KALTIMPOST.ID-Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Kutai Timur (Kutim). Enam kecamatan tercatat terdampak sejak awal bulan ini, yakni Karangan, Muara Wahau, Kongbeng, Telen, Batu Ampar, dan Bengalon.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menegaskan bahwa banjir besar yang terus berulang tak lagi bisa dicegah sepenuhnya.
Pemerintah, kata dia, hanya mampu meminimalkan dampaknya. “Itu pola tahunan. Tidak bisa mengendalikan. Yang bisa kita lakukan hanya meminimalisir dampaknya,” ujarnya.
Ia menyebut curah hujan ekstrem sebagai penyebab utama banjir di beberapa daerah, termasuk wilayah yang tidak memiliki aktivitas tambang.
“Sungai Wahau itu tidak ada tambang. Di hulunya banjir juga. Memang curah hujan sangat tinggi tahun ini,” ucapnya.
Namun khusus Sangatta, Mahyunadi menilai penanganan harus berbeda. Salah satunya melalui normalisasi Sungai Sangatta dan Sungai Bengalon.
Ia menyinggung bahwa keberadaan perusahaan tambang tak bisa dilepaskan dari perubahan kondisi lingkungan. “Maka, Sangatta dan Bengalon yang ada tambangnya perlu normalisasi,” katanya.
Mahyunadi secara terbuka menyebut perusahaan tambang sebagai pihak yang mestinya ikut bertanggungjawab. “Kalau saya maunya, yang bikin masalah yang tanggung jawab (perusahaan),” tegasnya.
Dikatakan, tim dari Dinas Lingkungan Hidup Kutim baik dari provinsi maupun kabupaten sudah berkali-kali turun melakukan peninjauan.
Namun hasil evaluasi resmi selalu menyimpulkan bahwa aktivitas tambang bukan penyebab banjir.
Meski begitu, Mahyunadi menegaskan pandangan berbeda. Penilaiannya, kata dia, berangkat dari pengalaman panjang sebagai warga Sangatta. “Saya orang Sangatta sejak tahun 70-an. Dulu tidak begini sebelum ada tambang,” ujarnya.
Menurutnya, dulu banjir hanya terjadi saat hujan berlangsung lama. Kini, hujan satu hingga dua jam saja sudah cukup membuat Sungai Sangatta meluap. (rd)
Editor : Romdani.