IKN sedang membangun masa depan dengan listrik sebagai bahasa sehari-hari. Dari bus listrik hingga hunian pintar, semua bergantung pada PLTS dan BESS. Menjadikan energi bersih bukan wacana, melainkan kebiasaan.
MUHAMMAD RIZKI, Balikpapan
PAGI di Ibu Kota Nusantara (IKN) dimulai dari sesuatu yang dulu terasa mustahil; sebuah kota yang hidup dengan listrik bersih. Di atas aspal mulus, bus-bus listrik berkelir putih–biru meluncur tenang, mengantar aparatur sipil negara (ASN) menuju gedung pemerintahan yang berdiri satu per satu. Di dalam hunian, lampu, mesin pendingin ruangan, dan sistem keamanan, bekerja otomatis, menyesuaikan cuaca, jam, dan kehadiran penghuni.
Di sini, listrik bukan hanya energi. Ia menjadi cara hidup baru. Sunyi, efisien, dan rendah karbon. Di halaman rusun ASN di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), bus listrik berhenti tepat waktu. Alex, pegawai Otorita IKN, naik bersama rekan-rekannya. Suara mesin bus nyaris tak terdengar. Yang tersisa hanya denting notifikasi, obrolan ringan, dan pemandangan bukit hijau di balik jendela.
Kurang dari 10 menit, bus listrik yang membawa Alex tiba di Kantor Otorita IKN. Momen selama perjalanan itu dia rekam dan membagikannya di akun YouTube miliknya. Setiap pagi dan sore, Alex melewati rutinitas yang tak hanya memindahkan tubuh, tetapi mengubah kebiasaan. Ia pulang ke hunian pintar, tempat energi dikelola otomatis untuk menekan konsumsi, bukan hanya untuk kenyamanan.
Gaya hidup berbasis listrik bukan hanya fasilitas modern. Ia adalah pendidikan sunyi, menanamkan perilaku hemat energi dan rendah emisi, dengan cara halus namun sistematis. Pengalaman serupa dirasakan Ketua DPR RI, Puan Maharani, ketika bermalam di rumah jabatan menteri di IKN tahun lalu. Hunian seluas 580 meter persegi itu dilengkapi sistem “one-touch button” untuk mengendalikan hampir semua fungsi rumah.
Lampu, gorden, televisi, suhu ruangan, hingga kunci pintu. “Teknologi smart home ini sangat memudahkan. Tapi yang menarik, rumah sebesar ini tetap efisien,” ucap Puan. Gaya hidup listrik, dari transportasi sampai rumah, tak akan bekerja tanpa fondasi energi yang kuat, bersih, dan terus menyala. Itulah sebabnya, di balik hunian pintar dan bus listrik, berdiri pembangkit surya dan sistem penyimpanan energinya.
Ruang yang Tidak Pernah Masuk Brosur
Di tengah hamparan panel surya di IKN, ada ruang kecil yang jarang difoto. Ruang itu dipenuhi deretan panel kontrol, inverter, dan monitor grafik yang naik-turun. Di sanalah, Haidar Nabil Muflih, seorang site engineer muda asal Samarinda, menjaga ritme energi kota. Dia tumbuh di Samarinda, kota yang hidup dari batu bara. Energi baginya bukan konsep abstrak, tapi lanskap sehari-hari. Lalu-lalang bus karyawan tambang, mobil double cabin, lubang tambang menganga, hutan berubah warna, hingga banjir yang datang setiap hujan turun.
Bagi alumnus SMA 2 Samarinda tahun 2018 itu, dulu hanya tahu jika energi dari cuma batu bara. Dua dekade kemudian, dia bekerja di salah satu fasilitas energi terbarukan paling ambisius di Indonesia, PLTS IKN 50 megawatt (MW) yang dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) 14,2 MWh. “Rasanya seperti pindah zaman,” ucapnya kepada Kaltim Post, Sabtu, 29 November lalu
BESS adalah jantung sistem PLTS. Ia menyimpan kelebihan pasokan listrik saat matahari bersinar, lalu melepasnya ketika awan lewat, atau malam tiba. Tanpanya, energi surya akan fluktuatif dan tak bisa diandalkan. “BESS membuat tenaga surya memiliki ritme seperti pembangkit konvensional. Itu yang bikin energi terbarukan layak jadi tulang punggung kota,” jelas anak ke-3 dari 5 bersaudara itu.
Tugasnya tak sederhana. Sistem bekerja 24 jam, sensitif terhadap cuaca, beban, dan gangguan jaringan. Jika terjadi anomali, BESS bisa shutdown otomatis. “Banyak jaringan listrik di Indonesia desain lama, tidak dirancang untuk pembangkit surya,” katanya. Gangguan itu tak terlihat warga kota. Tapi bagi pemuda 25 tahun itu, setiap malam yang tetap terang adalah kemenangan kecil. “Dengan BESS, listrik dari sumber bersih dapat dipakai kapan pun diperlukan, tanpa harus bergantung pembangkit fosil cadangan. Ini mengurangi biaya bahan bakar, operasional, dan emisi yang terkait dengan pembangkit fosil,” jelasnya.
Ritme Hidup di Kota yang Dibangun
Sejak bergabung dalam tim operasi dan pemeliharaan, ritme hidup Haidar berubah total. Hari kerjanya dimulai pukul enam pagi di tengah hamparan pohon eucalyptus dan akasia. Lulusan D4 Teknologi Rekayasa Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2023 itu, bekerja tiga minggu penuh, lalu libur seminggu dengan memilih pulang ke Samarinda. Perjalanan hampir tiga jam. Meskipun jauh dari rumah, tapi dia merasa sedang melakukan sesuatu yang penting. Ia menjaga energi untuk kota yang sedang dibangun, tetapi sudah mulai dihuni.
Bukan hanya gedung, tetapi gaya hidup. Rutinitas warga bergantung pada stabilitas sistem yang ia rawat setiap hari. Di ruang BESS, Haidar membaca grafik charge-discharge seperti detak jantung. Ia tahu kapan sistem gelisah, kapan tenang, kapan siap menghadapi malam panjang. “Memang produksi PLTS bisa naik turun secara cepat karena biasanya di satu waktu matahari bisa terik. Kemudian beberapa saat matahari ketutupan awan atau cuaca berubah mendung dalam waktu cepat. Kemudian matahari bisa saja kembali memancar kuat. Adanya BESS bisa mengurangi fluktuasi produksi PLTS yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca saat itu,” ungkapnya.
Ketika Kota Disuplai Matahari
Tanggal 2 November 2023 tercatat sebagai tonggak sejarah. Presiden Joko Widodo meresmikan pembangunan PLTS IKN tahap pertama, berkapasitas 10 MW, yang dibangun oleh anak perusahaan PLN, Nusantara Power. Pada momen itu, pertanyaan tentang pasokan listrik di IKN langsung terjawab dengan pembangunan pembangkit. Setahun kemudian, fasilitas EBT andalan kota ini mulai menyuplai sebagian listrik untuk upacara peringatan HUT ke-79 Kemerdekaan RI.
Di momen itu, PLN juga berhasil mendukung operasional armada berbasis baterai dengan penyiagaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sebanyak 18 unit yang tersebar di beberapa titik. Seluruh SPKLU tersebut tercatat melayani lebih dari 340 transaksi charging dengan total daya mencapai 6.568 kilowatt hour (kWh). “Kami memastikan bahwa ini adalah transisi energi, bukan hanya dalam strategis high level tetapi juga operasional. Jadi, nanti ke depannya semua mobil yang ada di IKN ini adalah mobil yang berbasis pada energi bersih listrik,” kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dikutip dari laman resmi PLN.
Operasional SPKLU tersebut didukung dengan aplikasi PLN Mobile. Sehingga seluruh layanan bisa dilakukan secara digital dan cepat. Infrastruktur tersebut membuat kebutuhan mobil listrik Kantor Sekretariat Negara, bus listrik, mobil listrik Polri, buggy, taksi listrik, dan motor listrik Paspampres terpenuhi. “Kendaraan listrik bisa beroperasi dengan lancar. Ini adalah suatu sistem kelistrikan yang betul-betul berorientasi pada masa depan,” katanya.
Awal 2025, giliran Presiden Prabowo yang meresmikan operasional tahap II PLTS IKN kapasitas 40 MW. Infrastruktur itu dibangun PT Nusantara Sembcorp Solar Energi (NSSE), joint venture company antara PLN Nusantara Renewables dan Sembcorp Industries. Dengan beroperasinya PLTS ini, maka kawasan IKN telah dialiri listrik yang bersumber sepenuhnya dari EBT yang ramah lingkungan.
PLTS IKN menjadi simbol masa depan. Energi terbarukan yang benar-benar dipakai, bukan sekadar wacana. Namun keputusan paling radikal adalah estetika. Seluruh kabel ditanam di bawah tanah. Mahal, rumit, tapi melindungi lanskap. Dalam kota masa depan, listrik tidak hanya harus bersih dan andal. Ia harus indah.
Electrifying Lifestyle, dari Kebijakan ke Kebiasaan
Untuk mengubah kota, pemerintah tak hanya membangun infrastruktur. Ia membentuk kebiasaan. Dalam kegiatan temu awak media di kantornya Rabu, 29 Oktober lalu, Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa mulai 2026, seluruh kendaraan operasional Otorita IKN, dari pimpinan hingga staf, harus beralih ke listrik. “Staf bawa mobil BBM nanti tidak ada lagi,” ujarnya.
Kebijakan itu mengubah banyak hal. Rencana belanja, pola mobilitas, dan persepsi terhadap kendaraan. Bukan lagi sekadar moda transportasi, tapi identitas kota. Namun perubahan perilaku itu tak hanya soal kendaraan. Ia mencakup perilaku mengurangi konsumsi, memindahkan beban listrik ke jam siang (saat energi matahari berlimpah), dan membiasakan sistem otomatis dalam rumah. Perubahan perilaku itu sulit di tempat lain, tapi di IKN, ia terjadi sejak hari pertama. “Kota ini dibangun dengan budaya energi baru,” tutur Haidar.
Swasembada Energi Mimpi Besar Kalimantan
Dalam peta jalan RUPTL 2025–2034, kebutuhan listrik IKN diperkirakan mencapai 1.000 MW pada 2045. Hampir seluruhnya dirancang berasal dari EBT. Ini bukan hanya proyek ibu kota, tapi transformasi pulau. Kalimantan diarahkan menjadi lumbung energi hijau dari sebelumnya energi fosil.
Dengan potensi tambahan 3,5 GW dari PLTA, PLTS, bioenergi, angin, dan bahkan nuklir, Indonesia mencoba menjawab tantangan besar. Bagaimana negara berbasis fosil menjadi negara berbasis listrik bersih. Tetapi persoalannya tidak kecil. Potensi energi matahari di Indonesia diperkirakan mencapai 47–500 GW. Namun realisasi masih di bawah 1 GW.
“Kesenjangan antara potensi dan realisasi sangat besar,” ujar Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN, Andhika Prastawa, dalam diskusi publik yang diunggah di laman resmi BRIN. Menurutnya, tantangan mencakup pendanaan, regulasi, logistik, dan pemetaan potensi yang masih minim.
“Kalau kita ingin mempercepat transisi, kita perlu kolaborasi besar—pemerintah, industri, akademisi,” kata Andhika. IKN menjadi laboratorium nasional untuk membuktikan bahwa energi bersih bisa layak, murah, dan operasional. Jika berhasil, kota ini bukan hanya rumah bagi pejabat. Ia menjadi blueprint kota masa depan Indonesia.
Senja di Kota yang Masih Membangun Dirinya
Sore itu, matahari meredup di balik bukit. Dari kejauhan, gedung-gedung pemerintahan tampak berdiri kokoh di tengah hijaunya perbukitan. Haidar berjalan di antara deretan panel surya, mengecek modul, mendengarkan dengung halus inverter. Bagi pemuda yang hobi bermain gim daring Mobile Legend itu, dulu hanya tahu jika energi dari batu bara. Namun kini ia memahami bahwa energi dari cahaya matahari bersifat tak tergantikan.
Ia berhenti sejenak sebelum kembali ke hunian di kawasan IKN. Menatap hamparan panel yang memantulkan cahaya terakhir hari. Di momen seperti itu, Haidar kerap bertanya apakah anak-anak yang nanti tinggal di IKN bakal tahu tidak kalau dulu listrik itu berarti asap. Malam turun perlahan. Panel-panel surya tak lagi memanen cahaya, tapi energi yang mereka simpan mulai mengalir ke kota yang berdiri rumah sakit, perhotelan, hunian, perkantoran, dan kedai kopi.
Dengan helm putih yang masih melekat, Haidar memandang masa depan yang dinyalakan dalam keadaan sunyi, stabil, dan bebas emisi. Dari generasi Z seperti Haidar, tergambar jika energi itu bukan cuma teknologi. “BESS akan menjadi kunci penting untuk transisi energi menuju EBT yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ungkapnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki