Dua belas kecamatan di daerah tersebut lumpuh total: jalan raya hilang ditelan arus, jaringan listrik padam, dan sinyal telekomunikasi putus.
Di titik-titik terjebak, warga hanya mengandalkan suara teriakan untuk memastikan satu sama lain masih selamat.
Salah satu kisah paling dramatis datang dari Kampung Dalam, Karang Baru. Wahyu Pratama, warga setempat, mengingat awal bencana itu terjadi menjelang Magrib, Rabu, 26 November.
Dalam rentang satu setengah jam, air naik tak wajar—menjulang setinggi tiang listrik, menelan rumah dan barang-barang tanpa ampun. “Kami tak punya waktu menyelamatkan apapun,” kata Wahyu.
Wahyu bersama sekitar lima puluh warga lain akhirnya menyelamatkan diri ke sebuah bangunan tinggi. Di sanalah mereka bertahan lima hari tanpa bantuan.
Untuk mencari makanan, mereka mengikat tubuh ke tiang beton agar tak terseret arus, lalu berenang mencari apa pun yang hanyut: kelapa, pisang, bahkan sekantong beras basah yang langsung mereka masak seadanya. “Satu sendok per orang, terutama untuk anak-anak,” ujarnya.
Air baru surut pada malam keenam. Bantuan baru tiba menyusul setelah itu, salah satunya yang dibawa Muzakir Manaf pada Rabu malam, 3 Desember.
Wahyu menyebut bencana kali ini terasa seperti tsunami yang menerbangkan kehidupan di kampungnya. “Yang tersisa mungkin hanya dua puluh persen. Sisanya hancur,” katanya.
---
Editor : Uways Alqadrie