KALTIMPOST.ID, Sebuah kabar duka menyayat hati datang dari kawasan Cempaka Baru, Kemayoran. Pada Selasa sore, 9 Desember 2025, sebuah ruko di Jalan Suprapto hangus dilalap api.
Tragedi ini bukan hanya soal bangunan yang runtuh, melainkan hilangnya 22 nyawa yang terjebak di dalamnya.
Dugaan sementara menyebutkan, ledakan baterai drone saat jam istirahat menjadi pemicu api yang merambat begitu cepat.
Namun, di balik garis polisi dan puing-puing yang menghitam, banyak yang belum tahu bahwa gedung tersebut adalah markas dari sebuah entitas bisnis kelas dunia.
Perusahaan yang menjadi korban musibah ini bukanlah pemain baru, melainkan "raksasa" dalam dunia teknologi tanpa awak. Perusahaan seperti apakah Terra Drone?
Raksasa Teknologi Asal Jepang
Banyak yang terkejut ketika mengetahui bahwa ruko tersebut ditempati oleh Terra Drone, sebuah nama besar di kancah internasional.
Berdasarkan penelusuran profil perusahaan, Terra Drone bukanlah bisnis lokal biasa.
Mereka adalah pemain global yang bermarkas di Jepang. Sejak berdiri pada 2016, mereka telah merajai pasar layanan pesawat tanpa awak (UAV).
"Terra Drone dikenal sebagai pionir dalam memadukan teknologi canggih dengan jaringan lokal melalui akuisisi dan kemitraan strategis di berbagai negara," demikian tertulis dalam profil resmi perusahaan.
Hingga tahun 2025 ini, jejak kaki mereka telah tertancap di lebih dari 25 negara. Sebuah skala bisnis yang masif untuk sebuah kantor yang kini tinggal puing.
Baca Juga: Menhan Sjafrie Buka Suara Soal Bantuan Asing ke Aceh: Bukan Bantuan Negara, Tapi...
Transformasi di Indonesia: Dari Aero Geosurvey ke Terra Drone
Di Indonesia, perusahaan ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Sebelum dikenal dengan nama besar Terra Drone Indonesia (TDID), mereka beroperasi dengan nama PT Aero Geosurvey Indonesia sejak 2016.
Titik baliknya terjadi pada tahun 2019. Saat itu, perusahaan induk dari Jepang menyuntikkan dana segar, yang mengubah wajah perusahaan lokal ini menjadi bagian dari jaringan global.
"Tahun 2019, masuk pendanaan dari Terra Drone Corporation Jepang. Akhirnya, terjadi perubahan nama perusahaan menjadi PT Terra Drone Indonesia," sebut catatan sejarah perusahaan tersebut.
Melayani "Raja-Raja" Industri
Reputasi Terra Drone di Indonesia sangat mentereng. Mereka tidak hanya menerbangkan drone untuk memotret pemandangan, tetapi melakukan pekerjaan-pekerjaan rumit dan berisiko tinggi yang sulit dilakukan manusia.
Bayangkan saja, klien mereka adalah deretan perusahaan paling vital di negeri ini. Mulai dari sektor minyak, gas, hingga pertambangan.
Baca Juga: Gempa M 5,4 Guncang Sinabang, BMKG Ungkap Temuan Penting
Berdasarkan data operasional perusahaan, berikut adalah beberapa "raksasa" yang menggunakan jasa mereka:
- Pertambangan: PT Freeport Indonesia dan PT Bukit Asam.
- Konstruksi: Wijaya Karya (Wika) dan Hutama Karya.
- Minyak & Gas: Pertamina, Chevron, hingga ADNOC.
- Listrik: PLN (untuk memantau kabel dan gardu listrik di area sulit).
- Perkebunan: Sinar Mas dan Eagle High Plantation.
Teknologi mereka digunakan untuk memetakan wilayah tambang yang luas, memeriksa pipa gas yang berbahaya, hingga memantau jutaan hektare kebun sawit dari udara.
"Dalam lima tahun terakhir, TDID mencatat telah menyelesaikan survei udara untuk lebih dari 600 ribu hektare konsesi dan 2.500 kilometer koridor jaringan," ungkap data portofolio perusahaan.
Teknologi yang "Melihat" Apa yang Tak Terlihat
Salah satu alasan mengapa Terra Drone begitu disegani adalah teknologi canggih yang mereka bawa.
Sejak 2020, mereka tidak hanya melihat dari atas, tapi juga "menembus" ke dalam.
Baca Juga: Bahaya Megathrust, Mengapa Para Pakar Kembali Mengingatkan? BMKG Ungkap Lubang Besar dalam Mitigasi
Mereka mengembangkan drone yang dilengkapi Ground Penetrating Radar (GPR) dan Ultrasonic Testing.
Sederhananya, alat ini bisa mendeteksi apa yang ada di balik tanah atau di dalam beton tanpa harus membongkarnya.
Kini, perusahaan dengan segudang prestasi dan teknologi mutakhir tersebut sedang menghadapi ujian terberatnya.
Musibah di Kemayoran ini menjadi catatan kelam di tengah reputasi gemilang yang telah mereka bangun selama hampir satu dekade. ***
Editor : Dwi Puspitarini