Mereka adalah Sugandi, 41 tahun, istrinya Juliana, 44 tahun, serta anak mereka yang berusia 7 tahun. Keluarga menduga ketiganya tewas karena menghirup asap genset yang dinyalakan sebagai penerangan ketika aliran listrik padam.
Ratna, adik korban, menuturkan bahwa komunikasi terakhir terjadi pada Rabu malam ketika banjir mulai masuk ke rumah Sugandi.
Setelah itu, sejak Jumat hingga akhir pekan, keluarga kehilangan kontak sama sekali. Rumah yang juga berfungsi sebagai tempat usaha air galon itu tiba-tiba tutup, dan panggilan telepon tak pernah dijawab.
Upaya mengecek rumah korban sempat dilakukan pada Jumat dan Sabtu, namun pintu selalu terkunci dari dalam. Tetangga sekitar menyebut sempat melihat Sugandi keluar membeli makanan di tengah banjir, tetapi mereka juga melihat genset dihidupkan setelah listrik padam. Kondisi itu membuat keluarga semakin khawatir.
Senin pagi (1/12), keluarga kembali mendatangi rumah tersebut. Kali ini, bau menyengat tercium dari balik pintu. Dengan pendampingan kepala lingkungan, pintu akhirnya dibuka paksa.
Ketika masuk, keluarga menemukan tiga jenazah dalam posisi terpisah: Juliana tergeletak di tangga, anak mereka di kamar lantai dua, dan Sugandi berada tak jauh dari si kecil.
Polsek Medan Labuhan langsung mengamankan lokasi dan membawa jenazah ke RS Bhayangkara Medan untuk diautopsi. Kapolsek Kompol Tohab Sibuea mengatakan belum dapat memastikan penyebab kematian hingga hasil pemeriksaan forensik keluar.
“Masih dalam proses identifikasi, belum bisa disimpulkan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, keluarga masih menunggu hasil resmi autopsi sembari mempersiapkan proses pemakaman. Peristiwa ini menambah daftar korban bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir.
Editor : Uways Alqadrie