KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Para arkeolog bawah air baru-baru ini mengumumkan penemuan reruntuhan kapal pesiar dari zaman Mesir kuno yang diperkirakan berusia 2.000 tahun di perairan dekat Alexandria.
Menurut laporan dari CBS News, tim penyelam dari European Institute for Underwater Archaeology (IEASM) menemukan bangkai kapal yang memiliki panjang lebih dari 115 kaki dan lebar sekitar 23 kaki. Kapal tersebut teronggok di dasar laut pelabuhan Pulau Antirhodos.
Lambung kapal itu dihiasi grafiti dalam bahasa Yunani yang diperkirakan berasal dari paruh pertama abad pertama Masehi. Keberadaan grafiti ini menguatkan dugaan bahwa kapal tersebut dibuat di Alexandria.
Kota Alexandria didirikan oleh Alexander Agung pada tahun 331 SM. Akibat serangkaian gempa bumi dan gelombang pasang, wilayah pesisir mengalami penurunan tanah, termasuk Pulau Antirhodos yang tenggelam dan baru ditemukan kembali pada tahun 1996.
Baca Juga: Kunjungan Kapal di Balikpapan Naik Tajam, BPS: Arus Logistik Laut Makin Intens pada Oktober 2025
Selama bertahun-tahun, lokasi ini telah menjadi sumber penemuan berharga, termasuk patung, koin, dan beragam artefak lain yang kini sebagian dipamerkan di Museum Greco-Romawi di Alexandria.
Franck Goddio, Direktur IEASM, belum lama ini merilis laporan yang membahas Antirhodos dan Kuil Isis, berdasarkan eksplorasi bawah air yang mereka mulai sejak era 1990-an.
Institusi yang berpusat di Alexandria ini menyatakan bahwa perahu itu "diyakini memiliki kabin yang didekorasi mewah dan tampaknya sepenuhnya digerakkan dengan dayung," (Senin, 8 Desember 2025).
Goddio menyampaikan kepada The Guardian bahwa penemuan ini sangat menarik karena "ini adalah pertama kalinya kapal semacam itu ditemukan di Mesir."
"Kapal-kapal seperti ini pernah disebut oleh penulis kuno, seperti Strabo, dan juga digambarkan dalam beberapa karya seni—contohnya, pada mosaik Palestrina, di mana kapal serupa dengan ukuran lebih kecil terlihat membawa bangsawan yang sedang berburu kuda nil. Namun, (kapal aslinya) belum pernah ditemukan sebelumnya," jelas Goddio.
IEASM berharap bahwa penelitian mendalam terhadap bangkai kapal ini "akan menawarkan pemahaman baru yang berharga tentang kehidupan, praktik keagamaan, dan jaringan jalur air di masa Mesir Romawi."
Meskipun Alexandria kaya akan reruntuhan kuno dan harta karun, kota terbesar kedua di Mesir ini sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut. Tanah di kota ini mengalami penurunan lebih dari tiga milimeter setiap tahunnya.
Teluk di Alexandria sendiri telah menyimpan beberapa bangkai kapal lain, termasuk sisa-sisa armada Napoleon dari Pertempuran Sungai Nil pada tahun 1798.
Baca Juga: Arus Mudik Nataru di Loktuan Diprediksi Membludak, Tiket Kapal Sudah Habis Jauh Hari
Sebelumnya pada tahun ini, IEASM juga telah menemukan kapal lain berukuran sekitar 20 kaki dalam kondisi baik di pelabuhan timur Alexandria, sebagaimana dilaporkan oleh sebuah podcast dari Hilti Foundation.
Pada bulan Agustus, para arkeolog juga mengumumkan bahwa patung, koin Romawi, dan artefak lain telah berhasil diangkat dari Laut Mediterania di dekat Alexandria.
Otoritas berpendapat bahwa lokasi tersebut kemungkinan merupakan perluasan dari kota kuno Canopus, yang dulunya adalah pusat penting selama dinasti Ptolemaik (yang memerintah Mesir selama hampir 300 tahun) dan Kekaisaran Romawi (yang berkuasa sekitar 600 tahun).
Pengumuman mengenai kapal pesiar kuno ini muncul hanya beberapa hari setelah para arkeolog menguak penemuan 225 patung pemakaman kecil di dalam sebuah makam di ibu kota Mesir kuno, Tanis, yang terletak di Delta Nil.(*)
Editor : Hernawati