Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

LAPORAN KHUSUS: Ekonomi Kaltim Melambat 2025, Harga Batu Bara Turun, Hilirisasi Jadi Penopang Baru

Muhammad Ridhuan • Minggu, 7 Desember 2025 | 05:05 WIB
Ilustrasi Lapsus Ekonomi
Ilustrasi Lapsus Ekonomi

KALTIMPOST.ID-Ekonomi Kaltim tampaknya memang sulit keluar dari bayang-bayang tambang batu bara.

Itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi tahun ini yang dinilai melambat. Melemahnya harga batu bara dinilai jadi salah satu penyebab.

Berkaca dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tahun ini pada Januari harga batu bara acuan (HBA) sebesar USD 124,01 per ton. Angka itu menguat dua bulan kemudian menjadi USD 128 per ton.

Namun angka itu menurun menjadi USD 100 per ton pada Agustus. Terus menurun di angka USD 97 per ton pada Juli. Lalu bulan ini ditutup dengan angka USD 98 per ton.

Adapun pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan III-2025 berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 4,26 persen (year on year/Y-on-Y).

Meski pertumbuhan ekonomi masih positif, namun tak secepat periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,52 persen.

Angka itu seperti menandai alih arah mesin pertumbuhan, dari tanah yang digali menuju nilai tambah yang diolah.

Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana membaca sinyalnya dengan terang. Ia menyebut perlambatan itu tak lepas dari kinerja pertambangan yang kembali melemah.

“Lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi minus 0,22 persen. Dampaknya besar karena sektor ini masih kontributor utama perekonomian Kaltim,” ucapnya. Seolah menggambarkan bahwa sumber energi lama tak lagi sekuat dulu menopang laju ekonomi.

Namun grafik berikutnya menunjukkan wajah baru. Sektor industri pengolahan tumbuh mengesankan, menanjak hingga 13,96 persen dan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi provinsi ini.

“Industri pengolahan memberi andil 2,56 persen terhadap pertumbuhan. Ini mencerminkan hilirisasi berjalan dan kapasitas pengolahan meningkat,” lanjut Yusniar.

Di belakangnya, sektor administrasi pemerintahan tumbuh 12,97 persen. Akomodasi dan makanan-minuman menguat 12,32 persen.

Keduanya menjadi tanda bahwa konsumsi domestik, pergerakan layanan, dan aktivitas sosial-ekonomi warga kembali berdenyut lebih kuat. Kaltim mungkin sedang meninggalkan ketergantungan lamanya—perlahan, namun pasti.

STRUKTUR EKONOMI

BPS Kaltim mencatat bahwa pada triwulan III-2025, kontribusi pertambangan terhadap ekonomi Kaltim menyusut menjadi 33,19 persen. Turun dibandingkan periode tahun lalu yang mendekati 38 persen.

Sementara industri pengolahan naik menjadi 20,61 persen, menunjukkan tren pergeseran struktur yang selama ini didorong oleh program hilirisasi dan tumbuhnya kapasitas produksi pabrik baru.

“Struktur ekonomi Kaltim masih didominasi tambang, tetapi diversifikasinya mulai terasa. Peranan industri pengolahan meningkat konsisten dalam lima triwulan terakhir,” kata Yusniar.

Dalam periode yang sama, tiga sektor mencatat kontraksi year on year (YoY). Yakni pertambangan, konstruksi (-1,40 persen), dan jasa keuangan (-6,13 persen).

“Konstruksi tertekan karena normalisasi proyek setelah lonjakan aktivitas beberapa tahun sebelumnya, sementara jasa keuangan terpengaruh penurunan aktivitas kredit,” tambahnya.

Dari sisi pengeluaran, hampir semua komponen tumbuh positif. Konsumsi rumah tangga, indikator kunci daya beli masyarakat mencatat pertumbuhan 4,53 persen, disusul konsumsi lembaga nonprofit (4,93 persen).

Ekspor barang dan jasa tumbuh 5,73 persen, ditopang peningkatan permintaan hasil industri pengolahan.

“Net ekspor tetap memegang peran dominan, mencapai kontribusi 38,53 persen terhadap PDRB. Namun yang menarik adalah pertumbuhan PMTB sebesar 2,54 persen, menunjukkan investasi masih berjalan,” ungkap Yusniar.

Sementara itu, konsumsi pemerintah naik tipis 0,91 persen. Sedangkan impor juga meningkat 5,81 persen, menjadi faktor pengurang terhadap pertumbuhan PDRB.

PERTANIAN DAN SEKTOR DASAR

Di sisi lain, sektor pertanian mengalami tekanan jangka pendek. Secara q-to-q, pertanian terkontraksi 0,78 persen, terutama akibat gangguan cuaca dan penurunan produktivitas beberapa komoditas pangan.

Kondisi serupa terjadi pada jasa keuangan (-2,58 persen) dan administrasi pemerintahan (-2,97 persen) yang turun karena penyesuaian anggaran.

Namun secara kumulatif (c-to-c), ekonomi Kaltim tetap tumbuh 4,35 persen, didorong kinerja industri pengolahan (12,48 persen) dan akomodasi-makan minum (11,98 persen).

Dua sektor tersebut menjadi bagian dari sumber pertumbuhan jangka menengah yang semakin kuat.

Dalam cakupan regional, Kaltim mencatat pertumbuhan lebih rendah dibanding rata-rata Pulau Kalimantan yang mencapai 4,70 persen.

Kalteng memimpin dengan pertumbuhan 5,36 persen, sementara Kaltim berada di posisi terbawah meski tetap memberikan kontribusi terbesar terhadap ekonomi regional, yakni 45,61 persen.

“Kaltim masih menjadi motor ekonomi Kalimantan, tetapi pertumbuhannya melambat karena tekanan pada sektor tambang yang menjadi basis ekonomi utama daerah,” terang Yusniar.

BPS menilai perlambatan ini menjadi momentum untuk memastikan transformasi ekonomi Kaltim berjalan konsisten.

Kinerja sektor industri yang terus menguat disebut sebagai bukti bahwa diversifikasi ekonomi mulai bergerak ke arah yang benar.

“Ke depan, risiko utama tetap pada harga dan permintaan komoditas global serta kondisi cuaca ekstrem yang bisa mengganggu pangan. Transformasi ekonomi harus terus didorong agar Kaltim tidak terlalu bergantung pada siklus komoditas,” tegas Yusniar.

Dengan kontribusi tambang yang terus menurun dan sektor-sektor baru mulai tumbuh, perekonomian Kaltim berada pada fase penting menuju struktur ekonomi yang lebih berimbang.

Namun arah perubahan ini, menurut BPS, hanya bisa berkelanjutan jika investasi hilirisasi, peningkatan kapasitas industri, dan penguatan sektor produksi lain berjalan seiring. (rd)

Editor : Romdani.
#hilirisasi batu bara #ibu kota nusantara #tambang batu bara #Ekonomi Kaltim 2025 #Kutai Barat #batu bara