Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Menuju PD III? Maduro Balas Pengerahan AS dengan Pelantikan Ribuan Tentara, Iran-China Beri Dukungan Penuh

Ari Arief • Minggu, 7 Desember 2025 | 17:17 WIB

MADURO: Presiden Venezuela Nicolas Maduro menghadiri upacara penutupan Kursus Operasi Khusus Revolusioner (COER).
MADURO: Presiden Venezuela Nicolas Maduro menghadiri upacara penutupan Kursus Operasi Khusus Revolusioner (COER).

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Venezuela secara resmi melantik sebanyak 5.600 prajurit baru pada Sabtu (6/12/2025). Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan militer dari Amerika Serikat (AS) terhadap negara produsen minyak tersebut.

Sebelumnya, Presiden Nicolas Maduro telah menyerukan percepatan rekrutmen militer sebagai respons atas pengerahan kapal perang dan kapal induk raksasa AS ke kawasan Karibia. Pengerahan ini dilakukan dengan dalih memerangi perdagangan narkoba.

Washington menuduh Maduro terlibat dalam "Kartel Matahari," yang bulan lalu telah ditetapkan AS sebagai organisasi teroris. AS juga dilaporkan telah melancarkan serangan mematikan terhadap setidaknya 22 kapal, yang menewaskan 83 orang.

Maduro berulang kali menegaskan bahwa langkah AS tersebut merupakan upaya terencana untuk menggulingkan pemerintahannya dan menguasai cadangan minyak Venezuela.

Baca Juga: Ancaman Perang di Depan Mata, Afghanistan dan Pakistan Gagal Sepakati Solusi Keamanan

"Dalam situasi apa pun, kami tidak akan membiarkan invasi oleh kekuatan imperialis," tegas Kolonel Gabriel Alejandro Rendon Vilchez dalam upacara pelantikan yang digelar di Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar di Caracas, seperti dikutip AFP, Minggu (7/12/2025).

Menurut data resmi, kekuatan militer Venezuela saat ini diperkirakan mencapai sekitar 200.000 tentara aktif dan 200.000 personel kepolisian.

Situasi Politik Internal dan Tahanan Politik

Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, situasi politik internal Venezuela turut memanas. Seorang mantan gubernur oposisi, Alfredo Diaz (55), dilaporkan meninggal dunia di dalam penjara pada hari Sabtu. Diaz ditahan atas tuduhan terorisme dan penghasutan menyusul gelombang penangkapan massal yang terjadi setelah sengketa hasil pemilu pada Juli lalu, di mana Maduro mengklaim masa jabatan ketiganya.

"Dia telah dipenjara dan ditahan dalam isolasi selama setahun; hanya satu kunjungan dari putrinya yang diizinkan," ungkap Alfredo Romero, Direktur LSM Foro Penal, sebuah organisasi yang fokus mendampingi tahanan politik.

Foro Penal mencatat adanya setidaknya 887 tahanan politik yang saat ini masih ditahan di Venezuela.

Baca Juga: Perang Dagang AS-China Tak Lagi Tarif, Tapi Adu Strategi Ekonomi

Dukungan Internasional bagi Caracas

Sebelumnya, Venezuela telah menerima dukungan terbuka dari dua kekuatan dunia, yaitu China dan Rusia, terhadap kepemimpinan Presiden Nicolas Maduro.

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara terpisah menyampaikan pesan solidaritas kepada Maduro. Dukungan ini datang pada saat hubungan antara Caracas dan Washington mencapai titik terburuknya dalam beberapa tahun terakhir, memberikan sinyal bahwa Venezuela tidak berjuang sendirian menghadapi tekanan dari Amerika Serikat.

Selain itu, Iran juga menyatakan sikap mendukung Venezuela. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkritik pendekatan intimidatif yang dilakukan AS terhadap Caracas.(*)

Editor : Hernawati
#perang #china #as #ancaman #venezuela