dicicil Rp 1,2 Triliun per Tahun, Tak Perlu Diributkan

KDM menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan upaya untuk mengembalikan “peradaban transportasi” yang ramah lingkungan, modern, dan memiliki jangkauan yang luas tanpa merusak struktur tanah. Ia mengajak pemerintah kabupaten/kota di sepanjang jalur untuk berpartisipasi agar manfaat proyek ini dirasakan secara lebih merata.

Perlu dicatat, jalur Jakarta–Bandung pernah memiliki rekor waktu tempuh 2 jam 30 menit melalui KA JB250 Argo Gede, yang diluncurkan pada peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia (31 Juli 1995).

KA tersebut kemudian dikenal sebagai Argo Gede, mendahului layanan Argo Parahyangan Excellence yang pada tahun 2019 mencatat waktu tempuh 2 jam 50 menit, sebelum akhirnya dihentikan saat pandemi Covid-19.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#gambir #bandung #KA #WHOOSH #Konvensional