Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menguak "Dunia yang Hilang", Sumba Rumah Purba Gajah Mini hingga Komodo, Atlantis Ditemukan di Dekat Spanyol

Ari Arief • Minggu, 7 Desember 2025 | 17:19 WIB

INTEGRASI: KKP akan membangun tambak budidaya udang terintegrasi (ISF) di Sumba Timur, NTT.
INTEGRASI: KKP akan membangun tambak budidaya udang terintegrasi (ISF) di Sumba Timur, NTT.

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Sebuah temuan ilmiah terbaru mengungkap fakta mengejutkan mengenai Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau ini ternyata pernah menjadi "rumah besar" bagi beragam megafauna purba yang kini telah punah ribuan tahun lalu. Temuan ini memunculkan hipotesis bahwa Sumba adalah sebuah "dunia yang hilang" di masa lampau.

Hewan-hewan purba yang pernah menghuni Sumba meliputi gajah mini, berbagai jenis tikus, kadal raksasa, dan bahkan spesies Komodo.

Sumba sebagai Gudang Fosil Wallacea

Pernyataan tersebut terungkap dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B. Laporan ini didasarkan pada penemuan fosil hewan-hewan tersebut, yang diperkirakan hidup di Sumba sekitar 12.000 tahun lalu, sebagaimana dikutip dari Mongabay.

Laporan penelitian tersebut menguatkan kemungkinan bahwa Sumba merupakan habitat asli bagi spesies-spesies langka. Hal ini diperkuat dengan penemuan fosil Komodo, spesies kadal raksasa yang saat ini hanya dapat ditemukan secara alami di Pulau Komodo dan Flores.

Baca Juga: Viral! Oknum Polda NTT Pukuli Dua Siswa SPN Kupang, Dua Pelaku Diamankan Propam

Temuan ini memicu asumsi bahwa Komodo, hewan langka yang ada saat ini, mungkin saja berasal dari Sumba.

Ekspedisi penelitian terhadap fauna punah ini dilaksanakan antara tahun 2011 hingga 2014 oleh tim peneliti dari Zoological Society of London (ZSL). Mereka mengumpulkan fosil dari Sumba, yang merupakan bagian dari kepulauan yang secara biologis dikenal sebagai Wallacea.

Kawasan Wallacea dinamai dari biolog Alfred Russel Wallace, yang pada abad ke-19 pertama kali membatasi wilayah tersebut berdasarkan distribusi spesies hewan di Indonesia.

Wilayah yang termasuk dalam Wallacea meliputi Sumba, Sulawesi, Lombok, Flores, Halmahera, Buru, dan Seram. Wilayah ini semakin populer di dunia sains sejak tahun 2004, ketika para arkeolog mengumumkan penemuan fosil makhluk punah yang dijuluki "hobbit" (Homo Floresiensis) di Flores, sebuah pulau di utara Sumba.

Hingga kini, riset yang berfokus pada Sumba masih tergolong minim. Survei tentang fosil maupun kehidupan liar di pulau tersebut belum banyak dilakukan.

"Mungkin karena terlalu banyak pulau di Indonesia yang perlu dipelajari. Masih sedikit biolog atau paleontolog yang mengkhususkan diri pada wilayah yang sangat beragam di Indonesia ini," kata Samuel Turvey, salah satu anggota peneliti dari ZSL.

Baca Juga: Koni Kaltim Finalisasi Program Kerja 2026 dan Road Map 3 Besar PON 2028 NTB-NTT; Acuan Strategis Pembinaan demi Target Tiga Besar Nasional

Para ilmuwan berharap adanya penelitian lanjutan di Sumba dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai evolusi spesies di area tersebut. Turvey menambahkan, "Penemuan di area ini dapat membuka wawasan yang menakjubkan tentang dunia yang telah hilang.

Banyak hewan yang berevolusi di kepulauan Wallacea yang terisolasi kemudian punah seiring dengan hadirnya peradaban manusia modern."

Penemuan Atlantis di Lepas Pantai Spanyol

Misteri "dunia yang hilang" tidak hanya terbatas di Indonesia. Ternyata, Spanyol juga menyimpan rahasia sejarah yang perlu diselidiki lebih lanjut.

Dalam sebuah penelitian terbaru, lokasi yang diduga kuat sebagai asal mula legenda Atlantis berhasil ditemukan di dekat Kepulauan Canary, Spanyol. Penemuan ini merujuk pada beberapa pulau yang kini berada di bawah permukaan laut.

"Ini mungkin menjadi asal mula legenda Atlantis," ungkap Luis Somoza, kepala proyek yang meneliti aktivitas gunung berapi di Kepulauan Canary, seperti dilansir dari Live Science.

Lokasi yang dimaksud adalah Gunung Los Atlantes, sebuah gugusan pulau yang eksis selama zaman Eosen, yaitu sekitar 56 juta hingga 34 juta tahun yang lalu. Namun, karena aktivitas vulkanik berhenti dan lavanya memadat, pulau-pulau tersebut perlahan tenggelam.

Baca Juga: Megaproyek Pariwisata Mesir di Gunung Sinai Picu Kontroversi, Diduga Rusak Situs Warisan Dunia UNESCO

Gunung Los Atlantes adalah gugusan pulau paling timur dari Kepulauan Canary, terletak pada gunung bawah laut tidak aktif dengan diameter 50 kilometer dan berada 2,3 kilometer di bawah permukaan laut.

"Ini adalah pulau-pulau di masa lalu yang tenggelam. Sekarang mereka masih berada di bawah air, persis seperti yang dikisahkan dalam legenda Atlantis," imbuhnya.

Para peneliti menemukan situs tersebut saat menjelajahi dasar laut di lepas pantai timur Lanzarote. Mereka menggunakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (remotely operated vehicle/ROV) untuk menyurvei kedalaman antara 100 hingga 2.500 meter (330 hingga 8.200 kaki).

Baca Juga: Konflik Lahan dan Dugaan Pelanggaran Hukum Guncang Sepaku, KTH PBJM Tolak Keras Pengukuhan Pokdarwis Gunung Parung

Tim berhasil mengidentifikasi struktur yang menyerupai sisa-sisa pantai, tebing, dan bukit pasir di lokasi tersebut. Lapisan pasir yang menutupi batuan vulkanik kemungkinan telah mengendap saat pulau-pulau tersebut mulai tenggelam.

Beberapa bagian pantai ditemukan tidak tenggelam terlalu dalam, dengan kedalaman sekitar 60 meter di bawah permukaan laut. Para peneliti menduga, gunung berapi tidak aktif ini dulunya sempat menjadi pulau saat permukaan air laut turun drastis selama zaman es terakhir. Setelah zaman es berakhir dan permukaan air laut naik, pulau tersebut akhirnya terendam.

"Pulau-pulau ini pada masanya dihuni oleh beragam satwa liar," pungkas Somoza.

Dua temuan mengenai "dunia yang hilang"—dari warisan fauna purba di Sumba hingga dugaan Atlantis di Spanyol—menunjukkan pentingnya riset mendalam untuk mengungkap sejarah bumi dan evolusi kehidupan masa lalu.(*)

Editor : Hernawati
#dunia yang hilang #komodo #purba #Gajah mini #ntt