Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Bulan Menjauh, Warisan Kosmik Manusia Terancam Pudar, Masa Depan Tanpa Gerhana Matahari Total

Ari Arief • Sabtu, 13 Desember 2025 | 13:11 WIB

Bulan
Bulan

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Jarak antara Bumi dan satelit alaminya, Bulan, bukanlah jarak yang konstan. Seiring waktu, para ilmuwan telah mendeteksi adanya pergeseran yang signifikan  Bulan secara bertahap menjauh dari planet Bumi.

Perubahan orbit ini terbukti melalui serangkaian pengukuran presisi tinggi, terutama berkat Eksperimen Jangkauan Laser Bulan (Lunar Laser Ranging Experiment). Dalam misi Apollo pada tahun 1960-an dan 1970-an, para astronot telah memasang reflektor di permukaan Bulan.

Baca Juga: Sempat Kabur ke Situbondo, Ini Kisah Ustaz Sahnan Ditangkap Setelah Vonis Kebiri Kimia Menanti

Dengan mengukur waktu yang dibutuhkan sinar laser untuk dipantulkan kembali dari reflektor tersebut, para ilmuwan dapat menentukan jarak antara kedua benda angkasa dengan sangat akurat.

Hasil pengukuran yang dilakukan berulang kali menunjukkan bahwa Bulan bergerak menjauhi Bumi dengan laju sekitar 3,8 sentimeter (1,5 inci) per tahun. Data ini dikumpulkan dan dilaporkan, salah satunya oleh IFL Science pada Kamis (11/12/2025).

Menghilangnya Gerhana Matahari Total

Laju pergerakan Bulan yang lambat namun konsisten ini membawa dampak jangka panjang yang signifikan bagi Bumi, terutama pada fenomena alam yang paling spektakuler: Gerhana Matahari Total.

Karena Bulan menjauh, ukurannya dari perspektif Bumi akan tampak semakin kecil. Saat ini, kita beruntung karena diameter Matahari dan diameter Bulan yang terlihat dari Bumi memiliki ukuran yang hampir sama. Hal ini terjadi karena, meskipun Matahari sekitar 400 kali lebih besar dari Bulan, jaraknya ke Bumi juga sekitar 400 kali lebih jauh daripada jarak Bumi ke Bulan.

Baca Juga: Viral 1 Menit 28 Detik! Klaim Menkeu Setarakan Gaji Guru & PNS dengan DPR Dibantah Kemenkeu

Kesamaan visual yang sempurna inilah yang menciptakan Gerhana Matahari Total yang memukau, di mana Bulan dapat menutupi seluruh piringan Matahari. Namun, situasi ini tidak akan bertahan selamanya.

Ilmuwan NASA, Richard Vondrak, pernah menyatakan pada tahun 2017 bahwa frekuensi dan jumlah Gerhana Matahari Total akan terus berkurang seiring berjalannya waktu. "Sekitar 600 juta tahun lagi, Bumi akan menyaksikan keindahan gerhana matahari total untuk yang terakhir kalinya," kata Richard Vondrak.

Dahulu kala, empat miliar tahun yang lalu—sebelum Bulan bergeser ke orbitnya saat ini—Bulan terlihat tiga kali lebih besar dari ukurannya saat ini, membuat gerhana Matahari yang terjadi pada masa itu jauh lebih masif.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#gerhana #satelit #bulan #bumi #fenomena alam