KALTIMPOST.ID, Operasi pengejaran Dewi Astutik alias Mami — buronan internasional penyelundupan 2 ton sabu jaringan Golden Triangle — ternyata tidak semudah yang terlihat di siaran resmi.
Di balik penangkapan yang berlangsung di Sihanoukville, Kamboja, ada serangkaian kegagalan kecil, manuver penyamaran, hingga pemetaan lintas batas yang nyaris membuat dirinya lolos lagi.
BNN menyebut operasi gabungan ini merupakan tindak lanjut langsung dari perintah Kepala BNN, Suyudi Ario Seto, dan dikendalikan oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan.
Namun, faktor penentu justru datang dari kemampuan tim memetakan pola lintasan Dewi selama bertahun-tahun.
Operasi ini melibatkan BNN, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta BAIS TNI.
Menurut siaran pers BNN, “Proses diplomasi dan pemenuhan legalitas pemindahan tersangka difasilitasi oleh Duta Besar RI untuk Kamboja, Dr. Santo Darmosumarto, bersama seluruh jajaran KBRI Phnom Penh,” tulis BNN dalam keterangan resminya, Selasa (2/12/2025).
Namun di lapangan, pihak Atase Pertahanan RI dan BAIS TNI juga memiliki peran krusial.
Mereka melakukan pemetaan pergerakan lintas negara yang menjadi celah masuk untuk menemukan posisi Dewi secara presisi.
Baca Juga: Kapolda Kaltim Berharap Warga Waspada Bencana saat Masuki Musim Penghujan, Tegaskan Polda Siaga
Pola Lintas Negara yang Membongkar Persembunyian Dewi
Dewi Astutik bukan buronan biasa. Nama aslinya “PA,” namun ia bergerak menggunakan identitas adiknya.
Ia sempat bekerja sebagai TKW pada 2011 dan kemudian menghilang setelah diduga menjadi otak penyelundupan internasional.
Kepala BNN Marthinus Hukom mengungkap bagaimana jejak Dewi terendus pertama kali.
“Jadi saya yakini ini adalah jaringan sindikat internasional di kawasan Asia Tenggara yang melibatkan jaringan Indonesia, buktinya 4 orang Indonesia ketangkap,” ujarnya, Jumat (30/5/2025).
Dari penangkapan empat WNI — FR, LCS, RH, dan HS — aparat mulai menemukan pola pergerakan kapal yang membawa 2 ton sabu itu.
Kapal tersebut bahkan sempat terekam radar bergerak dari Laut Andaman ke perairan Batam.
Marthinus menegaskan, “Narkotika tersebut dicurigai akan didistribusikan oleh negara antara lain Indonesia, Malaysia, dan Filipina.”
Baca Juga: Kecelakaan Menurun saat Operasi Zebra Mahakam 2025, Wilayah Ini Paling Banyak Kejadian
Operasi Laut yang Jadi Pembuka Jejak Mami
Sebelum Dewi ditangkap, operasi besar-besaran di laut telah dilakukan. BNN dan Bea Cukai mengerahkan kapal BC-20003 dan BC-20007, sementara TNI AL menurunkan KRI Surik 645 dan KRI Silia 858.
Saat kapal penyelundup tiba di Tanjung Uncang, petugas menemukan 67 kardus berisi 2.115.130 gram sabu, semuanya dikemas ala Golden Triangle.
Marthinus menjelaskan, “Petugas gabungan menemukan 67 kardus yang berisi 2.000 bungkus narkotika jenis sabu seberat kurang lebih 2 ton atau 2.115.130 gram yang dibungkus dengan kemasan khas yang lazim digunakan sindikat jaringan narkotika Golden Triangle”
Dari pemeriksaan itu, keluar nama lain yang berperan sebagai pengendali, warga Thailand bernama CC alias Kapten T, alias MT, alias JT — kini DPO internasional.
Pemetaan pergerakan kapal, jaringan darat, hingga jejak digital akhirnya mengarah pada titik persembunyian Dewi di Sihanoukville.
Setelah lima bulan pengintaian intens, penyamaran, dan operasi diplomatik, Dewi akhirnya digiring aparat. ***
Editor : Dwi Puspitarini